Mushaf-mushaf Buton

Mushaf milik Hasyim Kudus, Baubau, Buton (detail). (Foto: Ahmad Jaeni dan Mustopa)

Mushaf-mushaf di Indonesia Timur tentu saja bukan hanya dari Bugis. Penyalinan mushaf dila­kukan oleh masyarakat muslim lainnya yang tinggal di berbagai wilayah gugusan kepulauan di Indonesia Timur yang luas.

Ada beberapa kisah tentang sejarah masuknya Islam ke Buton, yaitu dari Patani, Ternate, dan Solor pada abad ke-16. Namun orang Buton lebih mempercayai bahwa Islam masuk wilayah ini dari Solor pada 1540. Karena terutama masalah iklim yang lembap, meskipun Islam telah masuk wilayah ini sejak pertengahan abad ke-16, namun tinggalan mushaf yang dapat kita saksikan saat ini tergolong cukup muda, yaitu sekitar abad ke-19.

Ada beberapa mushaf dari Sulawesi Tenggara, sebagian besar dari keturunan keluarga Kesultanan Buton. Dari contoh yang ada, tampak bahwa mushaf-mushaf Buton memiliki tradisi yang berbeda dari mushaf tetangganya, orang Bugis. Mushaf-mushaf Buton tampaknya hanya memuat teks Al-Qur’an dalam format yang bisa dikatakan sederhana. Dari kertas Eropa yang digunakannya, diperkirakan bahwa naskah-naskah tersebut disalin pada pertengahan abad ke-19. 

Mushaf-mushaf Buton yang masih dapat kita saksikan saat ini, di antaranya milik Hasyim Kudus, seorang pengurus Masjid Agung Wolio, Baubau; milik La Umbu, seorang mantan Camat keturunan keluarga Kesultanan Buton; dua mushaf milik Abdul Mulku Zahari, Baubau, dan koleksi Museum Negeri Sulawesi Tenggara.

 

Mushaf milik La Umbu, keturunan keluarga Kesultanan Buton (detail). (Foto: Ahmad Jaeni dan Mustopa)

Berita Terkait