Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) menyelenggarakan kegiatan desiminasi hasil kajian Al-Qur’an di Pondok Modern Mawaridussalam, Deli Serdang, Medan. Mengawali uraiannya, Dr. Muchlis M Hanafi, MA, selaku Kepala LPMQ menyampaikan data bahwa 50% dari pemeluk agama Islam di dunia ini mengalami buta huruf Al-Qur'an. Belum lagi soal pemaknaannya, soal pemahamannya, tentu lebih besar lagi.

Melanjutkan uraiannya, Muchlis megutip definisi literasi dari KBBI, yaitu “kemampuan menulis dan membaca pengetahuan sekaligus kemampuan individu dalam mengolah informasi untuk kecakapan hidup.”

"Persoalan literasi ternyata bukan sebatas kemampauan membaca. Lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana informasi atau pengetahuan itu dikelola menjadi kecapakan hidup," jelasnya di Medan, Selasa (30/10) pagi hari.

Dari sinilah sebetulnya pertanyaan tentang salah satu problem umat ini terjawab. "Mengapa seiring meningkatnya semangat keberagamaan masyarakat Indonesia, kok semakin gaduh? Mengapa kesadaran keberagamaannya meningkat, tapi gaduhnya bertambah? Di mana masalahnya?" Lanjutnya mempertanyakan.

Buru-buru alumni Gontor ini menjawab sendiri pertanyaan, "Jangan-jangan kegaduhan itu muncul karena semangat keagamaan masyarakat melebihi ilmunya. Ada semacam kegagalan literasi di sini," jelasnya di hadapan 120 orang peserta kegiatan.

Muchlis memberikan contoh, pada tahun 2010 LPMQ didatangi tokoh ormas Islam ternama, salah seorang tokohnya tiba-tiba dengan lantang menyodorkan Al-Qur'an yang menurutnya palsu. “ Ini membahayakan umat, karena dalam mushaf tersebut ada beberapa ayat yang ditulis berbeda. Huruf qaf ditulis seperti huruf fa'. Huruf fa' dengan titik satu di bawah. Setelah kami periksa ternyata ada keterangan bahwa Al-Quran ini diriwayatkan dari Imam Warasy. Model penulisannya mengikuti kaidah penulisan Magribi, yang berbeda dengan sistem penulisan Masyriqi". Inilah contoh semangat beragama yang melebihi ilmunya.” Ungkap Muchlis, disambut tawa peserta.

Bermula dari pesantren-pesantren, doktor dari univeraistas al-Azhar Kairo berharap literasi kealquranan bisa dimulai dan dikembangkan. "Literasi bukan sebatas mengentaskan buta huruf Al-Qur'an, tetapi meningkatkan pemahamanan yang utuh akan kandungan Al-Qur'an sebagai bekal kecakapan dalam hidup." Jelasnya bersemangat.

Contoh nyata bagaimana literasi itu telah teraktualisasi sebagai bekal hidup adalah seperti yang dilakukan Buya Syahid Marqum. Pengetahuan yang beliau dapatkan di pesantren dikelola dalam bentuk kerja nyata. Beliau berjuang di tengah masyarakat, mendidik mereka dengan mendirikan pesantren. "Inilah contoh orang yang berhasil mengelola literasi sebagai kecakapan hidup." Demikian ujarnya, disambut tepuk tangan meriah. [bp]