Risalah Kebijakan

PENGEMBANGAN APLIKASI AL-QUR’AN DIGITAL KEMENAG

Lajnah Pentashihah Mushaf al-Qur’an (LPMQ)

Badan Litbang dan Diklat Kemeterian Agama RI

 

Ringkasan

Aplikasi Al-Qur’an Digital bernama “Qur’an Kemenag” yang diproduksi oleh LPMQ Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama baik dalam versi aplikasi android-ios smartphone maupun dalam bentuk web yang beralamat di www.quran.kemenag.go.id sejak dua tahun lalu sampai sekarang masih sangat sedikit penggunanya. Aplikasi Qur’an Kemenag kalah bersaing dengan beberapa produk lain yang ada. Persoalan tampilan, fitur, kelengkapan konten, kapasitas, pemeliharaan (maintenance) dan updating terbaru merupakan beberapa faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat dalam menggunakan Qur’an Kemenag. Oleh sebab itu, perlu ada pengembangan aplikasi Qur’an Kemenag sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

PENDAHULUAN

Salah satu perkembangan mutakhir dalam era teknologi digital dalam kehidupan umat beragama adalah maraknya penggunaan kitab suci Al-Quir’an dalam bentuk digital, baik dalam bentuk pen maupun aplikasi Al-Qur’an digital yang digunakan dalam teknologi smartphone android dan ios. Selain itu juga ada Al-Qur’an digital dalam bentuk website. Maraknya pengunaan Al-Qur’an digital di satu sisi merupakan kemajuan yang menggembirakan di mana umat Islam sudah bisa beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi, termasuk teknologi digital. Akan tetapi di sisi lain, maraknya penggunaan Al-Qur’an digital juga menimbulkan persoalan terkait standardisasi dalam penulisan Al-Qur’an yang sangat beragam. Hal ini karena sebagian aplikasi Al-Qur’an digital yang beredar di masyarakat khususnya aplikasi dalam smartphone berasal dari produk luar negeri yang terkadang dari sisi penulisannya tidak mengikuti standar penulisan ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Pada akhir Agustus 2016, Kementerian Agama cq Lajnah Pentashihan  Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) meluncurkan produk Al-Qur’an digital yang diberi nama “Qur’an Kemenag” bagi pengguna smartphone versi Android dan iOS serta pengguna website. Berdasarkan laporan, jumlah pengguna Qur’an Kemenag sejak launching Agustus 2016 sampai dengan Desember 2017 sebanyak 92.766 pengguna untuk Android dan 2.952 untuk iOS. Jumlah ini tidak mengalami peningkatan signifikan setelahnya dengan rata rata 100-200 pengguna, baik Android maupun iOS. Dari 92.766 pengguna Qur’an Kemenag di Android, hanya 21.354 yang aktif. Sedangkan untuk versi iOS, dari 2.952 yang memasang, hanya 60 yang aktif setiap minggunya. Untuk akses Qur’an Kemenag melalui web yang ada di situs www.quran.kemenag.go.id, berdasarkan data pengunjung ada 11.000 sampai akhir 2017. Dari jumlah tersebut, 88,94 % mendapatkan informasi langsung dari web, sedangkan 5,53 % dari link web lain (referrals) dan 5,53% dari mesin pencari (seacrh engine). 

Pada 23 Maret 2018, LPMQ melakukan revisi dan update Qur’an Kemenag generasi kedua yang secara tampilan lebih menarik, menggunakan rasm usmani dan font Mushaf Standar Indonesia (MSI), perubahan tampilan lebih fresh, kapasitas lebih ringan, ada share gambar, asbabun nuzul, bug fix, dan fasilitas pengaturan ukuran font. Berdasarkan data Playstore, jumlah pengguna Qur’an Kemenag sejak di-update pada 22 Maret 2018 sampai dengan 28 Maret 2018 mengalami lonjakan mencapai 2.000 orang. Sementara itu, sejak pertama kali Qur’an Kemenag di-launching sampai sekarang, ada 100 ribu lebih yang melakukan install. Akan tetapi, ada 75 ribu lebih yang melakukan uninstall. Hal ini berarti hanya ada 25 ribu lebih pengguna aktif Qur’an Kemenag.

 

PENDEKATAN DAN METODE

Fokus penelitilan ini adalah pengetahuan masyarakat tentang Qur’an Kemenag, faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat dalam penggunaan Qur’an Kemenag serta sosialisasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan gabungan (mixed method), yaitu kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dalam bentuk survey terhadap masyarakat muslim pemilih smartphone yang menjadi pengguna produk Qur’an Kemenag. Sedangkan pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap responden yang dipilih sebagai informan. 

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat muslim pemilik smartphone dan pengguna Al-Qur’an digital. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling dengan sistem kuota sampling. Penelitian dilakukan di 14 kota di Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 50 orang setiap kota, dan 3 orang informan untuk wawancara mendalam. 

Teknik analisis dan penglolahan data dilakukan secara analisis-deskriptif dalam bentuk frekuensi, tabulasi silang (crosstab) serta rata-rata. Untuk data kualitatif dilakukan dalam bentuk analisis melalui kategorisasi data sehingga bisa ditemukan beberapa pemetaan kasus dan isu untuk kemudian didapatkan kesimpulan.

 

TEMUAN DAN PERMASALAHAN

Hasil penelitian ini memperlihatkan beberapa temuan menarik terkait aplikasi Qur’an Kemenag yang diproduksi oleh LPMQ Kementerian Agama. Termuan yang paling menarik adalah bahwa Qur’an Kemenag tidak banyak digunakan oleh masyarakat muslim. Mereka lebih banyak menggunakan aplikasi Al-Qur’an digital yang dikembangkan oleh pihak lain. Beberapa aplikasi Al-Qur’an digital yang banyak digunakan masyarakat di antaranya Quran for Android, Muslim Pro, serta MyQuran Al Quran dan Terjemahan. Quran for Android termasuk salah satu Al-Qur’an digital yang banyak digunakan orang karena tampilan fitur serta kelengkapan kontennya yang sangat dibutuhkan masyarakat. Quran for Android merupakan salah satu pionir pertama Al-Qur’an digital yang diproduksi luar negeri serta terus-menerus di-maintain dan mengalami update sesuai masukan dari pihak pengguna. 

Aplikasi Muslim Pro banyak digunakan masyarakat karena tampilannya lebih menarik dengan fitur dan konten yang variatif. Muslim Pro memberikan fasilitas tambahan seperti arah kiblat, azan salat lima waktu, sharing ayat-ayat pilihan, berita media, inspirasi harian, kalender hijriah, tempat-tempat halal, ayat popular, zakat, dan lain-lain. Tampilannya yang full colour sangat menarik. 

Sedangkan Qur’an Kemenag yang diproduksi resmi oleh pemerintah cq LPMQ berada pada urutan keempat yang digunakna oleh masyarakat. Beberapa alasan yang disampaikan oleh pengguna, selain Qur’an Kemenag tidak dikenal, dari sisi konten dan tampilan tidak menarik, tidak sesuai harapan pengguna. Qur’an Kemenag terlalu minim fasilitas yang ditawarkan. Selain hanya berisi murattal dengan qari’ sangat terbatas, pilihan tafsir tidak banyak, dan lebih fokus ke teks Al-Qur’an semata. 

Hal ini berbeda dengan Quran for Android yang banyak digunakan responden. Quran for Android berfokus kepada Al-Qur’an dengan tampilan konten yang lebih beragam, baik dari sisi audio (murattal), bahasa terjemahan, pilihan tafsir, pilihan bahasa, dan lain-lain. Fitur tampilan dan kelengkapan konten dibuat dalam bentuk pilihan. Artinya, jika pengguna ingin menggunakan fasilitas fitur tersebut, ia harus menginstalnya, jadi tidak otomatis terpasang. Hal ini membuat aplikasi tidak terlalu memberatkan kapasitas memori handphone pengguna.

Beberapa faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat untuk menggunakan atau tidak menggunakan suatu aplikasi Al-Qur’an digital yang paling tinggi adalah dari sisi fasilitas fitur dan kelengkapan konten yang tersedia. Secara umum, masyarakat menginginkan fasilitas yang diberikan tidak semata-mata Al-Qur’an, tetapi multifungsi. Selain itu juga harus mudah penggunaannya, dalam arti mudah untuk dilakukan pemasangan dan tidak memberatkan. Kelengkapan, konten dan tampilan yang menarik tetap menjadi faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat dalam menggunakan aplikasi Al-Qur’an digital. 

Terhadap pengembangan aplikasi Qur’an Kemenag, baik versi smartphone maupun versi website, masyarakat mengharapkan agar aplikasi tesebut memiliki beberapa fungsi yang dibutuhkan, di antaranya terjemahan. Terjemahan Al-Qur’an dari Kemenag mendapatkan nilai yang paling tinggi, yaitu 95% karena dianggap lengkap dan moderat. Hal ini juga membutikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama begitu tinggi. 

Selain itu juga masih ada 12 masukan masyarakat terkait fitur dan konten yang diharapkan muncul dalam aplikasi Al-Qur’an digital, di antaranya audio murattal, kelengkapan harakat tanda baca, setiap halaman ditampilkan layaknya mushaf Al-Qur’an cetak, ada panduan tajwid, keterangan waktu salat, pemberitahuan salat lima waktu, pilihan tafsir, arah kiblat, penanggalan hijriah, tampilan ayat harian disertai artinya, informasi masjid terdekat, dan transiliterasi Latin. Beragamnya harapan masyarakat terhadap fitur dan konten Qur’an Kemenag karena Al-Qur’an ini diharapkan tidak hanya sekadar untuk mengaji atau membaca, tetapi juga bisa membantu kebutuhan lainnya baik dalam aktivitas keagamaan maupun non-keagamaan. 

Tingginya harapan masyarakat terhadap aplikasi Qur’an Kemenag harus dibarengi dengan kemampuan teknologi yang compatible dengan perangkat teknologi digital smartphone. Artinya, jika keinginan masyarakat terhadap fitur dan konten aplikasi Qur’an Kemenag dianggap memberatkan, terlalu besar ukurannya sehingga proses install terlalu lama, atau membuat HP menjadi lebih lambat, maka akan menjadi salah satu faktor pertimbangan untuk tetap menggunakan atau tidak menggunakan (lihat grafik bawah). Oleh sebab itu, pengembangan aplikasi Qur’an Kemenag dituntut untuk mengembangkan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi digital smartphone terbaru.

 

REKOMENDASI KEBIJAKAN 

Berdasarkan uraian hasil temuan di atas, ada beberapa rekomendasi kebijakan yang bisa dilakukan oleh LMPQ dalam pengembangan aplikasi Qur’an Kemenag baik versi smartphone maupun website, yaitu: 

  1. Perlunya pengembangan aplikasi Qur’an Kemenag baik versi smartphone maupun website yang memiliki fitur dan konten lengkap tetapi dengan tampilan sederhana, tidak terlalu membebani kapasitas memori dan bersifat pilihan (opsional). Beberapa aplikasi Al-Qur’an digital yang telah berkembang lebih dahulu bisa dijadikan model, misalnya Quran for Android, Muslim Pro, Muslim Go, dan lain-lain. 
  1. Perlu adanya alokasi anggaran untuk pengembangan dan pemeliharaan aplikasi Qur’an Kemenag. Pengembangan dilakukan secara terus-menerus dengan perbaikan dan penyempurnaan aplikasi sesuai masukan pengguna, dan menyesuaikan perkembangan teknologi digital. Pemeliharaan dilakukan untuk merespons keluhan pengguna, error dan ketidakstabilan perangkat teknologi aplikasi, serta memperbarui database. Pengembangan dilakukan setiap tahun, sedangkan pemeliharaan dilakukan setiap dua minggu. Oleh karena itu, pola anggaran pemeliharaan digabung dengan anggaran pemeliharaan Tata Usaha, sedangkan anggaran pengembangan dilakukan sebagaimana biasa. 
  1. Perlunya penguatan dalam struktur kelembagaan LPMQ dengan membentuk satu eselon empat setingkat Kepala Seksi dengan SDM yang memiliki kualifikasi dan kompetensi memadai. Seksi ini bertanggung jawab dalam pengembangan dan pemeliharaan seluruh aplikasi digital yang dikembangkan oleh LPMQ— sebagaimana diusulkan oleh narasumber dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. 
  2. Perlunya menindaklanjuti Nota Kesepahaman antara Kementerian Agama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika No. 4 Tahun 2017 dan 996/MOU/M.KOMINFO/HK.03.02/07/2017 tentang Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Penyelenggaraan Program Bidang Komunikasi dan Informatika dan Agama melalui pengusulan pembentukan Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan:
  • Balitbang SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam lingkup pengembangan SDM bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
  • Ditjen Aplikasi Informatika (APTIKA) dalam lingkup penyediaan dan pengembangan aplikasi informatika
  1. LPMQ perlu mencari pengembang (developer) aplikasi Qur’an Kemenag yang profesional dan memiliki portofolio memadai untuk mengakomodasi berbagai masukan sehingga bisa mengembangkan aplikasi Al-Qur’an digital yang memiliki fitur, tampilan, dan konten yang lebih lengkap, menarik, dengan tidak membebani kapasitas memori, serta bersifat opsional dan mudah dalam proses pemasangannya.