Mushaf ini merupakan warisan Keslutanan Sumbawa, disimpan di Balla Kuning, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Disalin oleh Muhammad bin Abdullah al-Jawi al-Bugisi pada 28 Zulqa’dah 1199 H (2 Oktober 1785). Ukuran 35 x 22 cm, kertas Eropa, 15 baris tulisan per halaman. Mushaf ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk menulis kepala surah, tanda tajwid, catatan hadis keutamaan surah, dan ‘ain ruku’. Sampul aslinya adalah kulit dengan hiasan cap yang disepuh tinta emas. Sekitar tahun 2013 mushaf lengkap 30 juz ini dikonservasi di Perpustakaan Nasional RI. Semua halaman dilaminasi, dan naskah dijilid ulang dengan lapisan karton.

Iluminasi terdapat di awal, tengah, dan akhir mushaf. Iluminasi tengah mushaf terdapat di Surah al-Kahf. Medalion di pias luar halaman menghiasi tanda juz, nisf, rubu’, dan sumun. Kaligrafi teks Al-Qur’an berkarakter tegas dengan garis vertikal tulisan tipis dan garis horizontal tebal. Mushaf ini merupakan warisan kesultanan, disalin di negeri Sumbawa pada zaman Maulana Sultan Muhammad Harun ar-Rasyid bin Sultan Muhammad Iqamuddin bin Sultan Muhammad Abdurrahman (memerintah 1777-1791). Dalam redaksi kepala surah terdapat kata āyātuhā, kalimātuhā, ḥurūfuhā, tanzīluhā, disertai angka jumlah masing-masing, yang selalu ditulis dalam dua baris.

Di bagian depan, sebelum teks Al-Qur’an, terdapat catatan kaidah qiraat dua halaman, sedangkan di akhir mushaf terdapat halaman kolofon dan penjelasan tentang penyalinan mushaf, mencakup penggunaan qiraat dan tanda tajwid. Di situ disebutkan, dalam bahasa Arab, bahwa tinta hitam digunakan untuk menulis teks utama dengan riwayat Qalun dari Nafi’, tinta merah digunakan untuk menulis riwayat ad-Duri dari Abu Amr, dan tinta hijau untuk menulis riwayat Hafs dari ‘Asim. Aturan penggunaan tiga jenis tinta ini sama dengan sebuah mushaf di Sulawesi Barat, meskipun redaksi bahasa Arab yang digunakan tidak sama. Pojok bawah halaman sebelah kiri dan kanan mushaf kotor, menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini dahulu sering dibaca. [aa]