Penelitian Proses Belajar Mengajar Al-Qur’an Braille bagi Tunanetra 2015

Sebagai sumber ajaran Islam sekaligus petunjuk hidup bagi umat Islam, sudah sepatutnyalah setiap muslim membaca, memahami, mentadabburi dan sekaligus mengamalkan Al-Qur’an. Hal ini berlaku untuk semua umat Islam tak terkecuali bagi mereka yang tunanetra. Sama dengan umat Islam pada umumnya, kebutuhan akan Al-Qur’an (Braille) bagi tunanetra muslim juga merupakan kebutuhan yang utama. Dengan dapat membacanya, mereka diharapkan memahami ajaran agama dan dapat menjalankan aturan agama dengan pemahaman yang baik. Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran membaca Al-Qur’an Braille secara masif, efektif, dan terus-menerus di kalangan tunanetra muslim.

Pembelajaran Al-Qur’an akan terus berlanjut dan diwariskan dari generasi ke generasi demi terpeliharannya Al-Qur’an sebagaimana yang telah dijanjikan Allah (QS. Al-Hijr: 9). Allah juga telah memberikan garansi bahwa kitab-Nya mudah dipelajari (QS. Al-Qamar: 17, 22, 32, 40), sehingga siapa pun mendapat kesempatan yang sama dalam belajar dan mendalami Al-Qur’an, termasuk mereka yang memiliki kelainan fisik seperti tunanetra.

Sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No. 4 Tahun 2007 tentang Penyandang Cacat bahwa bahwa setiap penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama dengan kelompok masyarakat lainnya. Dalam pasal 6 disebutkan bahwa setiap penyandang disabilitas berhak mendapatkan pendidikan dalam semua satuan, jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Selain itu, penyandang disabilitas juga berhak mendapatkan aksesibilitas yang sama. Yang dimaksud aksesbilitas adalah kesempatan yang sama dalam memperoleh pelayanan. Hak aksesibilitas juga berarti hak mendapatkan kemudahan yang sama.

Sejauh ini, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kelompok penyandang disabilitas masih menemui kendala dalam mendapatkan pelayanan keagamaan, khususnya yang beragama Islam, belum sepenuhnya mendapatkan aksesibilitas kemudahan mendapatkan pengajaran Al-Qur’an. Tidak hanya mushaf Al-Qur’annya saja yang masih sulit didapatkan -tidak semudah di kalangan masyarakat awas- tetapi juga metode yang digunakan pun masih beragam dan belum mempunyai standar yang sama.

Hingga saat ini, terdapat beberapa metode pembelajaran membaca Al-Qur’an Braille yang sudah diterapkan di berbagai lembaga penyelenggara pendidikan khusus maupun yayasan penyantun tunanetra di beberapa wilayah di Indonesia. Materi pelajaran juga diambil dari sumber-sumber yang beragam di antaranya Iqra’, al-Baghdady, Ummiy, luqbah, qiro’ati, sam’an, dan lain sebagainya. Pada praktiknya, beberapa lembaga penyelenggara pembelajaran Al-Qur’an Braille masih mencari metode pembelajaran yang benar-benar cocok dan efektif, yaitu sesuai bagi peserta didik tunanetra, dapat diaplikasikan dengan minim/tanpa kendala, serta membuahkan hasil yang baik sesuai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini menjadi penting dan diperlukan untuk mengamati dan mengidentifikasi metode pembelajaran Al-Qur’an Braille yang digunakan oleh beberapa yayasan dan lembaga penyantun tunanetra dan kemudian membandingkannya, sehingga dapat diketahui efektifitasnya. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mendapatkan data tentang proses pembelajaran Al Qur’an Braille di yayasan atau lembaga penyantun tunanetra.
  2. Mendapatkan data jenis metode pembelajaran Al-Qur’an Braille bagi tunanetra.
  3. Mendapatkan data tentang berbagai sumber bahan ajar membaca Al-Qur’an Braille.
  4. Memperoleh gambaran tentang adaptasi dan modifikasi metode, bahan ajar, dan media/alat yang dilakukan.
  5. Mendapatkan data tentang kendala dalam pembelajaran Al-Qur’an Braille dan solusinya.
  6. Mendapatkan data tentang kelebihan dan kekurangan dari berbagai metode yang digunakan.

 

Adapun temuan penelitian yang dilaksanakan di beberapa yayasan dan lembaga penyantun tunanetra adalah sebagai berikut:

  1. Yaketunis, Yogyakarta: Qawaidul Imla - Buku ini merupakan buku pertama yang digunakan Yaketunis dalam memperkenalkan baca tulis Arab kepada tunanetra. Buku ini berisi tuntunan menulis huruf Arab Braille yang ditulis pada tahun 1967 oleh Fuady Aziz, BA. Cara Cepat Belajar Arab Braille - Buku ini disusun oleh Ahmad Maskuri, S.Pd seorang tunanetra pengajar Qiraat di Yaketunis lulusan UIN Kalijaga jurusan PAI. Iqra Braille - Buku Iqra Braille adalah buku Iqra awas yang di braillekan sehingga apa adanya yang tertulis dalam Iqra awas dikonversi ke Braille Arab. Metode Ummi - Metode ini tidak jauh berbeda dengan Iqra Braille yang digunakan di Yaketunis untuk melatih tunanetra melancarkan rabaan dan bacaannya.
  2. Sahabat Mata, Semarang: Metode 10 jam (‘asyrah as-sa’ah). Metode ini menggunakan Bahan buku ajar yang diadaptasi dari bahan ajar metode al-Bagdadi dan metode qiraati dalam bentuk yang masih sederhana. Metode Al-Bagdadi diadaptasi dalam mengenalkan huruf hijaiah. Pengenalan huruf dilakukan dengan teknik analisis/menguarai, yaitu dengan menyebut nama huruf, dan harakat, sehingga melahirkan bunyi bacaan. Sedangkan bentuk-bentuk latihannya mengadaptasi dari metode Qiraati. Contoh disusun dengan teknik pengulangan, sehingga dengan membaca contoh, peserta didik bisa segera mengerti dan memahami. Digagas sejak 2008 oleh Ibn Abdillah, metode ini cukup berhasil mengantarkan para tunanetra untuk mengenalkan huruf Arab Braille. Bentuknya yang masih sederhana, bahan ajar metode ini mencakup materi yang masih mendasar, belum menyentuh hukum-hukum bacaan Al-Qur’an secara lengkap. Hukum-hukum bacaan Al-Qur’an baru diajarkan ketika sudah mulai masuk belajar membaca Al-Qur’an. Adapun penerapan metode ini sesuai desainnya dilakukan sebanyak 10 jam pelajaran. Dengan 10 kali pertemuan, diharapkan peserta didik dapat menguasi pengenalan huruf Arab Braille, dan mampu membaca kode-kode Braille dalam rangkaian kata maupun kalimat.
  3. Raudhotul Makfufin, Tangerang Selatan: Iqro Braille - Buku ini disadur dari buku Iqro karangan H. As’ad Humam (penemu metode Iqro). Mengingat huruf arab Braille tidak mengenal bentuk awal, tengah dan akhir, juga sistem penulisannya berbeda, sehingga penulisan ulang buku ini tidak dilakukan secara keseluruhan tapi lebih diringkas lagi disesuaikan dengan kebutuhan pengajaran. Buku ini adalah buku pertama yang dibuat untuk membantu pengajaran dalam hal latihan membaca tapi konsep awal tetap disampaikan secara langsung oleh pengajar agar tidak membingungkan tunanetra. Sekarang buku ini sudah tidak digunakan lagi sejak dibuat buku baru yaitu Pandai Membaca Al Qur’an Braille. Buku Pandai Membaca Al-Qur’an Braille - Buku ini khusus dibuat untuk tunanetra dengan sistematika penulisan diawali dengan pengenalan simbol huruf arab Braille, tanda syakl dan rangkaiannya secara bertahap dengan menambahkan latihan-latihan membaca. Buku ini masih terus disempurnakan dengan melihat kelemahan dan kekurangan yang ditemui dalam proses kegiatan pengajaran. Buku Ilmu tajwid - Buku ini dibuat khusus untuk tunanetra yang disesuaikan dengan sistem penulisan Al Qur’an Braille. Seperti buku tajwid pada umumnya, buku ini menjelaskan hal-hal yang penting untuk diketahui santri tunanetra yang dimulai dengan penjelasan tentang makhorijul huruf, hukum-hukum bacaan, sifatul huruf dll.
  4. Yayasan Sam’an, Bandung: Metode Sam’an - Buku Panduan Arab Braille Sam’an ini terbilang ringkas, karena hanya terdiri dari 35 halaman. Secara garis besar, buku panduan ini terdiri dari empat bagian, yaitu Bagian Satu Mengenal Huruf Hijaiyah, Bagian Dua Mengenal Bunyi, Bagian Tiga Problematika Bacaan, dan Bagian Empat adalah Latihan Membaca. Buku ini dibuat dalam dua versi, yaitu versi awas dan versi Braille. Versi awas sendiri dibuat bagi kalangan orang awas yang berminat mempelajari metode Sam’an dan untuk diterapkan atau diajarkan pada orang-orang tunanetra yang masih awam dalam baca tulis Al-Qur’an.
  5. YPAB Surabaya: Buku panduan belajar membaca Al-Qur’an Braille berbasis kesamaan dan persamaan simbol yang disusun oleh Zainul Muttaqin, P.hD. Adapun prinsip mengacu kepada pengetahuan yang sudah dimiliki, penulis wujudkan melalui pola penyajian materi. Dalam pengenalan huruf-huruf hijaiyah misalnya, penulis tidak menyampaikannya berdasarkan urutan huruf, melainkan memulai dari huruf-huruf Braille Arab yang sudah dikenal sebelumnya, yaitu huruf-huruf yang memiliki kesamaan dan persamaan dengan huruf Braille Latin. Contoh: huruf-huruf alif, ba, ta, jim, dal, ro, za, sin, fa, qof, kaf, lam, mim, nun, wau, ha, dan ya; memiliki lambang yang sama persis dengan huruf-huruf: a, b, t, j, d, r, z, s, f, q, k, l, m, n, w, h, dan i. Di samping itu, terdapat dua huruf Braille Latin yang diadopsi menjadi Huruf-huruf Arab Byaitu, v dan x menjadi lam alif dan kho. Selanjutnya, sedikit demi sedikit penulis memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah yang tidak diadopsi dari abjat Braille Latin. Misalnya huruf-huruf: tsa, ha, dzal, syin, shod, dlod, tho, dzo, ‘aoin, ghin, dan hamzah. Demikian seterusnya, sampai pada bagian ahir, materi dalam buku panduan ini disajikan berdasarkan simbol-simbol yang sudah dikenal sebelumnya oleh siswa.

 

Kesimpulan

  1. Metode pengajaran Al-Qur’an Braille pada penyandang tuna netra di masing-masing daerah berbeda-beda dan masih mencari model dan adaptasi.
  2. Bahan ajar pun disusun dari sumber-sumber pengajaran untuk orang awas dengan modifikasi yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan.
  3. Masing-masing metode dan bahan ajar mempunyai kelebihan dan kekurangan yang dapat disempurnakan bila kita memadukannya menjadi sebuah metode baru.
  4. Beberapa kendala yang ditemukan berkisar pada kurangnya perhatian pemerintah dalam pengajaran agama khususnya Al-Qur’an bagi tuna netra. Hal itu dapat dirasakan oleh mereka seperti minimnya guru agama yang mampu mengajar Al-Qur’an Braille dan tidak tersedianya bahan ajar yang standar.

 

Rekomendasi

  1. Hasil kajian ini nantinya diharapkan dapat digunakan Lajnah Pentashihan Musaf Al-Qur’an sebagai bahan penyusunan metode belajar Al-Qur’an dan hasil penyusunannya kemudian dilakukan uji terap di sejumlah tempat. Untuk itu pengembangan dari penelitian ini dapat didukung sampai diterbitkannya modul pengajaran Al-Qur’an Braille.
  2. LPMA sudah memiliki buku pedoman membaca Al-Qur’an yang baik meskipun dinilai beberapa pengajar Al-Qur’an Braille hanya bisa digunakan oleh pengajar karena materinya terlalu tinngi. Untuk itu diharapkan dapat dikembangkan lagi dan disosialisasikan kepada guru-guru Braille di daerah dengan melakukan pelatihan secara berkala.

Berita Terkait