KH Abu Bakar Shofwan (lahir 1942)

Sekitar 15 km ke arah timur kota Cirebon berdiri Pondok Pesantren Gedongan yang dirintis pada awal pertengahan abad ke-18 oleh KH M. Said, seorang kiai besar di Jawa Barat. Sejak didirikannya hingga tahun 1970 pesantren ini adalah pesantren kitab salaf. KH Abu Bakar Shofwan al-Hafiz memperistri cucu KH M. Said, Nyai Hj. Zaenab binti KH Siroj, dan kedatangannya ke P.P. Gedongan membawa warna baru, yaitu dengan didirikannya Madrasah al-Huffazh. Sebagai pengasuh Pesantren Tahfiz Al-Qur'an pertama di Cirebon, demikian kesaksian KH Said Aqil Siraj, Kiai Abu merupakan tokoh Al-Qur'an yang patut diteladani oleh generasi Al-Qur'an sekarang. Kesederhanaan dan rendah hati selalu tecermin dalam kehidupannya sehari-hari, baik dalam berkhidmat mengajar santri ataupun dalam melayani para tamu pesantren.

Kiai Abu dilahirkan di desa Pejombalangan Kedungwuni Pekalongan pada tahun 1942, dari ayah bernama H. Shofwan bin Muharrir bin Muhammad bin Ahmad Prawiro bin Ahsan Prawiro bin Ahmad Prawiro bin Ahmad Abdullah (Saudara Kiai Khalil Bangkalan) dan ibu bernama Hj. Timu binti Ahmad Jaiz Kudus (Keturunan Sunan Kudus). Abu kecil masuk Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1949, telah mengkhatamkan bacaan 30 juz Al-Qur'an bin-nazar kepada ayahnya, dan melanjutkan mengaji kepada Kiai Syarif Pekalongan. Setelah mengkhatamkan Al-Qur'an pada Kiai Syarif, Kiai Abu melanjutkan mengaji ke Kiai Badawi di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Kiai Abu khatam menghafal Al-Qur'an 30 juz kepada Kiai Badawi selama 4 tahun, yaitu dari tahun 1953 hingga 1959. Kemudian Kiai Abu meneruskan nyantri ke Lirboyo selama 4 tahun, dan oleh pengasuhnya, Kiai Mahrus Ali, Kiai Abu dinikahkan dengan Nyai Zaenab binti KH Siroj bin KH M. Said. Dari pernikahan ini, Kiai Abu tidak dikaruniai keturunan. Kiai Abu dikaruniai tiga orang anak dari pernikahannya dengan Nyai Umul Banin binti H. Sanusi bin Aruman. Ketiga anak itu bernama Minatul Aula (lahir 1993), Abdul Wahhab (lahir 1996) dan Ayu Fitriyah (lahir 2001).

Metode tahfiz yang diterapkan oleh Kiai Abu adalah metode sisir, yaitu menghafal yang dimulai dari belakang setiap juz. Juz pertama yang dihafal adalah juz 30, kemudian pindah ke juz 1 dan seterusnya secara berurutan. Setiap santri yang telah hafal lima juz dilarang melanjutkan hafalan ke juz selanjutnya sebelum benar-benar lancar hafalannya bil-gaib di hadapan kiai. Di pesantren Kiai Abu, santri paling cepat menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur'an selama 7 tahun, rata-rata selama 10 sampai 12 tahun, bahkan ada yang 15 tahun. Kesulitan yang dirasakan santri adalah ketika sima‘an setiap kelipatan lima juz di hadapan kiai. Semakin banyak hafalan, semakin banyak pula kesulitan yang dihadapi santri. Sebagai tambahan bagi santri yang telah sima‘an 30 juz di hadapan kiai, dianjurkan untuk melakukan ritual matangpuluh (40), yaitu berpuasa 40 hari dalam keadaan menjaga wudu, mengkhatamkan hafalan 30 juz per hari dengan posisi menghadap kiblat, serta melakukan amalan-amalan sunah seperti salat tahajud, duha, sunah rawatib, bersiwak dan lain-lain.

 

(Harits Fadlly – Diringkas dari buku Para Penjaga Al-Qur'an, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, 2011)

Kontak

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Gedung Bayt Al-Qur`an & Museum Istiqlal
Jalan Raya TMII Pintu I Jakarta Timur 13560
Telp: (021) 8416468 - 8416466
Faks: (021) 8416468
Web: lajnah.kemenag.go.id
Email: lajnah@kemenag.go.id
© 2023 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. All Rights Reserved