Buku Panduan Wisata Religi

Buku Panduan Wisata ReligiKebudayaan Indonesia diilhami oleh  banyak hal, di antaranya adalah nilai-nilai agama. Bersatunya nilai agama dalam kebudayaan melahirkan tradisi keagamaan yang salah satunya perilaku ziarah. Ziarah memiliki tradisi panjang dalam sejarah perkembangan agama Islam. Dalam perjalanannya, perilaku keagamaan ini sempat dikecam karena dianggap sebagai praktek syirik.

Selengkapnya...

Perkembangan Mushaf, Terjemahan, dan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia

Perkembangan Mushaf, Terjemah dan TafsirMusabaqah Fahmi Kutubit-Turats (Mufakat) yang diselenggarakan di Lombok (18-24 Juli 2011) merupakan peristiwa penting berskala nasional. Oleh karena itu, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an merasa perlu berpartisipasi dalam pameran khusus, berjudul “Perkembangan Mushaf, Terjemahan, dan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia”. Penerbitan katalog pameran juga dilakukan sebagai sarana publikasi, agar masyarakat mengetahui tahap-tahap perkembangan penyalinan mushaf Al-Qur’an - khususnya di Indonesia – sejak tulisan tangan, cetakan awal (early printing), cetakan offset, hingga era digital.

Katalog pameran ini memuat dua tulisan. Tulisan pertama berjudul “Tradisi Mushaf Al-Qur’an di Lombok”. Dalam tulisannya, Ali Akbar memfokuskan pembahasan pada tradisi mushaf di Lombok. Namun, pada bagian awal ditampilkan pula tradisi mushaf dari Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan Bima, yang masih merupakan satu provinsi, NTB. Secara umum, mushaf Lombok mendapat pengaruh dari Jawa. Sedangkan mushaf-mushaf dari Kesultanan Sumbawa dan Bima banyak mendapat pengaruh dari, khususnya, Sulawesi Selatan. Beberapa ciri mushaf Lombok juga diuraikan, di antaranya yaitu halaman yang kotor di pojok bawah ujung kiri mushaf karena seringnya dibaca; penulisan mushaf pada kertas dluwang; penggunakan pola-pola segitiga di bagian atas; iluminasi tengah mushaf yang terdapat pada awal Surah al-Kahf; penggunaan warna-warna merah, coklat, kuning, biru, dan hitam; hiasan kaligrafi yang pada umumnya cukup sederhana; serta penjilidan yang cukup rapi menggunakan benang. Pada bagian akhir ditampilkan juga contoh-contoh kotak tempat penyimpan mushaf yang biasa digunakan di Lombok.

Tulisan kedua berjudul “Sekilas tentang Mushaf Standar Indonesia”, ditulis oleh Abdul Aziz Sidqi (Kepala Seksi Pentashihan, Bidang Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an). Tulisan ini menguraikan alasan-alasan yang melatarbelakangi penulisan Mushaf Standar dengan cukup rinci. Mushaf Standar yang digunakan saat ini terdiri dari tiga jenis mushaf, yaitu Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani, Mushaf Al-Qur’an Standar Bahriyah, dan Mushaf Al-Qur’an Standar Braille. Mushaf Standar Indonesia diharapkan dapat menjadi semacam benteng stabilitas nasional di bidang Al-Qur’an dan menjadi referensi untuk semua penerbit mushaf di indonesia.

Dari Tulis ke Lukis Kaligrafi Islam Kontemporer

Katalog Pameran dari Tulis ke LukisKatalog Dari Tulis ke Lukis: Pameran Kaligrafi Islamditerbitkan dalam rangka Festival Muharam 1432 H di Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal. Pameran temporer ini berlangsung selama empat bulan (7 Desember 2010 – 31 Maret 2011).

Katalog ini memuat tiga tulisan utama yang mengulas tentang seni kaligrafi Islam beserta karya-karya lukisan yang dipamerkan. Tulisan pertama, berjudul “Dari Tulis ke Lukis Kaligrafi Islam Kontemporer”ditulis oleh Ali Akbar. Tulisan ini mengulas tentang kecenderungan metamorfosa pada ragam kaligrafi Islami di dunia. Tulisan kedua berjudul “Menyentuh Hati Para Pelukis” oleh Drs.H.D. Sirojudin AR, M.Ag (Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an), yang mengulas kaligrafi Islam sebagai the art of Islamic art”, di mana pesona keindahannya mampu menyentuh hati para seniman rupa (pelukis), dan akhirnya memunculkan tren baru berwujud kaligrafi-lukis atau lukisan kaligrafi. Selain dua artikel tersebut, masih ada tulisan ketiga berjudul “Aku Cinta Allah: Painted Calligraphies in the Museum Istiqlal” oleh Jonathan Zilberg, Ph.D. Di awal tulisannya, antropolog budaya yang mengkhususkan dirinya pada pemahaman tentang seni, agama, dan museum ini memaparkan bahwa “Aku Cinta Allah” adalah tema yang merupakan semangat yang melatarbelakangi lukisan-lukisan kontemporer pada koleksi Museum Istiqlal. Selebihnya, ia memberikan apresiasi terhadap kreativitas penyampaian pesan pada lukisan-lukisan yang ditampilkan pada pameran temporer yang berlangsung sekitar empat bulan ini.

Mushaf Al-Qur’an di Indonesia dari Masa ke Masa

Katalog PameranKatalog Pameran Mushaf Al-Qur’an diterbitkan dalam rangka penyelenggaraan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional di Banjarmasin. Pameran keliling yang bertajuk “Mushaf Al-Qur’an di Indonesia dari Masa ke Masa” ini berlangsung selama delapan hari (4-11 Juni 2011) dan menampilkan tak kurang dari 30 jenis koleksi mushaf.

Katalog ini memuat empat tulisan yang berbicara tentang khazanah dan perkembangan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Tulisan pertama, berjudul “Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia” ditulis oleh Ali Akbar. Tulisan ini mengajak pembaca menelusuri jejak mushaf yang tersebar di seluruh nusantara, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri (Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Australia, India, Malaysia, Brunei Darussalam, dll). Selain itu juga membahas tentang tradisi penyalinan Al-Qur’an di Nusantara, yang diperkirakan telah ada sejak akhir abad ke-13.

Tulisan kedua ditulis oleh Drs. H. M. Abdan Syukri, berjudul “Mushaf Syekh Arsyad al-Banjari”. Tulisan ini mengulas tentang keindahan desain dan perwajahan serta tanda baca dan tajwid pada Mushaf Syekh Arsyad al-Banjari. Mushaf ditulis pada abad ke-18 menggunakan khat naskhi serta dibubuhi hiasan dan lukisan yang sangat jarang ditemukan dalam tradisi penulisan mushaf dunia Islam pada umumnya. Mushaf yang disalin oleh Muhammad Arsyad al-Banjari (ulama abad ke-18) ini, kini menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.

Pada tulisan ketiga yang berjudul “Mushaf Al-Qur’an di Indonesia sejak Abad ke-19 hingga Pertengahan Abad ke-20”, Abdul Hakim Syukrie mencoba merunut perkembangan penyalinan mushaf Al-Qur’an di Nusantara, mulai abad ke-13 hingga pertengahan abad ke-20. Mulai dari tradisi penyalinan secara manual (tulisan tangan) hingga teknik penyalinan modern dan massif melalui usaha pencetakan. Ditampilkan juga contoh mushaf Al-Qur’an cetakan Palembang (1848) dan mushaf Al-Qur’an terbitan Ab Siti Syamsiyah Surakarta (1935).

Sedangkan pada tulisan terakhir berjudul “Dari Mushaf ‘Bombay’ ke Mushaf ‘Kontemporer’”,  Ali Akbar menguraikan perkembangan pencetakan dan penerbitan mushaf Al-Qur’an sejak 1950-an hingga kini, mulai dari Al-Qur’an reproduksi cetakan Bombay hingga mushaf generasi baru dengan berbagai kreasi dalam hal cover, isi, maupun kelengakapan teks tambahan. Penulis juga mengulas sejarah munculnya kegiatan pentashihan Al-Qur’an dan lahirnya Mushaf Standar Indonesia, sebagai upaya memelihara kemurnian, kesucian dan kemulian Al-Qur’an.

Katalog Koleksi Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal

Buku Katalog Koleksi BQMIKatalog koleksi Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal ini diterbitkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang koleksi yang dikelola. Secara umum, penerbitan katalog ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang beragam jenis koleksi yang disimpan dan dipamerkan di Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, yang sebelumnya tidak banyak diketahui oleh publik. Selain itu, keterangan yang diberikan untuk setiap jenis koleksi dapat dipergunakan sebagai acuan awal bagi para peneliti yang ingin meneliti koleksi lebih lanjut.

Selengkapnya...