Khazanah Mushaf Al-Qur’an Kuno di Maluku (Bag 2)

Mushaf 8. Mushaf ini dari Morella, Leihitu, Maluku Tengah. Ukuran 29,5 x 20,5 cm., tebal 6 cm. Kertas dluwang, tanpa sampul. Beberapa halaman bagian depan mushaf hilang, namun bagian akhir masih lengkap. Bersama tiga mushaf dan sejumlah naskah lainnya, mushaf ini disimpan di sebuah koper besi tua.

Mushaf 8

Mushaf 9. Mushaf ini dari Morella, Leihitu, Maluku Tengah. Ukuran 23,5 x 17,5 cm., tebal 3,5 cm. Kertas Eropa, tanpa cap kertas. Kondisi mushaf rusak, tanpa sampul, bagian depan dan akhir mushaf telah hilang.

Mushaf 9

Mushaf 10. Mushaf ini dari Morella, Leihitu, Maluku Tengah. Ukuran 24,5 x 17 cm., tebal 7 cm. Kertas dluwang (kulit kayu), tanpa sampul. Bagian depan dan akhir mushaf rusak, lecek, dan sebagian hilang.

Mushaf 10

Mushaf 11. Mushaf ini dari Morella, Leihitu, Maluku Tengah. Ukuran 27 x 17 cm., tebal 5 cm. Kertas dluwang (kulit kayu), tanpa sampul. Mushaf ini terbilang paling lengkap, karena hanya lembaran yang berisi Surah al-Fatihah saja yang hilang. Iluminasi hanya terdapat di awal mushaf, berupa kotak persegi empat dan segitiga di tepi luar halaman. Kaligrafi mushaf cukup bagus, rapi. Kepala surah ditulis dengan tinta merah.

Mushaf 11

Mushaf 12. Sebuah mushaf di Desa Wakasihu, Leihitu Barat, Maluku Tengah. Tidak ada deskripsi terperinci mengenai mushaf ini. Mushaf yang sama pernah tampil pula pada akun facebook atas nama Faisal Mowaviq El Chapra. Dari dua foto yang diunggahnya, sebenarnya memperlihatkan dua buah mushaf, namun keduanya dalam kondisi yang sangat rusak dan tidak lengkap lagi.

Mushaf 12

Mushaf 13. Mushaf koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (Cod.Or.1945) asal Manipa, Maluku. Menurut catatan dalam bahasa Belanda yang terdapat pada mushaf ini, mushaf bertarikh 1694 ini ditulis di Pulau Manipa oleh Batu Langkai, imam Tomilehu, yang telah ditashih oleh empat imam lainnya. Beberapa halaman mushaf ini memuat terjemahan antarbaris dalam bahasa Melayu, dan sejumlah catatan tambahan lainnya dalam bahasa Melayu, Arab, dan Belanda. Kondisi mushaf dalam keadaan baik dan lengkap. Setiap halaman terdiri atas 16 baris. Iluminasi awal mushaf memperlihatkan ‘citarasa’ Eropa yang kuat, bergaya Rococo, berbeda dengan iluminasi di akhir mushaf yang lebih bergaya Nusantara, meskipun mungkin dibuat oleh seniman yang sama. (Foto: Amiq).

Gambar Mushaf 13

Mushaf 14. Mushaf ini disimpan di Masjid Tua Wapaue, Kaitetu, Leihitu, Maluku Tengah. Masyarakat setempat menyebut mushaf ini ‘Mushaf Wahabillah’. Ukuran mushaf 33 x 20,5 cm, tebal 6 cm. Kertas Eropa, dengan cap kertas berupa singa membawa pedang, dan cap tandingan berhuruf “SS & Z”. Kondisi mushaf rusak, tidak lengkap, dan jilidan terlepas-lepas. Berdasarkan bandingan dengan mushaf-mushaf lainnya, dapat dipastikan bahwa mushaf ini adalah cetakan Singapura, akhir abad ke-19.

Gambar Mushaf 14

Mushaf 15. Mushaf cetakan India, milik sebuah keluarga di Seith, Maluku Tengah. Mushaf ini dalam ukuran agak kecil. Berbeda dengan umumnya mushaf cetakan India akhir abad ke-19, mushaf ini, seperti umumnya cetakan Turki, merupakan “Qur’an Pojok”, yang setiap halaman diakhiri dengan penghabisan ayat. Rekabentuk mushaf ini merupakan perpaduan antara tradisi mushaf India dan Turki. Setiap halaman terdiri atas 15 baris, dan setiap awal juz terdapat hiasan bermotif khas Turki. Mushaf ini menggunakan gaya Naskhi Indo-Persia yang berkarakter agak tebal. Pada halaman akhir mushaf terdapat kolofon yang menyatakan bahwa mushaf ini selesai ditulis oleh Mirza Muhammad Ali pada tahun 1288 H (1870-1871) – namun tidak tercantum tarikh pencetakannya.

 

 

[Catatan: Dalam tulisan ini para pemilik mushaf sengaja tidak dicantumkan.]

Berita Terkait