Penelitian Mushaf Kuno 2011

Penulisan mushaf Al-Qur’an dalam Islam telah dimulai sejak abad pertama sejarahnya. Lima salinan pertama mushaf pada masa Khalifah Usman bin Affan – disebut Mushaf al-Imam, menggunakan rasm usmānī – yang dikirim ke beberapa wilayah Islam selanjutnya menjadi naskah baku bagi penyalinan Al-Qur’an. Sejak itulah kegiatan penyalinan Al-Qur’an tidak pernah terhenti. Mula-mula ditulis dalam gaya kufi yang berkarakter kaku, kemudian dalam gaya kursif naskhi yang dipelopori oleh Ibnu Bawwab di Baghdad (w. 1022 M), muhaqqaq, sulus, dan gaya-gaya kursif lain. Penyalinan Al-Qur’an berlangsung di seluruh wilayah Islam, sejalan dengan penaklukan-penaklukan wilayah baru. Sebagai kitab suci yang menjadi bukti Islam sebagai agama wahyu, kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an sangat terjaga.

Di Nusantara, penyalinan Al-Qur'an telah dimulai sejak akhir abad ke-13, ketika Pasai secara resmi merupakan kerajaan Islam. Hal ini dicatat dalam Rihlah Ibnu Batutah (1304-1369 M) ketika ia berkunjung ke Aceh sekitar tahun 1345 dan melaporkan bahwa Sultan Aceh sering menghadiri acara pembacaan Al-Qur’an di masjid. Meskipun demikian, di Asia Tenggara, mushaf tertua yang diketahui hingga kini adalah sebuah mushaf bertahun 1606, berasal dari Johor, Malaysia, yang kini terdapat di negeri Belanda. Di Indonesia sendiri, sepanjang yang diketahui, mushaf Al-Qur’an tertua adalah sebuah mushaf yang selesai ditulis pada hari Kamis, 21 Muharram 1035 H (23 Oktober 1625 M). Penulisnya, seperti yang tercantum pada kolofon di akhir mushaf, adalah Abd as-Sufi ad-Din. Mushaf tersebut adalah milik Muhammad Zen Usman, Singaraja, Bali.

Penyalinan Al-Qur'an secara manual berlangsung hingga akhir abad ke-19 di berbagai pusat Islam masa lalu, seperti Aceh, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Lombok, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Ambon, Ternate, dan wilayah lainnya. Sebagian warisan masa lalu tersebut kini tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, pesantren, ahli waris, dan kolektor, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam konteks penelitian mushaf Al-Qur’an kuno ini, pengertian mushaf adalah salinan wahyu Allah (Al-Qur’an) dalam bentuk lembaran-lembaran naskah tulis. Dalam kenyataannya, ia dapat saja berupa lembaran-lembaran tidak lengkap—karena hilang atau rusak—yang merupakan bagian dari sebuah mushaf lengkap. Termasuk dalam pengertian mushaf adalah mushaf yang dilengkapi catatan-catatan tambahan berupa arti atau tajwid di sekitar teks utama. Adapun dianggap kuno jika sudah berusia lebih dari 50 tahun. Kitab-kitab tafsir tidak termasuk dalam pengertian mushaf, dan tidak tercakup dalam penelitian ini. Meskipun demikian, informasi tambahan dari naskah tafsir dan naskah-naskah lain tetap diperlukan untuk mendukung penelitian ini.

Adapun lingkup pengertian mushaf kuno dalam penelitian ini adalah salinan Al-Qur’an secara keseluruhan, yang mencakup teks (nass) Al-Qur’an, iluminasi (hiasan sekitar teks), maupun aspek fisik yang lain seperti jenis kertas dan tinta yang dipakai, ukuran naskah, jenis sampul, penjilidan, dan lain-lain. Keseluruhan aspek fisik mushaf diteliti secara rinci. Di samping itu, aspek lainnya seperti tanda juz, rubu‘, hizb, tanda waqaf juga dikaji secara saksama untuk mendapatkan gambaran tentang perkembangan gaya mushaf-mushaf Al-Qur'an di Indonesia.

Database naskah-naskah Nusantara telah mulai dirintis oleh sebagian lembaga yang mempunyai minat dalam kajian naskah. Namun, hingga saat ini belum ada database yang menghimpun khazanah mushaf Nusantara. Bahkan timbul kesan bahwa sebagian pengkaji naskah seakan-akan mengabaikan mushaf Al-Qur’an sebagai bagian dari khazanah pernaskahan. Berdasarkan kenyataan tersebut, penelitian ini menghimpun sejumlah naskah mushaf, dan ingin menjawab pertanyaan penelitian: (1) bagaimanakah keadaan mushaf Nusantara dari aspek tinjauan kodikologis?; dan (2) bagaimanakah ragam teks mushaf Nusantara (baik teks Al-Qur’an maupun teks tambahannya)?           

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menginventarisasi, mendeskripsi, dan mendokumentasi mushaf-mushaf kuno; (2) mengetahui ragam teks mushaf Nusantara (baik teks Al-Qur’an maupun teks tambahannya) untuk memperoleh gambaran mengenai tradisi penyalinan mushaf di Indonesia. Adapun teknik pengumpulan datanya, mencakup eksplorasi, studi kepustakaan, dan wawancara.

Pada tahun 2011 penelitian dilakukan di tujuh provinsi. Di Provinsi Jawa Barat ditemukan 18 naskah mushaf, dilakukan oleh Drs. H. Enang Sudrajat dan Ali Akbar, M.Hum; di Provinsi Jawa Tengah ditemukan 29 naskah mushaf, dilakukan oleh Fahrur Rozi, MA; di Provinsi Jawa Timur ditemukan 15 naskah mushaf, dilakukan oleh Abdul Hakim, M.Si, dan Ida Zulfi, MA; di Provinsi DKI Jakarta ditemukan 11 naskah mushaf oleh Jonni Syatri, MA; di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam ditemukan 40 naskah mushaf, dilakukan oleh Dr. H. Bunyamin Yusuf, MA dan Ahmad Yunani, M.Hum.;di    Provinsi Sulawesi Selatan ditemukan 9 naskah mushaf, dilakukan oleh Zarkasi, MA dan Muhammad Musadad, S.Th.I; dan di Provinsi Sulawesi Tenggara ditemukan 6 naskah mushaf, dilakukan Mustopa, M.Si, dan Ahmad Jaeni, S.Th.I. Jadi, naskah yang berhasil diinventarisasi pada penelitian tahun 2011 berjumlah 128 naskah dari tujuh propinsi.

Seminar hasil penelitian dilaksanakan pada tanggal 16 Nopember 2011. Hasil temuan lapangan yang telah ditulis dalam bentuk makalah diseminarkan untuk mendapat masukan dari narasumber, konsultan ahli,  dan peserta seminar. Narasumber seminar adalah Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, MA, sedangkan konsultan ahli adalah Prof. Dr. Syarif Hidayat dan Dr. Oman Fathurrahman. Adapun peserta berasal dari peneliti dari unit Litbang terkait, yaitu Puslitbang Kehidupan Beragama, Puslitbang Pendidikan Agama, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Balai Litbang DKI Jakarta, dan pegawai di lingkungan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama, serta undangan lainnya.

Penelitian tahun 2011 ini menghasilkan beberapa kesimpulan, di antaranya: (1) rasm yang digunakan dalam naskah Al-Qur’an kuno pada umumnya masih menggunakan rasm imla’i; (2) sistem tanda baca dan tanda tajwid yang digunakan tidak seragam, menunjukkan dinamika sistem penulisan Al-Qur’an, dan beberapa aspek penandaan ternyata mempunyai kesamaan dengan sistem yang dipakai dalam Mushaf Standar Indonesia; dan (3) penulisan mushaf di Indonesia menunjukkan adanya pengaruh, dalam hal-hal tertentu, dari Turki dan India.

Penelitian ini merekomendasikan: (1) perlunya penelitian dan penelusuran lebih lanjut tentang keberadaan mushaf kuno yang jumlahnya cukup banyak dan masih tersebar di seluruh Nusantara; (2) menginventarisasi mushaf-mushaf yang telah ditemukan dan membuat katalog khusus mushaf kuno; (3) mengupayakan penghimpunan mushaf kuno untuk disimpan di Bayt al-Qur’an; (4) perlunya langkah lanjutan, yaitu digitalisasi mushaf Nusantara.[zar]