Etika Penerbitan Al-Qur'an: Beberapa Terbitan Mushaf (Bagian 4)

Beberapa Terbitan Mushaf

Dalam pengamatan penulis, penerbitan mushaf Al-Qur’an mengalami kemajuan yang cukup signifikan pada dekade ini. Apalagi dengan teknologi komputer saat ini. Ada beberapa penerbitan mushaf yang beredar yang akan penulis kemukakan di sini, yaitu:

a. Mushaf Tajwid

Mushaf ini diterbitkan pertama kali oleh Islamic Book Sevice, New Delhi, pada tahun 2002, dan terus mengalami cetak ulang. Di Indonesia mushaf ini dipublikasikan oleh Lautan Lestari. Dalam mushaf ini penerbit menggunakan warna-warna tertentu untuk menandai satu bacaan. Seperti bacaan ikhfa’ dengan warna biru muda, qalqalah dengan merah tua, idgham bighunnah dengan biru muda, dan lain sebagainya. Mushaf terbitan ini tidak ada masalah, karena tidak ada tanda baru kecuali pewarnaan bacaan yang ada. Hal ini untuk mempermudah bacaan bagi pemula.

 b. Mushaf Tahajjud

Mushaf ini ditulis untuk mereka yang ingin membaca Al-Qur’an pada salat tahajjud. Setiap pojoknya ada tanda akhir ayat, sehingga memungkinkan mengakhiri bacaan pada akhir ayat kemudian rukuk. Biasanya mushaf ini formatnya agak besar dan diletakkan di depan imam dan bisa dibaca secara langsung.

c. Mushaf Alifi dan Mushaf Wawi

Kedua mushaf ini ditulis oleh orang India yang memulai setiap barisnya dengan huruf alif atau waw. Ciri tulisannya seperti mushaf-mushaf India lainnya. Mushaf ini bisa menjadi kemukjizatan lain dari Al-Qur’an.

d. Mushaf dengan hurufLatin

Menulis mushaf dengan huruf Latin diperselisihkan di antara ulama. Banyak yang melarangnya, karena bisa mengacaukan bacaan. Namun ada juga yang membolehkan jika teks Arabnya masih disertakan. Di antara mushaf model ini yang terbit di Indonesia mencantumkan juga arti setiap kosakatanya dalam bahasa Indonesia.

e. Mushaf dengan terjemah

Mushaf dengan terjemah sudah banyak dilakukan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Penulisan mushaf masih menggunakan tulisan Arab baik dengan rasm usmani atau imla’i. Mushaf ini banyak membantu pembaca mengetahui arti kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

f. Mushaf dengan tafsir

Mushaf ini sudah banyak diterbitkan di Syria dan Mesir. Mushaf yang di pinggirnya ada tafsir dilakukan oleh Ustadz Na’im al-Himshi dari Syria. Ada juga yang menggunakan ikhtisar dari Tafsir ath-Thabari, atau Tafsir al-Jalalain dan lain sebagainya. Kadangkala juga dirangkai dengan kitab Asbabun-Nuzul karya Al-Wahidi an-Naisaburi.

g. Mushaf dengan makna Jawa gandul (jenggotan)

Mushaf ini judulnya Al-Qur’an Al-Karim, Tamba Ati. Makna Jawanya dengan tulisan Arab pegon dikerjakan oleh Mifathul Huda Jr dari Kediri. Mushaf ini ditulis untuk kalangan santri yang terbiasa memaknai satu ungkapan dalam kitab kuning. Oleh karena itu pada halaman depan ditulis juga عنى على فسانترين maksudnya mushaf dengan makna ala pesantren. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2002. Bagi kalangan pesantren mushaf ini bisa menolong dalam membaca Al-Qur’an disertai makna Jawanya.

h. Mushaf untuk anak-anak (I Love My Al-Qur’an)

Mushaf ini terbitan Pelangi Mizan, Bandung. Mushafnya menggunakan ayat pojok. Ada isyarat bacaan dengan tajwid seperti bacaan dengung dengan huruf berwarna hijau. Hanya saja di pinggirnya ada komentar terhadap ayat-ayat yang ada secara global. Setiap ayat dikomentari dengan memberi judul lalu disertai ungkapan, misalnya, hikmah ayat: 58-59. Semuanya dikemas dengan bahasa anak-anak, gampang dicerna, disertai dengan ilustrasi untuk membantu pemahaman. Ada terjemahan kata dengan bahasa Indonesia dan Inggris disertai dengan gambarnya. Contohnya, kata يحزنون diartikan dengan they grieve, mereka bersedih hati. Ada gambar tiga orang yang bercucur air mata. Kata: بقرة diartikan dengan a cow, seekor sapi, lalu ada gambar sapi. Ada juga rubrik “Kamu Perlu Tahu”, “Lihat Juga”, “Untuk Ayah-Ibu”, “Rambu Baca”, dan “Peta”. Buku ini terbit dalam 15 jilid, setiap jilid terdiri dari 2 juz yang memiliki warna berbeda. Dilihat dari penampilannya, karya ini cukup inovatif karena selama ini terjemahan atau penafsiran hanya ditujukan untuk orang dewasa dan dengan bahasa orang dewasa. Mushaf ini khusus dirancang untuk anak anak. Ini adalah terobosan yang sebelumnya belum ada di Indonesia.

Terhadap mushaf model ini penulis mempunyai pendapat sebagai berikut. Pertama, jika di pinggirnya tidak ada lukisan, tetapi cukup mencantumkan penafsirannya saja, atau untaian hikmahnya saja tidak menjadi soal, karena seperti Al-Qur’an terjemah. Meskipun demikian, penafsirannya harus ditelaah oleh tim ahli. Kedua, jika mushafnya dipisahkan dari komentar yang ada gambarnya, hal itu juga tidak menjadi masalah. Ketiga, jika tetap sebagaimana yang ada, yaitu mushafnya di tengah sedangkan gambarnya di pinggir maka ada catatan, yaitu:

  1. Lukisan atau gambar masih diperselisihkan oleh banyak ulama, boleh atau tidak. Jika hal itu terdapat di dalam mushaf, maka keberadaannya akan menyulut kontroversi yang lebih kuat lagi.
  2. Mushaf dengan penuh gambar akan kehilangan sakralitasnya sebagai mushaf. Mushaf model begini akan diperlakukan sebagai buku biasa yang bisa diletakkan di mana saja, sementara banyak ulama yang wanti-wanti agar mushaf harus selalu diletakkan di atas kitab-kitab yang lain. Persoalannya adalah karena ada mushafnya. Jika bukan mushaf, persoalannya akan menjadi lain, seperti buku pelajaran yang di dalamnya ada ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk lebih gampang dipahami, penerbit mencantumkan gambar-gambar. Hal ini sudah tentu berbeda.

Penutup

Kaum muslimin ditantang untuk mensosialisasikan Al-Qur’an kepada masyarakat dengan berbagai macam cara dan metode, bagaimana agar Al-Qur’an bisa sampai kepada masyarakat, dimulai dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Namun demikian, nilai kesucian dan sakralitas Al-Qur’an harus tetap dipertahankan agar wibawanya dan sentuhannya bisa merasuk ke dalam hati para pembacanya.

 

Catatan: Makalah ini dipresentasikan pada Lokakarya Penerbit Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI, di Hotel Griya Astuti, Bogor, 24 September 2012.

Berita Terkait