Rekomendasi Seminar Al-Qur'an Internasional

Jakarta (01/09/2016) - Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, dengan memperhatikan pengarahan dan sambutan Menteri Agama RI, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, para narasumber, dan pemikiran yang berkembang dari para peserta, Seminar Internasional Al-Qur'an mencatat dan merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Para peserta bersepakat, sebagaimana kesepakatan umat Islam sejak masa Shahabat sampai masa kini, untuk menjadikan rasm (bentuk tulisan) dalam mashâhifusmaniyyah sebagai rujukan dan pedoman dalam penulisan mushaf Al-Qur'an, dengan tanda baca (syakl dan dhabth) dan tanda waqaf (waqf-ibtida) yang merujuk kepada sumber-sumber yang otoritatif.

Kedua, Sejak ditetapkannya Mushaf Standar Indonesia dalam Muker Ulama Al-Qur’an pada tahun 1983 dan dikukuhkan melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 25/1984 sebagai pedoman pentashihan dan penerbitan Al-Qur’an di Indonesia, mushaf ini belum pernah dikaji ulang. Upaya-upaya kajian secara parsial sudah dilakukan pada tahun 1999/2000 terkait rasm, dan pada tahun 2007 terkait penamaan surah dan penetapan makkiyyah-madaniyyah. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian secara komprehensif oleh sebuah tim yang terdiri dari para ulama Al-Qur’an yang kompeten, baik dari dalam maupun luar negeri, dalam rangka mengembangkan Mushaf Standar Indonesia dari berbagai aspeknya. Catatan yang disampaikan oleh para ulama dari berbagai negara terkait dengan teknis penulisan dalam mushaf Standar Indonesia menjadi masukan penting yang akan dipertimbangkan dalam pengembangan Mushaf Standar.

Ketiga, Mushaf al-Qur’an Standar Indonesia tidak hanya dipakai oleh masyarakat Muslim Indonesia, namun juga oleh masyarakat muslim di berbagai negara, terutama yang ada di Asia Tenggara. Mengingat adanya perbedaan dalam menetapkan mushaf standar, dan masing-masing negara memiliki kebijakan terkait pentashihan, percetakan dan pengawasan peredaran mushaf Al-Qur'an, maka perlu dibangun kesepahaman dan kerja sama antara Negara serumpun, baik melalui pertemuan formal maupun informal.Bahkan kerja sama pentashihan mushaf Al-Qur’an juga perlu dilakukan dengan negara-negara Islam di belahan dunia lainnya.

Keempat, Perhatian umat Islam Indonesia terhadap mushaf Al-Qur'an begitu sangat tinggi dalam hal bacaan, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Pembelajaran Al-Qur’an di berbagai lembaga pendidikan juga meningkat secara signifikan. Meski demikian, pengetahuan tentang aspek rasm, syakl-dhabth, waqaf-ibtida, `addulây (penghitungan ayat), qirâ`ât dan aspek teknis lainnya tidak banyak diketahui orang secara mendalam, dan tidak berkembang, termasuk di kalangan akademisi dan ulama Al-Qur’an. Oleh karenanya sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, pemerintah Indonesia perlu menghidupkan dan mengembangkan disiplin ilmu tersebut di berbagai lembaga pendidikan, serta mensosialisasikan-nya kepada masyarakat luas, antara lain dengan;

  1. Membuka lembaga pendidikan khusus studi Qira`at dan ilmu-ilmu Al-Qur`an seperti yang ada di beberapa negara Islam lainnya.
  2. Menambah cabang hafalan Al-Qur’an qira`atsab` (dengan juz tertentu) ditambah 30 juz Al-Qur`an riwayat hafsh, selain cabang qira`at tertentu dalam tilawah mujawwad, dalam Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ).
  3. Memperkenalkan ragam bacaan (qirâ`at) Al-Qur`an melalui radio, televisi media lainnya.

Kelima, Industri penerbitan mushaf Al-Qur`an berkembang dengan sangat dinamis, seiring perkembanganteknologidan informasi di era global.Inovasi dan kreativitas dalam penerbitan mushaf Al-Qur`an hendaknya dilakukan dengan tetap memperhatikan asas kepatutan yang sejalan dengan kesucian Al-Qur`an.  Kepentingan bisnis tidak boleh mengalahkan kesucian Al-Qur`an.

Keenam, Indonesia memiliki khazanah kebudayaan Islam berupa mushaf-mushaf al-Qur’an kuno. Mushaf-mushaf tersebut merekam data sejarah dan tradisi kealquranan masa lampau. Keberadaannya menyebar tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam yang memiliki akar sejarah serumpun. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Balitbang dan Diklat Kementerian Agama perlu melakukan kerjasama dokumentasi dan penelitian untuk mengungkap jaringan kealquranan nusantara sekaligus memperkaya data dan koleksi Bayt al-Qur’an. Akses seluas-luasnya perlu dibuka, dan kerja sama dengan berbagai pihak perlu dilakukan, sehingga data dan informasi khazanah kepustakaan dapat diperoleh dengan mudah.

Ketujuh, Selain aspek bacaan, tulisan mushaf Al-Qur’an merupakan aspek penting yang perlu dijaga kebenaran dan keindahannya. Oleh karena itu, pemerintah perlu melestarikan dan mengembangkan tradisi menulis Al-Qur’an secara baik, indah dan benar melalui; [1] Dukungan penuh terhadap pembelajaran khat/kaligrafi, dekorasi dan hiasan mushaf  Al-Qur’an di lembaga formal dan informal. [2] Gerakan Budaya Menulis Al-Qur`an di kalangan santri dan pelajar. [AHS]