Para Penulis Mushaf Al-Qur’an di Indonesia: Penelusuran Awal

Sejak berabad lampau, ketika mushaf Al-Qur’an masih disalin satu per satu secara manual, para penyalin mushaf Nusantara telah berkarya dengan baik. Banyak mushaf telah ditemukan, tersebar dari Aceh hingga Ternate, atau bahkan Raja Ampat di Papua. Namun para penyalin mushaf-mushaf tersebut kebanyakan tidak mencantumkan namanya di dalam mushaf hasil karyanya – barangkali agar tidak mengurangi rasa takzimnya kepada Al-Qur’an, atau alasan lainnya.Meskipun tidak terlalu banyak nama penyalin yang tercantum dalam manuskrip mushaf hingga berakhirnya tradisi manuskrip pada akhir abad ke-19, namun nama-nama perlu dihimpun, nanti, meskipun memang memerlukan waktu dan ketekunan.

Pada awal hingga menjelang pertengahan abad ke-20 ketika teknologi cetak mulai berkembang pesat untuk penggandaan mushaf, nama penulis (atau penyalin) mushaf di Indonesia sepertinya belum muncul. Dilihat dari mushaf yang beredar pada periode ini, kebanyakan adalah mushaf reproduksi cetakan Bombay, India.Meskipun demikian, masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal ini. Barangkali saja ada beberapa individu yang menyalin mushaf hingga tamat, namun karena tidak sampai dicetak dan beredar luas, nama mereka hilang dari catatan sejarah.

Pada 1947 Prof Salim Fachry (wafat 1987) asal Langkat, Sumatra Utara, menulis Mushaf Pusaka atas perintah Presiden Soekarno. Karya monumentalnya ini sekarang menjadi koleksi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, TMII, Jakarta.

Karya Penulis Abdurrazaq Muhilli

Para penulis kaligrafi yang seangkatan dengan Prof Salim Fachry adalah Salim Bakasir, Muhammad Darami Yunus (asal Padang, putra Prof Mahmud Yunus), dan Muhammad Abdurrazaq Muhili. Dua nama yang pertama perlu ditelusuri lebih lanjut, apakah sempat menyalin mushaf hingga tamat, namun nama yang terakhir, yaitu Ustaz Muhammad Abdurrazaq Muhili, adalah penulis Mushaf Standar Indonesia(Ayat Sudut), selesai pada 1988/1408 H (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/mushaf-standar-indonesia-bahriyah-1991.html).

Dari generasi yang sama muncul pula nama Muhammad Syazali Sa’ad yang selesai menyalin mushaf Al-Qur’an pada tahun 1973-1975 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/10/mushaf-al-quran-standar-indonesia.html) dan disahkan tahun 1984 sebagai Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia (Usmani).

Karya Penulis Syazali Sa'ad

Pada dasawarsa berikutnya muncul karya mushaf yang ditulis oleh Safaruddin, asal Pejagalan, Purwodadi, diterbitkan oleh Penerbit Wicaksana, Semarang, berupa mushaf ayat sudut, namun menggunakan rasm usmani. Model mushaf “rasm usmani ayat sudut” seperti itu juga ditulis oleh Rahmatullah ad-Dimawi (asal Demak) yang diterbitkan oleh Penerbit Asy-Syifa’, Semarang, tahun 2000 (lihat http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/11/mushaf-karya-rahmatullah.html).

Penulis mushaf lainnya adalah H Didin Sirojudin MA, asal Kuningan, Jawa Barat, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta.Pengasuh pesantren khusus kaligrafi di Sukabumi ini tiga kali menulis mushaf Al-Qur’an hingga tamat 30 juz, yaitu (1) sebuah mushaf atas pesanan pribadi H Sawabi Ihsan MA; (2) teks ayat Terjemahan Al-Qur’an “Bacaan Mulia” HB Jassin; (3) Al-Qur’an Berwajah Puisi HB Jassin yang diterbitkan oleh Intermasa, Jakarta. Selain itu, bersama seorang penulis dari Yogyakarta, ia juga pernah menulis mushaf atas pesanan Kementerian Agama. Sebelum ditulis oleh Didin Sirojudin, teks ayat Terjemahan Al-Qur’an “Bacaan Mulia” juga pernah ditulis oleh seorang penulis lainnya.

Karya Penulis Rahmatullah

Setelah periode ini ada beberapa mushaf Al-Qur’an terbit di Indonesia, dengan kaligrafi dan iluminasi yang indah, seperti Mushaf Istiqlal (1995), Mushaf Sundawi (1997), Mushaf at-Tin (1999), hingga Mushaf Banten (2010), namun teks ayatnya semua ditulis oleh tim yang terdiri beberapa penulis. Mushaf lainnya adalah hasil karya beberapa santri Pesantren Al-Asy’ariyah, Wonosobo, yang biasanya menghasilkan karya mushaf berukuran raksasa, seperti Mushaf Wonosobo, Mushaf Al-Akbar, dan sebagainya. (Mengenai para penulis mushaf yang terakhir ini akan ditulis dalam artikel terpisah).

Berita Terkait