Mushaf Al-Qur’an “Kuno-kunoan”

Sekitar April 2009 masyarakat pernah dihebohkan dengan munculnya sebuah mushaf Al-Qur’an (dan sebilah pedang) secara “tiban” (ujug-ujug ada) di sebuah masjid kampung di Banten. Kabar tersebut waktu itu cukup menghebohkan, dan sempat membikin ‘repot’ pihak-pihak yang berwenang. Kabar lainnya, seseorang datang ke sebuah museum membawa sebuah mushaf, dan secara ‘meledak-ledak’ mengatakan bahwa mushaf yang dibawanya itu muncul secara tiba-tiba bersamaan dengan halilintar yang menyambar! Wah! Satu lagi, seseorang dari Cirebon menawarkan sebuah mushaf melalui email, dan mengatakan bahwa mushaf yang ditawarkannya itu diperoleh dari tirakat di makam Sunan Gunung Jati bersama beberapa ulama Cirebon!

Jika Anda mendengar cerita heboh seperti itu, sebaiknya jangan buru-buru percaya. Sebab, itu adalah salah satu tanda mushaf “kuno-kunoan” – artinya, sebuah mushaf yang kekunoannya itu ‘seakan-akan’, atau dengan kata lain, ‘seakan-akan kuno’. Sejak sekitar empat tahun terakhir ini, penulis menginventarisasi ada belasan mushaf seperti itu yang ditemukan di Jakarta, dan telah tersebar pula di beberapa daerah, di antaranya, Kalimantan dan Papua. Yang tidak ‘terdeteksi’, sangat mungkin, lebih banyak.

Sebuah “mushaf kuno-kunoan” yang dipajang di dalam kotak kaca, di sebuah masjid di Kalimantan.

Ada beberapa ciri mushaf seperti itu. Pertama, biasanya kertas yang digunakan adalah semacam kertas semen, atau sering disebut kertas samson. Kertas kecoklatan itu memang mengesankan kuno, dan bagian pinggir biasanya dibuat agak ‘berantakan’, artinya tidak dipotong rapi, dan kadang-kadang sedikit dihanguskan, agar terkesan dari abad lampau. Bagi orang yang sering melihat naskah kuno, bagaimanapun, akan melihat perbedanya dengan kertas Eropa yang memang dulu banyak digunakan di Nusantara. Dr Russell Jones, seorang ahli kertas Eropa, dalam kesempatan kunjungan ke Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal tahun 2010, ketika melihat sebuah mushaf ‘kuno-kunoan’ tertegun, dan mengatakaan bahwa kertas yang digunakan itu bukanlah kertas Eropa, melainkan kertas karton biasa.

Ciri kedua, perwajahan. Agar tersesan kuno, mushaf yang kadang-kadang ditawarkan dengan harga selangit itu, meniru perwajahan dan tataletak mushaf kuno. Iluminasi terdapat di halaman awal, tengah, dan akhir mushaf. Corak iluminasinya seperti mushaf dari masa lampau, yang memang sudah tidak digunakan lagi pada mushaf-mushaf dewasa ini. Nomor ayat juga tidak dicantumkan. Ciri-ciri perwajahan yang ‘seakan-akan kuno’ itu mungkin akan mudah ‘mengelabuhi’ kebanyakan orang yang tidak biasa bergelut dengan naskah atau mushaf kuno.

Ciri ketiga, goresan ‘pena’ dan tinta. Sebenarnya, inilah yang paling mudah untuk ditandai. Entah kenapa – barangkali ini ‘kekhilafan’ pembuatnya – alat tulis yang digunakan, biasanya, adalah spidol. Itu terlihat dari goresan ‘pena’ yang dihasilkannya, juga tintanya. Spidol yang digunakannya juga sering bukan jenis yang tebal-tipis. Ini yang membedakan, karena huruf Arab di Nusantara, pada masa lampau, baik untuk tulisan Jawi (Arab-Melayu) maupun Arab beneran seperti mushaf atau naskah keagamaan lainnya, hampir selalu ditulis dengan huruf tebal-tipis. Juga, jenis tinta seperti tinta spidol, dahulu jelas tidak pernah dipakai.

Sebuah “mushaf lontar kuno-kunoan”.

Selain dalam bentuk buku (codex), Al-Qur’an ‘kuno-kunoan’ juga muncul dalam bentuk salinan di atas daun lontar. Model ini sebenarnya agak ‘lucu’, karena berdasarkan penelusuran mushaf-mushaf kuno, sejauh ini tidak (atau belum) pernah ditemukan Al-Qur’an ditulis di daun lontar! Karena teks Al-Qur’an sangat panjang, memang rasanya kurang masuk akal jika ditulis pada bidang yang kecil, dan lagi, menulisnya pun pasti agak ‘repot’ karena menggunakan sejenis pisau dengan cara ditorehkan. Tentu huruf Arab tidak compatible untuk ditulis dengan benda yang runcing seperti itu, karena selama 14 abad huruf Arab tidak pernah ditulis dengan alat semacam itu untuk suatu teks yang panjang. Maka, jika “mushaf daun lontar” itu dibuat dengan sengaja untuk membuat kesan kuno suatu mushaf, agaknya itu karena “kurang riset”! Tambahan lagi, daun lontar yang digunakan dalam ‘mushaf lontar kuno-kunoan’ itu biasanya berwarna pucat, tidak ‘matang’. Bagi mereka yang sering melihat naskah lontar kuno pasti akan bisa membedakan.

***

Pulang dari penelitian tentang mushaf kuno, seorang kawan bercerita bahwa di lapangan dia bertemu dengan salah seorang pembuat mushaf ‘kuno-kunoan’, di suatu daerah. Kata kawan itu, si pembuat mushaf mengaku bahwa dia tidak bermaksud membuat mushaf yang seakan-akan kuno, apalagi berniat membohongi masyarakat, tetapi dia hanya membuat semacam barang unik, atau ‘antik’. Dia pun, ngakunya, menjual barang itu dengan harga murah, bukan ratusan juta, seperti yang ditawarkan oleh sebagian pedagang. Sepertinya, orang itu tidak salah juga ya?! Ok, anggaplah dia jujur dan tulus. Tetapi, tahukah dia bagaimana mushaf itu dijual oleh para pedagang kepanjangannya?

Seandainya pembuat mushaf kuno-kunoan itu memang benar-benar berniat baik, hanya ingin membuat barang unik, agar semuanya ‘enak’, tidak ada yang ‘terkibuli’, seharusnya dia mencantumkan pernyataan dengan jelas, di awal atau akhir mushaf karyanya itu, semacam kolofon, misalnya, “Mushaf ini adalah mushaf kuno-kunoan”. Tentu itu lebih fair, dan tidak akan ada cerita tentang “Qur’an tiban”, sambaran halilintar, atau tirakat di makam wali, untuk memperoleh mushaf Al-Qur’an.[]