Selain di Pulau Penyengat, manuskrip Al-Qur’an juga terdapat di Pulau Lingga. Di pulau ini jumlah manuskrip Al-Qur’an terbilang cukup banyak, terutama jika dibandingkan yang terdapat di Pulau Penyengat. Posisi geografis yang cukup jauh dari pusat kota dan pemerintahan Kepulauan Riau, membuat lalu lintas kunjungan ke Pulau Lingga tidak sebanyak ke Pulau Penyengat, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan pulau ini, seperti sejarah kesultanan, bekas reruntuhan bangunan, masjid, benda-benda peninggalan kesultanan lainnya, hingga manuskrip Al-Qur’annya, kurang dikenal luas oleh masyarakat sebagaimana Pulau Penyengat.

Ada pandangan umum yang berkembang di masyarakat yang menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an adalah 6.666 ayat. Dalam perbincangan di beberapa mailing list di internat, muncul pro dan kontra terkait angka ini. Beberapa kalangan mencoba bersikap objektif dengan merujuk riwayat dan beberapa kitab ulumul-Qur’an yang membahas ‘addul ayi (hitungan ayat), namun beberapa yang lain bersikap emosional dan bahkan menuduh bahwa jumlah hitungan di atas dihasilkan oleh “ulama palsu”. Bahkan yang tidak mau “ambil pusing” mengambil jalan pintas dan ‘prematur’, bahwa yang paling benar adalah 6.236 ayat sesuai dengan jumlah ayat yang dicetak oleh Saudi Arabia (Mushaf Madinah). Akibatnya, diskusi tentang jumlah ayat dalam 30 juz Al-Qur’an menjadi ajang debat kusir yang tidak jelas arahnya.

KH. Abdul Manan Syukur adalah putra keempat dari tujuh bersaudara, lahir dari pasangan KH. Abdul Syukur dan Nyai Hj. Mas‘adah pada tanggal 24 April 1925 di Desa Kraden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dia satu-satunya dari tujuh bersaudara yang hafal Al-Qur'an. Dari jalur ibunya, Kiai Manan generasi ke-9 dari Ki Ageng Kasan Besari, pendiri pesantren di Tegalsari, Ponorogo. Konon, pesantren inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya pesantren-pesantren di Pulau Jawa. Dari jalur ayahnya, Kiai Manan generasi ke-11 dari Sunan Bayat, salah satu tokoh penyebar Islam pada masa kerajaan Demak (abad ke-16). Kiai Manan menikah dengan Umi Hasanah di usia 29 tahun, pada Desember 1954. Pernikahan itu dikaruniai lima anak yang hafal Al-Qur'an, yaitu Hj. Maftuhah, Ummu Zahrah, H.M. Choirul Amin, Musyarafah, dan Nur Lailiyah, M.Si.

Sekitar 15 km ke arah timur kota Cirebon berdiri Pondok Pesantren Gedongan yang dirintis pada awal pertengahan abad ke-18 oleh KH M. Said, seorang kiai besar di Jawa Barat. Sejak didirikannya hingga tahun 1970 pesantren ini adalah pesantren kitab salaf. KH Abu Bakar Shofwan al-Hafiz memperistri cucu KH M. Said, Nyai Hj. Zaenab binti KH Siroj, dan kedatangannya ke P.P. Gedongan membawa warna baru, yaitu dengan didirikannya Madrasah al-Huffazh. Sebagai pengasuh Pesantren Tahfiz Al-Qur'an pertama di Cirebon, demikian kesaksian KH Said Aqil Siraj, Kiai Abu merupakan tokoh Al-Qur'an yang patut diteladani oleh generasi Al-Qur'an sekarang. Kesederhanaan dan rendah hati selalu tecermin dalam kehidupannya sehari-hari, baik dalam berkhidmat mengajar santri ataupun dalam melayani para tamu pesantren.

KH. Yusuf Junaedi lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, tahun 1921, dari pasangan Kiai Junaedi dan Nyai Hafsah. Tanggal dan bulan kelahirannya terdapat perbedaan, antara 5 Mei 1921 di Kartu Tanda Penduduk tahun 1973 dan 5 Maret 1921 di kartu peserta Taspen. Kiai Junaedi dikaruniai sembilan anak yang semuanya hafiz Al-Qur'an, dan KH. Yusuf Junaedi adalah anak yang kelima. Kesembilan anak Kiai Junaedi bernama Sonhaji Junaedi, Asy‘ari Junaedi, Zainal Abidin Junaedi, Ruqayah Junaedi, Yusuf Junaedi, Wahidatun Junaedi, Zahrotun Junaedi, Muwafiq Junaedi, dan Tahrir Junaedi. KH. Yusuf Junaedi diceritakan hafal Al-Qur'an saat berusia 9 tahun melalui KH. Ahmad Badawi. Pernikahan pertamanya bersama putri Kiai Mimbar, Kaliwungu tidak berlangsung lama, karena istrinya meninggal dunia saat melahirkan anaknya. Pernikahan keduanya bersama Hj. Asiyah pada sekitar tahun 1947 adalah ketika dia berguru ke kampung Karangjongkeng, Brebes.