Untuk mendaftar user dan mengunduh file pdf, silakan klik di sini
Anda berada di: Beranda Artikel Mushaf Standar Mengenal Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMA), Kementerian Agama RI

Mengenal Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMA), Kementerian Agama RI

Cetak PDF

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (selanjutnya disebut “Lajnah”) adalah Unit Pelaksana Teknis Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan (PMA No.3/2007). Dalam PMA No.1/1982, Lajnah didefinisikan sebagai lembaga pembantu Menteri Agama dalam bidang pentashihan mushaf Al-Qur’an, terjemahan, tafsir, rekaman, dan penemuan elektronik lainnya yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Sejak berdiri tahun 1957, hingga 2007, setidaknya telah terbit 9 peraturan/keputusan/intsruksi Menteri Agama yang terkait dengan tugas dan fungsi Lajnah. Peraturan/keputusan tersebut antara lain Peraturan Menteri Agama (PMA) No.1/1957; PMA No. 11/1959; Instruksi Menteri Agama (IMA) No. 2/1982; PMA No. 1/1982; Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 25/1984; IMA No.7/1984; PMA No. 3/2007 dan KMA No. 45/2007.

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an terbentuk berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI (saat itu dijabat oleh KH M. Iljas) No.1 Tahun 1957 yang berisi tentang Pengawasan terhadap Penerbitan dan Pemasukan Al-Qur’an. Pada fase ini, yang dipercaya sebagai ketua Lajnah adalah H. Abu Bakar Aceh.

Beberapa tahun sebelum lahirnya Lajnah berdiri suatu lembaga dengan fungsi yang sama, yaitu Lajnah Taftisy al-Masahif al-Syarifah pada tahun 1951. Lembaga ini dipimpin oleh Prof. KH. Muhammad Adnan, beranggotakan beberapa ulama Al-Qur’an waktu itu, seperti KH. Ahmad al-Badawi, KH. Musa al-Mahfudz, KH. Abdullah Afandi Munawwir, KH. Abdul Qodir Munawwir, KH. Muhammad Basyir, KH. Ahmad Ma’mur, KH. Muhammad Arwani, KH. Muhammad Umar Kholil, dan KH. Muhammad Dahlan.

Pada tahun 1959, berdasarkan Peraturan Menteri Muda Agama, KH. Wahib Wahab terbit peraturan Nomor 11/1959 yang mengatur tentang Lajnah (Panitia Pentashih Mushaf Al-Qur’an). Dalam PMA ini diputuskan beberapa hal, di antaranya ketentuan bagi para anggota Lajnah, termasuk ketua, diangkat dalam jangka waktu empat tahun, dan sehabis masa itu dapat diangkat kembali. Pengangkatan dan pemberhentian ketua dan anggota dilakukan oleh Menteri Muda Agama.

Selanjutnya, pada tahun 1982, berdasarkan Instruksi Menteri Agama H. Alamsyah Ratuperwiranegara terbit instruksi No.2/1982 yang mengatur Pengawasan terhadap Penerbitan dan Pemasukan Mushaf Al-Qur’an. Di antara peraturan yang diundangkan adalah instruksi untuk mengawasi dan meneliti semua jenis peredaran mushaf Al-Qur’an, apakah sebuah mushaf sudah memiliki tanda tashih atau belum. Perkembangan selanjutnya, pada tahun yang sama, keluar PMA No. 1/1982 yang mengatur tentang Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an, sekaligus mencabut PMA Nomor 11/1959.

Tonggak baru eksistensi Lajnah semakin terkukuhkan sejak tahun 1984. Tepatnya setelah terbit KMA No.25/1984 terkait penetapan Mushaf Standar Indonesia. Mushaf inilah yang sejak masa itu hingga sekarang menjadi rujukan Lajnah dalam kegiatan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Penetapan Mushaf Standar Indonesia sebagai pedoman pentashihan bagi Lajnah kemudian dikuatkan dengan Instruksi Menteri Agama (IMA) No. 07/1984, pada masa menteri H. Munawir Sadzali.

Pada tahun 2007 terbit PMA No.3/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Pada fase ini, definisi Lajnah yang sebelumnya didefinisikan sebagai “lembaga pembantu Menteri Agama dalam bidang pentashihan mushaf Al-Qur’an, terjemahan, tafsir, rekaman dan penemuan elektronik lainnya yang berkaitan dengan Al-Qur’an”, diubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan.

PMA No.3/2007 selain mengubah kedudukan, tugas, dan fungsi Lajnah, juga mengubah struktur anggota Lajnah yang pada masa sebelumnya berbentuk panitia (ad-hoc) yang diangkat oleh Menteri Agama. Sejak tahun 2007, Lajnah berubah menjadi Satuan Kerja (Satker) tersendiri di bawah Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Para pentashih mushaf Al-Qur’an sejak masa ini tidak lagi diangkat setiap empat tahunan seperti para anggota tashih sebelumnya, tetapi ditetapkan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Berikut ini adalah ketua/kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an sejak awal berdiri tahun 1957 hingga sekarang:

  1. H. Abu Bakar Aceh, tahun 1957-1960;
  2. H. Ghazali Thaib tahun 1960-1963;
  3. H. Mas’udin Noor, tahun 1964-1966;
  4. H. A. Amin Nashir, tahun 1967-1971;
  5. H.B. Hamdani Ali, MA, M.Ed, tahun 1972-1974;
  6. H. Sawabi Ihsan, MA, tahun 1975-1978;
  7. Drs. H. Mahmud Utsman, tahun 1979-1981;
  8. H. Sawabi Ihsan, MA, tahun 1982-1988;
  9. Drs. H. Abdul Hafidz Dasuki, MA, tahun 1988-1998;
  10. Drs. H.M. Kailani Eryono, tahun 1998-2001;
  11. Drs. H. Abdullah Sukarta, tahun 2001-2002;
  12. Drs. H. Fadhal AR Bafadal, M.Sc, tahun 2002-2007;
  13. Drs. H. Muhammad Shohib, MA, tahun 2007-sekarang.

Ayat Hari ini

2:183 Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

 
fbPixel