Mengenal Mushaf Koleksi Museum La Galigo (2)

Kondisi kertas mushaf ini terlihat kekuning-kuningan karena lembap, dan pada beberapa halaman awal dan akhir sudah rapuh dan sobek. Namun demikian tulisan teksnya masih cukup jelas. Naskah ini ditulis menggunakan kertas Eropa dengan cap kertas Pro Patria. Ukurannya 32 x 19,5 cm. Mushaf ini terdiri dari 492 halaman. Warna tinta hitam digunakan untuk menulis teks ayat, sementara iluminasi menggunakan tinta hitam dan merah. Jumlah baris pada halaman biasa 17 baris. Sementara qiraat yang dipakai pada mushaf ini adalah qiraat Nafi' riwayat Qālūn.

Teks ayat dan doa khataman Al-Qur’an pada mushaf ini ditulis menggunakan khat naskhi. Manuskrip Al-Qur’an ini tidak memiliki nomor halaman dan nomor ayat, hanya saja antarayat dipisahkan dengan titik hitam dan diberi tanda lingkaran dengan garis tepi berwarna merah. Pada halaman belakang terdapat kertas putih yang menerangkan riwayat naskah sebagai berikut: Asal QURAAN :   Desa Balang Dati II Jeneponto / Dimiliki sejak tahun 1855 (1271) / oleh Almarhum Manggaweng Dg Sinabung / kemudian pindah kepada anaknya / Mallombasi Dg Tayang terakhir kepada / Cucunya Saniasa. Catatan tersebut ditulis dengan mesin ketik kecuali angka tahun '1271' yang ditulis dengan tangan.

Setiap kepala surah dibingkai dengan garis merah. pada bingkai tersebut dijelaskan nama surah, makiyyah atau madaniyyah, dan jumlah ayat yang ditulis dengan tinta merah. Untuk awal juz tidak ditulis dengan tinta merah, tetapi warna hitam dan ditebalkan hurufnya dan terdapat hiasan pinggir yang menunjukkan juz tertentu.

Bingkai teks dalam mushaf ini mengambil bentuk tiga garis lurus berwarna hitam dan merah. Bingkai hias pada mushaf ini terdapat di pembukaan dan akhir mushaf, sedang pada pertengahan tidak ada bingkai berhias seperti umumnya mushaf-mushaf di Asia Tenggara. Hanya saja di pertengahan mushaf, pada lafaz وليتلطف ditulis menggunakan huruf tebal berwarna hitam.

Berita Terkait