SERI PENAMAAN SURAH AL-QUR’AN: SURAH AL-QARI‘AH/101

Sudah menjadi konsensus para mufasir bahwa surah al-Qari‘ah turun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Hal ini dikemukakan, misalnya, oleh al-Mawardi, Ibnu ‘Atiyyah, al-Qurtubi, asy-Syaukani, dan Ibnu ‘Asyur. Surah yang terdiri atas sebelas ayat dalam hitungan al-kufiyyun (ad-Dani, 1414 H.: 285) ini menempati urutan turun ke-30, yakni setelah surah Quraisy dan sebelum surah al-Qiyamah. Tidak ada keterangan mengenai latar belakang turunnya surah ini.

Surah ini berbicara perihal kejadian-kejadian pada hari Kiamat. Diinformasikan oleh surah ini bahwa pada saat itu, manusia berhamburan tidak tentu arah seperti laron yang baru keluar dari sarangnya dan gunung-gunung dengan ringannya beterbangan bagaikan bulu yang tertiup angin. hingga adanya proses penimbangan amal manusia. Siapa yang unggul timbangan amal baiknya, dia akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan di surga. Siapa yang unggul timbangan amal buruknya, dia akan dimasukkan ke dalam Hawiyah, neraka yang sangat panas.

Al-Qari‘ah adalah kata yang digunakan sebagai nama bagi surah yang menempati urutan ke-101 dalam susunan mushaf Al-Qur’an. Nama ini digunakan baik oleh Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia maupun sejumlah mushaf Al-Qur’an dari luar negeri, seperti Libya, Maroko, Tunisia, Mesir, dan Saudi Arabia. Tidak hanya mushaf Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir dan hadis pun menggunakan nama yang sama untuk melabeli surah tersebut.

Nama al-qari‘ah bagi surah ini diadopsi dari kata pertamanya. Kata ini merupakan isim fa‘il dari akar kata yang tersusun dari q-r-‘ yang menunjukkan makna dasar ‘ketukan’ atau ‘pukulan’ (ad-daqq, ad-darb). Dari makna ini muncul makna baru dari kata al-qari‘ah, yaitu ‘bencana yang sangat dahsyat’. Makna dasar ini berkembang pula sehingga al-qari‘ah pun sering dihubungkan dengan makna ‘suara ketukan yang begitu keras sehingga memekakkan telinga’. Pada awal terjadinya Kiamat, muncul suara menggelegar yang timbul akibat kehancuran alam raya. Suara itu begitu keras sehingga tidak saja memekakkan telinga, tetapi juga membuat hati dan pikiran manusia bergetar dan kalut. Adanya kaitan erat antara peristiwa kemunculan suara itu dengan hari Kiamat membuat al-qari‘ah kemudian dipilih sebagai salah satu nama hari Kiamat. Dalam hal ini, al-qari‘ah menjadi nama yang menggambarkan kejadian spesifik pada hari kiamat, seperti halnya al-haqqah (‘peristiwa yang pasti datang’, [al-Haqqah/64: 1]), at-tammah (‘malapetaka’, [an-Nazi‘at/79: 34]), as-sakhkhah (‘suara tiupan sangkakala yang memekakkan’, [‘Abasa/80: 33]), dan al-gasyiyah (‘sesuatu yang menutupi kesadaran manusia akibat kedahsyatannya’, [al-Gasyiyah/88: 1]).

Kata qari‘ah dalam bentuk definit (al-qari‘ah) disebut sebanyak empat kali dalam Al-Qur’an, yaitu tiga kali dalam surah al-Qari‘ah (ayat 1, 2, 3) dan satu kali dalam surah al-Haqqah (ayat 4) (‘Abd al-Baqi, 1364 H.: 543). Kata ini pada keempat ayat tersebut berasosiasi dengan hari Kiamat. Sementara itu, dalam bentuk indefinit (qari‘ah), kata ini disebut hanya satu kali, yakni dalam surah ar-Ra‘d/13: 31. Dalam ayat ini, kata qari‘ah lebih menunjuk pada makna ‘bencana dahsyat’, dengan beragam bentuknya, yang ditimpakan kepada kaum kafir.

Al-qari‘ah diketahui sebagai satu-satunya nama bagi surah ke-101 ini. Oleh karena itu, as-Suyuti tidak memasukkan surah ini ke dalam kelompok surah-surah yang memiliki lebih dari satu nama. Meskipun tidak ada hadis Nabi yang menyebut nama al-qari‘ah secara spesifik, nama inilah yang populer sejak masa sahabat. Salah satu dalilnya adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas berikut.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَوَّلُ مَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ بِمَكَّةَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْهُ بِالْمَدِيْنَةِ، الْأَوَّلُ فَالْأَوَّلُ، فَكَانَتْ إِذَا نَزَلَتْ فَاتِحَةُ سُوْرَةٍ بِمَكَّةَ فَكُتِبَتْ بِمَكَّةَ، ثُمَّ يَزِيْدُ اللهُ فِيْهَا مَا يَشَاءُ، وَكَانَ أَوَّلُ مَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ... ثُمَّ الْقَارِعَةَ ... ثُمَّ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِيْنَ. فَهَذَا مَا أَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَّةَ، وَهِيَ سِتٌّ وَثَمَانُوْنَ سُوْرَةً.

Ibnu ‘Abbas berkata, (Berikut adalah) surah Al-Qur’an yang pertama-tama turun di Mekah dan yang pertama-tama turun di Madinah; surah-surah ini disebut secara berurutan. Jika bagian awal suatu surah turun di Mekah, ia ditetapkan turun di Mekah, kemudian Allah menambahkan ke surah itu apa yang dikehendaki-Nya. Adapun bagian dari Al-Qur’an yang pertama-tama diturunkan adalah (secara berurutan) Iqra’ Bismi Rabbikal-Lazi Khalaq …, lalu al-Qari‘ah, … lalu Wailul-lil-Mutaffifin. Inilah surah-surah yang Allah turunkan di Mekah. Totalnya 86 surah.’”

Riwayat ini secara jelas menyebut nama al-Qari‘ah, satu dari 86 surah makiyah. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu ad-Durais dalam Fada’il al-Qur’an. Riwayat ini memang sangat lemah, namun ada riwayat lain dari jalur berbeda yang mendukungnya. Misalnya adalah riwayat al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah dari ‘Ikrimah dan al-Hasan al-Basri. Riwayat ini, menurut al-Baihaqi, sanadnya sahih (al-Baihaqi, 1988: 142, 144). Adapun menurut ‘Abd ar-Razzaq Husain Ahmad, sanadnya hasan sampai ‘Ikrimah dan al-Hasan al-Basri (Ahmad, 2012: 79). Penyebutan nama al-Qari‘ah juga didapati dalam riwayat Abu ‘Amr ad-Dani dalam al-Bayan fi ‘Add Ay al-Qur’an dari Jabir bin Zaid. Menurut ‘Abd ar-Razzaq Husain Ahmad, sanad riwayat ini hasan hingga Jabir bin Zaid. Namun, menurut Muhammad bin ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Abdillah al-Falih, sanad riwayat ini daif (al-Falih, 2012: 76). Terlepas dari perbedaan penilaian terhadap sanad riwayat-riwayat di atas, sesungguhnya darinya dapat diketahui bahwa nama al-Qari‘ah sudah lazim digunakan sebagai sebutan bagi surah ke-101 Al-Qur’an ini pada masa sahabat dan tabiin. Nama ini pulalah yang kemudian digunakan dalam mushaf-mushaf Al-Qur’an serta kitab-kitab tafsir dan hadis. [Muhammad Fatichuddin]

Berita Terkait