Buku Panduan Wisata Religi

Buku Panduan Wisata Religi Kebudayaan Indonesia diilhami oleh  banyak hal, di antaranya adalah nilai-nilai agama. Bersatunya nilai agama dalam kebudayaan melahirkan tradisi keagamaan yang salah satunya perilaku ziarah. Ziarah memiliki tradisi panjang dalam sejarah perkembangan agama Islam. Dalam perjalanannya, perilaku keagamaan ini sempat dikecam karena dianggap sebagai praktek syirik.

Tradisi ziarah ini tidak hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain juga memiliki tempat-tempat ziarah suci. Antusiasme masyarakat mengunjungi tempat-tempat “sakral” menjadikan ziarah tidak hanya urusan ritual keagamaan, tetapi lebih mirip wisata. Sudah ada unsur ekonomi, sosial dan budaya. Kegiatan ini popular disebut dengan “wisata religi” atau wisata rohani. Kegiatan ini bagi masyarakat tertentu sudah dilakukan turun-temurun.

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya dengan peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, tak terkecuali peninggalan di bidang keagamaan yang meliputi semua agama yang ada di Indonesia. Peninggalan atau situs-situs tersebut termanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti makam (yang memiliki nilai tersendiri dalam masyarakat), bangunan-bangunan seperti masjid, gereja, candi, pura, vihara dan klenteng yang semuanya menjadi saksi kebesaran sejarah bangsa Indonesia.

Buku setebal 181 halaman yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an pada tahun 2011 ini, merupakan usaha awal untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang 135 lokasi yang pantas dijadikan tujuan wisata religi di Jawa dan Bali, yang melipiuti 8 lokasi di Banten, 22 lokasi di Jakarta dan sekitarnya, 22 lokasi di Jawa Barat, 22 lokasi di Jawa Tengah, 14 lokasi di Jogjakarta – Solo, 24 lokasi di Jawa Timur, dan 23 lokasi di Bali. Di dalamnya juga memuat informasi tentang Bayt Al-Qur'an dan Museum Istiqlal, yang merupakan salah satu tujuan wisata religi, baik domestik maupun manca negara.