Manuskrip Al-Qur’an di Pulau Lingga (2)

Di Pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, terdapat 10 mushaf kuno. Lima mushaf telah diuraikan oleh Mustofa (lihat Bagian 1). Berikut adalah deskripsi lima mushaf lainnya.

Mushaf 1

Mushaf ini pada mulanya adalah milik Abdul Samad, Kampung Gelam, Daik, yang kemudian disumbangkan ke pengurus museum. Tahun penyalinan mushaf ini diperkirakan pada masa Sultan Abdurrahman Syah. Mushaf dengan kode 182 ini kondisinya sudah tidak lengkap, namun masih cukup terawat. Berbeda dengan mushaf Lingga lainnya, manuskrip ini menggunakan kertas dluwang sehingga mudah untuk dibuka per halaman. Mushaf ini termasuk yang dirawat karena memiliki perbedaan kertas. Setiap halaman mushaf terdiri dari 13 baris. Ukurannya 30,5 x 22 cm, tebal 7 cm dengan ukuran bidang teks 20 x 14 cm. Terkait dengan penandaan halaman, mushaf memiliki maqra, ruku’, dan sumun.

Mushaf 2

Di antara mushaf koleksi musem Linggam Cahaya, mushaf dengan kode 187 ini terbilang cukup istimewa karena kondisinya yang masih lengkap, termasuk cover depan dan belakang. Mushaf ini asalnya merupakan milik Abdus Samad dari Kampung Kelam yang dihibahkan. Surah al-Fatihah pada bagian awal dan surah an-Nas pada bagian akhir masih terlihat bagus dan jelas untuk dibaca. Di bagian pembuka dan penutup itu terdapat ilmuniasi berbentuk floral dengan tinta hitam, merah dan kuning. Ilmunimasi serupa juga bisa dijumpai pada juz tengah Al-Qur’an, yakni pada Surah Al-Isra, dan penandaan setiap juz. Manuskrip ini menggunakan kertas Eropa. Ukuran 31,5 x 20,5 cm, tebal 5,5 cm dengan ukuran bidang teks 21 x 12 cm. Rasm yang digunakan adalah rasm imlai, sebagaimana yang lain, semenatra qiraat yang dipakai adalah qiraat Hafs ‘an ‘Asim. Mushaf ini sudah dilengkapi tanda tajwid, seperti mad wajib dan jaiz, serta nun izhar, namun belum memakai tanda waqaf. Mushaf ini tidak memiliki kolopon.

Mushaf 3

Mushaf ini sesungguhnya masih utuh karena masih terdapat cover luarnya. Bahkan surah al-Fatihah dan awal al-Baqarah masih bisa ditemukan. Namun kondisinya sangat memprihatinkan, karena kertas Eropa yang digunakannya telah ‘termakan’ oleh tinta. Karena kondisi yang sangat parah ini, mushaf hanya disimpan di lemari koleksi manuskrip museum.

Mushaf 4

Mushaf kesembilan ini menggunakan cetak batu, dan kondisinya sudah tercerai berai dan kurang terawat. Manuskrip ini ukurannya lebih kecil daripada mushaf koleksi museum Linggam Cayaha lainnya. Selain hitam, warna yang digunakan adalah kuning keemasan yang dipakai untuk tanda ayat dan tanda batas teks mushaf. Terdapat ilmuminasi motif floral pada bagian awal surah dengan kombinasi warna hijau, hitam, dan kuning keemasan.

Mushaf 5

Berbeda dengan sembilan mushaf di atas, mushaf kesepuluh ini dimiliki dan disimpan oleh Ibu Maharani di kediamannya yang tidak jauh dari Museum Linggam Cahaya. Namun kondisi mushaf ini sudah tidak lengkap dan kurang terawat. Manuskrip ini berukuran 32 x 19 cm, tebal 3 cm, dengan ukuran bidang teks 22 x 12,5 cm. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa. Setiap halaman terdiri dari 15 baris. Tinta yang dipakai warna merah dan hitam; hitam untuk teks utama, dan merah untuk penandaan ayat dan wal surah. Khat yang dipakai adalah khat naskhi. Pada mushaf ini hanya ada penandaan ruku, sementara nisf, rubu’ dan sumun tidak ada. Namun demikian mushaf ini sudah menggunakan beberapa penanda tajwid seperti mad wajib dan jaiz yang ditandai dengan warna merah.[]

Berita Terkait