Mushaf-mushaf Istana Nusantara (Bag 2)

Corak iluminasi yang berbeda tampak pada mushaf-mushaf yang berasal Kesultanan Bone, Sulawesi Selatan (Gambar 6), serta corak diasporanya seperti tampak pada mushaf dari Kesultanan Bima (Gambar 7), dan Kesultanan Ternate (Gambar 8, 9).

Mushaf asal Bone, Sulawesi Selatan, 1804, koleksi Museum Aga Khan, Jenewa, Swiss. [Foto: Annabel Teh Gallop] Koleksi Museum Samparaja, Bima
Koleksi Museum Babullah, Ternate Koleksi Museum Babullah, Ternate

Dalam sejarahnya, orang-orang Bugis dan keturunannya berlayar jauh ke barat mencapai Aceh, ke utara mencapai ke Kedah dan Filipina Selatan, ke selatan mencapai Bima, dan ke timur paling kurang mencapai Ternate. Luasnya jelajahan orang-orang Bugis itu sedikit-banyak tercermin pada gaya iluminasi dan kaligrafi mushafnya. Memang, di sana-sini ada ragam variasi yang berkembang di masing-masing daerah itu, namun ada unsur-unsur yang ‘menyatukan’, misalnya penggunaan garis vertikal di sisi luar, bentuk segitiga, serta setengah lingkaran di bagian atas, bawah, dan samping luar. Para seniman mushaf mengembangkan gaya iluminasi itu dari masa ke masa.

Mushaf dari Kesultanan Sumbawa, selesai ditulis pada Ahad, 28 Zulqa’dah 1199 H (2 Oktober 1785). [Foto: Asep Saefullah] Mushaf dari Kesultanan Sumbawa, selesai ditulis pada Kamis, 24 Muharam 1254 (19 April 1838)

Gaya iluminasi yang berbeda lagi tampak pada mushaf tinggalan Kesultanan Sumbawa (Gambar 10, 11). Berbeda dari lainnya, kedua mushaf ini mempunyai pola hiasan semacam pintu, dengan kubah di tengahnya. Corak seperti ini tidak banyak digunakan di wilayah lain – meskipun masih perlu bukti mushaf-mushaf lain untuk bisa mengatakannya sebagai khas Sumbawa. Model iluminasi yang kurang banyak digunakan juga tampak pada mushaf dari Kesultanan Kacirebonan (Gambar 12). Motif hiasan seperti itu tidak khas ‘Cirebonan’ yang biasanya ‘menjunjung tinggi’ motif mega mendung. Motif khas Cirebon digunakan pada mushaf lain koleksi Kesultanan ini.

Koleksi Keraton Kacirebonan

Jika mushaf dari beberapa kesultanan di atas menonjol dalam iluminasi, mushaf-mushaf dari Kesultanan Banten menonjol dalam kaligrafinya. Iluminasi yang biasanya terdapat di bagian awal, tengah dan akhir mushaf, tidak kita temukan pada mushaf Kesultanan Banten (gambar bawah). Sementara, gaya khat yang digunakan adalah gaya Naskhi yang kadang-kadang dekat dengan gaya Muhaqqaq, dengan ciri huruf yang menjulur-julur. Gaya kaligrafi seperti itu kita temukan baik di Banten sendiri, maupun mushaf Banten koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta.[]

Mushaf A.50 dari Kesultanan Banten, koleksi Perpustakaan Nasional RI. [Foto: Art Gallery of South Australia] Mushaf A.51 dari Kesultanan Banten, koleksi Perpustakaan Nasional RI. [Foto: Art Gallery of South Australia]

Berita Terkait