Mengenal Korpus Mushaf Bugis

Salah satu 'anggota keluarga' mushaf Bugis tertua, disalin 1731. Koleksi Perpusnas RI, Jakarta, A.49.

Mushaf-mushaf dari Indonesia timur sangat penting dalam peta penyalinan mushaf di Nusantara. Ini dapat dilihat paling tidak dari empat hal sekaligus, yaitu ketuaannya, luasnya persebaran, lengkapnya kandungan mushaf, dan iluminasinya. Keempat hal ini tampak dalam sejumlah mushaf yang disalin dalam tradisi Bugis.

Kita mengetahui bahwa suku Bugis menyebar ke banyak wilayah Nusantara, dari Ternate di timur, hingga Riau, Johor dan Kedah di barat. Persebaran dan pengaruh Bugis, dalam katalog ini, tampak dalam mushaf-mushaf, khususnya, dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara. Mushaf-mushaf Bugis dari abad ke-18 dan ke-19 dalam buku ini—demikian juga mushaf sezaman lainnya yang ada di sejumlah wilayah Nusantara—memungkinkannya men­jadi suatu korpus tersendiri, yaitu korpus mushaf Bugis. Empat aspek berikut ini menarik untuk diperhatikan.

Pertama, dari segi usia naskah, beberapa mushaf yang berasal dari ‘keluarga’ mushaf Bugis—yang notabene berasal dari kawasan timur—merupakan kelompok mushaf tua di Nusantara, bertarikh abad ke-18 (lihat Akbar 2010: 288). Meskipun penyalinan mushaf diperkirakan telah ada sejak awal islamisasi Nusantara, namun dari bukti yang dapat kita lihat saat ini, mushaf Nusantara tertua berasal dari awal abad ke-17. Dengan demikian, salinan mushaf abad ke-18 dapat dikategorikan sebagai mushaf tua di Nusantara.

Kedua, luasnya persebaran mushaf yang disalin orang-orang Bugis dapat kita lihat di berbagai kawasan Nusantara. Sebuah mushaf di Pulau Penyengat yang disalin di Kedah (kini Malaysia) pada 26 Juli 1753 dan Mushaf Sultan Ternate yang disalin pada 14 Maret 1772 merupakan bukti luasnya persebaran mushaf Bugis di Nusantara sejak abad ke-18. Persebaran tersebut berlangsung terus hingga abad ke-19. Mushaf yang disalin oleh keturunan Bugis abad ke-19 juga ditemukan di kampung Bugis di Bali dan Kalimantan Timur.

Ketiga, yang penting dicatat pula, bahwa mushaf-mushaf yang disalin oleh para keturunan Bugis merupakan mushaf yang dapat dikatakan paling lengkap di Nusantara. Selain teks utama Al-Qur’an, kelengkapan isi mushaf mencakup, di bagian depan, beberapa teks ulumul-Qur’an, daftar imam qiraat, dan di bagian belakang mushaf biasanya memuat doa khatam Al-Qur’an, statistik jumlah huruf Al-Qur’an, kolofon, serta catatan tambahan lainnya yang tidak sama antara satu mushaf dan mushaf lainnya.

Keempat, keluarga mushaf Bugis juga pada umumnya memuat iluminasi yang cukup indah, baik yang disalin pada abad ke-18 maupun abad ke-19. Mushaf A.49 koleksi Perpustakaan Nasional yang disalin pada 1731 (lihat gambar di atas) dihias dengan cukup detail, baik di awal maupun di akhir mushaf. Demikian juga mushaf Sultan Bone yang disalin pada 1804—kini menjadi koleksi Museum Aga Khan di Kanada. Adapun mushaf yang disalin pada abad ke-19 dapat kita lihat dalam beberapa mushaf dari Sulawesi Barat.

Berita Terkait