Seperangkat Pengetahuan yang Harus Dimiliki Penashih Al-Qur'an

 

Secara mental, untuk menjadi seorang penashih Al-Qur'an yang baik dibutuhkan sikap ikhlas, teliti, ulet, sabar dan cinta kepada Al-Qur'an. Adapun secara empirik seorang penashih Al-Qur'an harus memeliki seperangkat pengetahuan khusus dalam kajian ulumul Quran, seperti: ilmu rasm, ilmu dhabt, ilmu waqaf ibtida', ilmu 'addil ay, ilmu qiraat, ilmu makky wal madani, dan sebagainya.

Seiring dengan berkembangnya tugas Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ), lembaga di bawah Kementerian Agama yang menjadi tempat penashih bertugas, mereka juga diharuskan menguasai pengetahuan teknis lainya di luar ulumul Qur'an, seperti ilmu penulisan Al-Qur'an Braille, penulisan Al-Qu'an transliterasi Arab-Latin dan penulisan Al-Qur'an sistem tajwid warna.

Berikut ini definisi singkat seperangkat keilmuan yang harus dimiliki seorang penashih Al-Qur'an beserta contoh terkait.

 

  1. Ilmu Rasm

Ilmu rasm adalah ilmu yang mempelajari penulisan mushaf Al-Qur'an pada masa Khalifah Usman serta perbedaannya dengan rasm imlai.

Contoh: penulisan الم dalam ilmu rasm termasuk pembahasan bab al-hadf (membuang huruf). Kata الم tidak perlu ditulis lengkap sesuai ucapan الف لام ميم , tetapi cukup ditulis dengan hurufnya saja. Cara penulisan ini berlaku untuk semua huruf-huruf pembuka pada 29 surah Al-Qur'an. Semua riwayat dan semua mushaf sepakat penulisan الم .

Seorang penashih harus mempunyai kepekaan terhadap rasm usmani. Misalnya ketika menashih ayat ملك يوم الدين tertulis مالك يوم الدين maka harus dikoreksi dengan perintah menghapus huruf alif setelah huruf mim dan memberi harakat fathah tegak pada mim-nya menjadi ملك . Karena dalam rasm usmani semua riwayat sepakat untuk membuang alif-nya.

Kecuali jika yang ditashih adalah mushaf Bahriyah (ilmai) maka penulisan yang benar adalah menggunakan alif setelah mim مالك . Oleh karena itu, pada kata ملك ini bisa dilakukan deteksi awal, apakah mushaf tersebut ditulis dengan rasm usmani apa ditulis dengan rasm imlai. Mushaf Menara Kudus ditulis dengan imlai karena tertulis مالك bukan ملك .

Sedang untuk deteksi awal penggunaan riwayat rasm, bisa melihat pada kata الصراط. Jika ditulis tanpa alif الصرط maka mushaf tersebut ditulis dengan mentarjih riwayat Abu Dawud. Sedangkan jika ditulis dengan alif الصراط berarti mushaf tersebut menggunakan riwayat Imam Ad-Dani.

 

  1. Ilmu Dhabt wa al-Syakl

Ilmu dhabt adalah ilmu yang terkait tanda baca mengenai huruf Al-Qur'an seperti titik, harakat, sukun, tanda mad, syiddah dan lain lain.

Dalam ilmu dhabt dikenal dua sistem berkembang hingga saat ini: pertama, sistem Masyriqi dan kedua sistem Maghribi. Pada penulisan dhabt الم ada berapa perbedaan penulisan tanda baca:

  • Mushaf Indonesia: diberi tanda Mad Lazim pada huruf lam dan mim serta tanda syiddah pada huruf mim.
  • Mushaf Saudi: Hanya diberi tanda Mad Lazim pada huruf lam dan mim, tanpa harakat dan tasydid.
  • Mushaf Maroko dan Libya: Diberi hamzah di alif, tanda mad pada lam dan mim serta harakat pada semua huruf. Jangan sampai salah membaca الم dengan "alami"
  • Mushaf Pakistan: sama dengan mushaf Indonesia. Bedanya, mim الم pada awal surah Ali Imran diberi harakat fathah karena setelahnya ada lafdhul jalalah الله. Sedangkan pada mushaf Indonesia tidak ada harakatnya.

Mengapa diberi harakat? Karena ketika wasal dengan selanjutnya bacaannya disambung dengan harakat fathah: Alif laam miimallah, dst.

Kelima mushaf ini berbeda pemberian dhabt-nya, kecuali mushaf Libya dan Maroko yang sama.

 

  1. Ilmu Addil Ay

Yaitu ilmu yang membahas jumlah ayat dalam suatu surah, mana permulaan ayat dan mana akhir ayat.

Mushaf Madinah, Indonesia dan Pakistan boleh berbeda pada ilmu dhabt-nya, tetapi pada penghitungan ayat ketiga mushaf ini sepakat الم adalah ayat pertama dari surah Al Baqarah. Semua mushaf mengikuti perhitungan Ulama Kufah yang berjumlah 6236 ayat.

Sedangkan Mushaf Maroko dan Libya yang mengikuti penghitungan Madani akhir (6214 ayat) tidak menghitung الم sebagai ayat tersendiri tetapi menyambung sampai kata للمتقين sebagai ayat pertama.

 

  1. Ilmu Waqaf Ibtida'

Ilmu yang membahas kaidah letak waqaf dan ibtida' dalam Al-Qur'an.

Menurut ulama, waqaf pada kata الم adalah waqaf tam atau kafi. Dianggap waqaf tam karena pada kata itu hanya Allah yang mengetahui artinya. Sedang kafi karena makna الم tidak ada yang tau artinya maka wakaf pada kalimat itu adalah karena kalimat setelahnya dapat dipahami (مفيد ،) tidak tam karena kalau waqaf di situ tidak diketahui maknanya.

Penandaan tanda waqaf pada mushaf Indonesia dan Pakistan memberi tanda waqaf huruf ج. Sedangkan mushaf Maghribi dan Libya memberi tanda seperti ص .

 

  1. Ilmu Qiraat

Ilmu yang membahas tentang ragam bacaan para Imam Qurra' dan para perowinya yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw.

Pada ayat ini semua imam Qurro' sepakat membaca الم dengan 6 harakat. Khusus untuk الم pada surah Ali Imran jika disambung dengan kalimat الله maka bisa dibaca dua cara: qasr (2 harakat) atau panjang 6 harakat pada mim-nya.

 

  1. Ilmu Huruf Braille

Huruf Braille adalah huruf yang digunakan oleh tunanetra berupa variasi dari 6 titik. Setiap huruf disimbolkan dengan titik tertentu dari titik satu sampai titik 6. Posisi 6 titik beriringan tiga tiga.

Contoh:

Huruf alif ا disimbolkan dengan titik 1.

Huruf ba ب disimbolkan dengan titik 3.

Huruf ta ت disimnolkan dengan titik 2,3,4,5

Penulisan Al-Qur'an Braille mengadopsi pada tulisan Rasm Usmani. Maka penulisan الم adalah sebagai berikut:

Alif: titik 1

Lam: titik 1,2,3

Tanda Mad Lazim: titik 2,4,6

Tasydid: titik 6

Mim: titik 1,3,,

Tanda Mad Lazim: titik 2,4,6

Tanda Akhir ayat:titik 2,3,5,6

Tanda waqaf Jim: 2,4,5

 

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an terus mengembangkan kemampuan penashih untuk menguasai berbagai ilmu yang terkait penashihan, termasuk kemampuan membaca huruf Braillle. [Ed: Bagus Purnomo].

Berita Terkait