Mushaf Al-Qur’an Standar “Bahriyah”

 

Mushaf Standar Bahriyah.

Bila membicarakan Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia, istilah "Mushaf Bahriyah" akan sering disebut, karena termasuk salah satu dari tiga 'jenis' mushaf yang distandarkan di Indonesia. Mushaf Al-Qur’an “Bahriyah” berpola 'ayat pojok', yaitu setiap halaman, di bagian sudut/pojok bawah-kiri, berakhir dengan penghabisan ayat. Atau dengan kata lain, penulisan setiap ayat tidak bersambung ke halaman berikutnya.

Mushaf dengan model seperti ini banyak digunakan oleh para penghafal Al-Qur'an (ḥāfiẓ). Teks ayat yang tidak bersambung ke halaman berikutnya sangat memudahkan para penghafal Al-Qur’an untuk muraja’ah (mengulang baca). Karena ciri dan fungsinya itu, mushaf jenis ini, selain disebut “Mushaf/Ayat Pojok”, sering pula disebut “Mushaf/Ayat Sudut”, “Al-Qur’ān lil-Ḥuffāẓ”, atau di Jawa, karena dahulu dicetak di kota Kudus, disebut pula “Qur’an Kudus”.

Pada Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Al-Qur’an I tahun 1974, K.H. Ahmad Damanhuri, Malang, berpendapat bahwa penggunaan mushaf jenis ini ditoleransi oleh para ulama di berbagai negara muslim, khususnya untuk digunakan oleh para penghafal Al-Qur’an. Atas pertimbangan itu, selain menyepakati penyusunan Mushaf Standar Usmani, Muker I juga menyepakati penyusunan Mushaf Standar Bahriyah.

Ciri-ciri Mushaf Standar Bahriyah yang membedakannya dengan Mushaf Standar Usmani cukup banyak. Sebagian di antaranya, yaitu (1) Setiap halaman mushaf terdiri atas 15 baris tulisan; (2) Ayat selalu berakhir di setiap halaman; (3) Setiap madd ṭābiī tidak diberi tanda sukun; (4) Bacaan idgām tidak diberi tanda tasydid, juga iqlāb tidak diberi mīm kecil/iqlāb; (5) Kata-kata tertentu menggunakan rasm uṡmānī (aṣ-ṣalāh, az-zakāh, dsb.) namun sebagian lain menggunakan imla’i (al-kitāb, razaqnāhum, dsb.); (6) Ha’ damir tidak menggunakan kasrah tegak dan dammah terbalik; dan lain-lain.

Naskah master Mushaf Standar “Bahriyah” ditulis oleh kaligrafer kenamaan Indonesia, Muhammad Abdurrazaq Muhili, selesai pada 1988/1408 H. Namun, sebelum ditulisnya Mushaf Standar Bahriyah itu, di Indonesia sejak 1974 telah beredar mushaf pojok yang dicetak oleh Percetakan Menara Kudus, Jawa Tengah. Cetakan tersebut merupakan reproduksi dari sebuah mushaf cetakan Turki. Mushaf  jenis itu memang sejak lama menjadi 'andalan' para penghafal Qur'an di sejumlah pesantren khusus tahfiz di Indonesia, dan dikenal dengan istilah "Qur'an Kudus".

"Bahriyah", pencetak awal mushaf jenis ini, kemudian diambil sebagai istilah dan sekaligus menjadi pembeda dengan jenis mushaf standar lainnya yang ditulis dengan rasm uṡmānī yang berakar pada mushaf cetakan Bombay, India. Sejak awal kemunculannya pada akhir abad ke-16 di Turki Usmani, mushaf jenis ini digunakan oleh para penghafal Al-Qur’an. Di Turki, model penulisan ayat seperti ini disebut ayet ber-kenar.

Mengapa disebut “Mushaf Bahriyah”?

Istilah “Bahriyah” sendiri sebenarnya adalah nama percetakan milik Angkatan Laut Turki Usmani yang banyak mencetak buku-buku keagamaan, termasuk mushaf Al-Qur’an. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika pencetakan mushaf Al-Qur’an tumbuh subur di dunia Islam, salah satu percetakan yang mencetak mushaf jenis ini adalah Matba'ah Bahriyah.

Mushaf Bahriyah, cetakan 1329 H (1910-1911).

Banyak orang bertanya-tanya, seperti apakah sesungguhnya 'Mushaf Bahriyah' itu? Dalam kesempatan kunjungan ke Istanbul, Turki, pada 2011, penulis menemukan mushaf Al-Qur’an Bahriyah terdapat dalam koleksi Beyazit Devlet Kutuphanesi, sebuah perpustakaan pemerintah di sebelah Masjid Beyazid II, Istanbul, dengan nomor koleksi V 4119 M. Mushaf tersebut tersebut berukuran agak kecil, yaitu 17,5 x 10,5 cm, tebal 3 cm. Cover mushaf berwarna coklat dengan hiasan berbentuk segi empat dan motif floral yang dicapkan pada permukaan cover dengan teknik cap timbul (blind stamping ). Halaman beriluminasi pada awal mushaf berisi Surah al-Fatihah dan Surah al-Baqarah ayat 1 – 5. Iluminasi bermotif floral dan geometris berwarna hijau, kuning, merah, dengan garis hitam. Khat yang digunakan adalah Naskhi yang ditulis indah.

Cetakan Menara Kudus, 1974.

Sistem penulisan mushaf yang digunakan adalah “ayat pojok”, yaitu setiap halaman diakhiri dengan penghabisan ayat. Tidak ada ayat yang bersambung ke halaman berikutnya. Setiap juz berisi 20 halaman, dan selalu diawali di  halaman sebelah kiri. Sistem ini biasa digunakan dalam mushaf-mushaf asal Turki, khususnya dalam bentuk cetakan.

Mushaf ini ditutup dengan doa Khatam Al-Qur'an, dan sebuah kolofon dalam bahasa Turki yang menyatakan bahwa mushaf ini telah ditashih oleh badan yang berwenang. Di bagian bawah halaman tashih ini terdapat tulisan “Matba’ah Bahriyah” berbentuk bundar. Sesuai angka yang terdapat dalam kolofon, mushaf ini dicetak pada tahun 1329 H (1910-1911). [Ali Akbar]

Berita Terkait