Masjid Ba'alwi Singapura: Tempat Beribadah Merangkap Museum: Catatan Perjalanan

Ada sebuah pameo bagi pelancong ke Singapura: “Belum dikatakan berkunjung ke Singapura sebelum sampai ke Taman Merlion. Namun bagi sebagian kalangan, pameo ini diubah menjadi: “Belum dikatakan berkunjung ke Singapura jika tidak berkunjung ke Masjid Ba’alwi.

Sebagaimana umumnya, Masjid Baalwi yang terletak di daerah Perumahan Bukit Timah adalah salah satu masjid yang dijadikan sebagai tempat beribadah kaum muslim Singapura. Masjid ini didirikan oleh Habib Muhammad bin Salim bin Ahmad bin Hasan al-‘Aththas pada tahun 1952. Ia menjadi istimewa karena di samping sebagai sarana ibadah, masjid ini oleh pemiliknya sekarang, al-Habib Hasan bin Muhammad bin Salim bin Ahmad bin Hasan al-‘Aththas (anak dari pendiri masjid ini),  juga dijadikan sebagai museum, terutama tentang peradaban Islam. Dikatakan demikian, karena masjid ini tidak hanya mengoleksi berbagai benda peninggalan peradaban Islam dari berbagai belahan dunia, namun juga terdapat beberapa koleksi berupa Taurat (Kitab Perjanjian Lama) dan Injil (Kitab Perjanjian Baru). 

Pada pertengahan September 2017, kami berkesempatan berkunjung ke masjid ini. Tujuan utama kami adalah untuk melakukan penelitian tentang manuskrip Al-Qur'an Nusantara yang tersimpan di sana. Dengan diantar seorang teman dari Darul Quran Singapura, kami langsung mendapat sambutan hangat dari pemilik masjid ini, Habib Hasan al-‘Aththas. Setelah menyampaikan maksud kedatangan, kami langsung diajak sang tuan rumah untuk melihat koleksinya. Dimulai dari serambi kanan masjid. Berbagai mushaf Al-Qur'an dipajang di sana. Ada juga deretan mushaf yang disertai terjemahan dari berbagai negara. Yang paling menarik perhatian  adalah Al-Qur'an yang dicetak oleh seorang biksu Budha dari China. Menurut Habib Hasan, biksu Budha ini tertarik untuk mencetak Al-Qur'an karena menilai banyak kesamaan ajaran Budha dengan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur'an. Mushaf Al-Qur'an itu kemudian dibagikan ke komunitas muslim yang ada di China.

Selanjutnya kami dibawa ke tempat yang tidak semua orang bisa masuk. Hanya bagi tamu tertentu yang diizinkan tuan rumah. Hal ini ditujukan untuk menjaga kelestarian koleksi yang disimpan di dalamnya. Begitu kami masuk, kami disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan. Berbagai manuskrip Al-Qur'an dipajang di sana. Mulai dari yang berasal dari Turki, Asia Tengah, hingga Indonesia. Kami diberi penjelasan singkat mengenai asal-muasal manuskrip Al-Qur'an yang ada di sana.

Tanpa diduga sama sekali, tuan rumah selanjutnya mengajak kami ke ruang berikutnya yang sudah dipenuhi hidangan makan siang. Menu ala Arab. Tuan rumah langsung mempersilakan kami untuk menikmati hidangan yang ada dan bahkan ia sendiri yang menuangkan nasi beserta lauknya ke piring kami. Sungguh sebuah kejutan yang luar biasa. Menurut salah seorang kerabatnya, memang begitulah Habib Hasan. Setiap tamu yang datang, beliau sendiri yang langsung melayani para tamunya, siapa pun dan dari kalangan mana pun. Apakah tokoh besar, orang penting, atau tamu biasa, semua akan dilayani Habib dengan senang hati. Ia tidak mebeda-bedakan status tamunya. Karena itu, banyak orang yang senang berkunjung ke masjid ini, bahkan dari kalangan non-muslim. 

Acara makan siang ditutup dengan suguhan teh manis. Lagi-lagi, sang Habib yang langsung menghidangkannya kepada kami semua. Acara makan siang ini berakhir dengan dikumandangkannya azan solat Zuhur. Kami pun bersiap-siap untuk melaksanakan solat Zuhur berjamaah. Imamnya adalah Habib Hasan sendiri.

Selesai solat Zuhur, kami memulai tugas untuk melakukan penelitian manuskrip Al-Qur'an Nusantara koleksi Masjid Ba’alwi. Dalam pengamatan kami, setidaknya ada sembilan naskah mushaf Al-Qur'an kuno yang berasal dari Indonesia yang disimpan di sana. Hal ini dapat diketahui berdasarkan keterangan dari sang empunya naskah dan caption yang tersedia di setiap naskah. Kami diberi keleluasaan yang besar untuk melaksanakan penelitian di sana. Dengan didampingi seorang kerabat Habib, kami mulai melakukan penelitian.

Satu persatu naskah mushaf Al-Qur'an kuno kami keluarkan dari rak penyimpnannya. Kami melakukan pengamatan untuk mengetahui hal-hal terkait fisik naskah dan dituangkan dalam catatan kodikologi. Tidak lupa, kami melakukan pemotretan setiap naskah untuk dokumentasi. Ini diperlukan karena penelitian ini akan kami teruskan di tempat kerja. Keterbatasan waktu untuk melakukan penelitian secara tuntas di sana menjadi pertimbangan kami untuk mendokumentasikan bagian-bagian tertentu dari naskah Al-Qur'an tersebut.

Secara umum, naskah kuno Nusantara yang ditemukan di sana berasal dari Indonesia. Menurut keterangan al-Habib, awalnya beliau hanya punya satu koleksi Al-Qur'an Nusantara. Sering berjalannya waktu, koleksinya bertambah hingga sembilan karena banyak warga dan kenalan beliau yang menyumbangkan koleksi mereka untuk disimpan di Masjid Ba’alwi. Kerelaan mereka menyerahkan naskah untuk disimpan di masjid ini karena menyaksikan bagaimana kesungguhan Habib Hasan dalam merawat koleksinya. Rak penyimpanan yang disediakan merupakan rak khusus yang dipesan untuk menyimpan naskah dan diberi zat kimia di bagian bawah untuk menjaga keutuhan naskah. Suhu ruangan dan tingkat keterangan cahaya juga diatur dengan baik. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar naskah yang dikoleksi di sana tidak cepat rusak ditelan masa.

Dari sembilan naskah yang diteliti, terdapat enam naskah yang disalin di atas kertas daluang, dan sisanya menggunakna kertas eropa. Kondisi naskah secara umum cukup baik walaupun beberapa naskah sudah ada yang hilang bagian awal dan akhirnya. Naskah-naskah yang sudah rusak direstorasi menggunakan tisu jepang dan jilid yang sudah rusak diperbaiki. Bahkan, sebagiannya sudah diganti sampulnya karena sudah rusak dan hilang. Semua naskah disalin menggunakan rasm imlai dan qiraat Hafsh.

Diselingi dengan salat ashar, kami menyelesaikan kegiatan penelitian pada pukul 17.00 waktu Singapura. Sudah waktunya bagi kami untuk pamit kepada tuan rumah. Sebagai kenang-kenangan, kami menyerahkan poster Mushaf Istiqlal kepada Habib Hasan dan beliau memberi kami sebuah mushaf Al-Qur'an yang berasal dari Turki. Al-hamdulillahirabbil alamin....

 

 

Berita Terkait