Mushaf ini merupakan koleksi museum La Galigo Makassar Sulawesi Selatan. Di antara koleksi mushaf lainnya, mushaf ini merupakan mushaf dengan kondisi fisiknya paling baik. Cover dan kertasnya masih bagus, demikian juga tulisan teksnya masih cukup jelas, ditulis di atas kertas Eropa dengan cap kertas Crescent (NP ND)  Mobey Coll. Ukurannya 33 x 24 cm. Tebal mushaf 631 halaman, sekitar 7 cm. Warna tinta yang digunakan untuk menulis teks ayat, hitam dan merah, sedangkan untuk iluminasi menggunakan warna merah, kuning, hijau, biru dan hitam. Jumlah baris pada halaman biasa, 15 baris. Sistem penulisan menggunakan sistem pojok, yakni setiap akhir halaman diakhiri dengan ayat, dan kata alihan (catchword) terdapat pada akhir halaman sebelah kanan.

Ada sebuah pameo bagi pelancong ke Singapura: “Belum dikatakan berkunjung ke Singapura sebelum sampai ke Taman Merlion. Namun bagi sebagian kalangan, pameo ini diubah menjadi: “Belum dikatakan berkunjung ke Singapura jika tidak berkunjung ke Masjid Ba’alwi.

Sebagaimana umumnya, Masjid Baalwi yang terletak di daerah Perumahan Bukit Timah adalah salah satu masjid yang dijadikan sebagai tempat beribadah kaum muslim Singapura. Masjid ini didirikan oleh Habib Muhammad bin Salim bin Ahmad bin Hasan al-‘Aththas pada tahun 1952. Ia menjadi istimewa karena di samping sebagai sarana ibadah, masjid ini oleh pemiliknya sekarang, al-Habib Hasan bin Muhammad bin Salim bin Ahmad bin Hasan al-‘Aththas (anak dari pendiri masjid ini),  juga dijadikan sebagai museum, terutama tentang peradaban Islam. Dikatakan demikian, karena masjid ini tidak hanya mengoleksi berbagai benda peninggalan peradaban Islam dari berbagai belahan dunia, namun juga terdapat beberapa koleksi berupa Taurat (Kitab Perjanjian Lama) dan Injil (Kitab Perjanjian Baru). 

 

Secara mental, untuk menjadi seorang penashih Al-Qur'an yang baik dibutuhkan sikap ikhlas, teliti, ulet, sabar dan cinta kepada Al-Qur'an. Adapun secara empirik seorang penashih Al-Qur'an harus memeliki seperangkat pengetahuan khusus dalam kajian ulumul Quran, seperti: ilmu rasm, ilmu dhabt, ilmu waqaf ibtida', ilmu 'addil ay, ilmu qiraat, ilmu makky wal madani, dan sebagainya.

Seiring dengan berkembangnya tugas Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ), lembaga di bawah Kementerian Agama yang menjadi tempat penashih bertugas, mereka juga diharuskan menguasai pengetahuan teknis lainya di luar ulumul Qur'an, seperti ilmu penulisan Al-Qur'an Braille, penulisan Al-Qu'an transliterasi Arab-Latin dan penulisan Al-Qur'an sistem tajwid warna.

Provinsi Sulawesi Selatan memiliki koleksi mushaf kuno yang relatif banyak jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Pada penelitian tahun 2011 oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) ditemukan sembilan mushaf kuno di beberapa kota, yaitu tiga di Museum La Galigo Makassar, dua di Museum Balla Lompoa Gowa, dua koleksi pribadi di Sinjai, dan dua koleksi pribadi di Wajo. Meskipun penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti LPMQ baru menemukan sembilan mushaf kuno, namun potensi jumlah tersebut bisa bertambah seiring dengan informasi yang datang dari masyarakat.

 

Dalam mushaf Al-Quran cetak yang beradar saat ini, kita mengenal dua sistem penulisan rasm Al-Qur'an yang lazim digunakan. Pertama, sistem penulisan dengan rasm qiyasi atau rasm imla’i, yaitu penulisan kata sesuai dengan pelafalan atau bacaannya.

Namun, penting dicatat bahwa kata-kata yang sudah masyhur dan baku, seperti ar-rahman (الرحمن), as-salah (الصلوة), az-zakah (الزكوة), ar-riba (الربوا), dan beberapa kata lainnya, seperti zalika (ذلك), ha’ula’i (هؤلاء), maka penulisannya tetap sebagaimana tulisan yang masyhur, sehingga tidak berbeda dengan mushaf yang ditulis dengan rasm usmani.