Berbeda dengan Ternate yang memiliki 8 manuskrip Al-Qur’an kuno, Tidore memiliki satu mushaf, dan mushaf ini berada di Museum Kesultanan Tidore. Penulis atau penyalin mushaf tidak diketahui. Mushaf ini sudah tidak utuh lagi, termasuk lembaran terakhir sehingga tidak ada kolofon dan keterangan yang lebih komprehensif terkait dengan identitas mushaf, termasuk tentang masa penyalinannya. Mushaf ini berukuran 28 x 19 x 6 cm dengan ukuran bidang teks 18 x 11 cm. Jumlah baris mushaf ini untuk setiap halamannya adalah 15, sehingga masing-masing juz terdiri sekitar 10 lembar atau 20 halaman lebih. Rasm yang digunakan adalah imlai, namun kata-kata tertentu menggunakan rasm usmani.

Sebagai satuan kerja (satker) yang menangani kegiatan pentashihan mushaf Al-Quran, naskah mushaf yang masuk ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) terbilang sangat banyak dan beragam. Di antara varian mushaf yang terkadang menjadi persoalan di tengah masyarakat adalah mushaf Al-Quran bertransliterasi Arab-Latin. Mushaf transliterasi ini memiliki varian yang beragam, ada mushaf dan transliterasi, mushaf terjemah dan transliterasi, mushaf per kata dan transliterasi, mushaf tajwid dan transliterasi, dan beberapa varian lainnya. Sebagian masyarakat, termasuk sejumlah tokoh agama, menghendaki agar LPMQ tidak meloloskan mushaf transliterasi, karena dinilai membodohi. Tetapi di sisi lain, tingkat kebutuhan masyarakat pada muhaf jenis ini terlihat meningkat. Grafik peningkatan ini setidaknya terlihat pada data pengajuan naskah mushaf Al-Qur’an transliterasi yang masuk ke LPMQ yang diajukan oleh penerbit.

Penulisan mushaf-mushaf Usmani dipicu perselisihan qira'at (multiple reading) yang terjadi saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan pada tahun 28 H (649 M). Tentara Islam dari Syam bergabung dengan pasukan dari Irak. Qira'at keduanya ternyata berbeda. Mereka saling mengklaim bahwa qira'atnya lebih sahih dibandingkan yang lain. Bahkan mereka hampir saling mengkafirkan.

Allah SWT menyebutkan panggilan "istri" dalam Al-Qur’an menggunakan tiga kata, yaitu imra’ah (امرأة), zauj (زوج), dan shahibah (صاحبة), dengan berbagai derivasinya. Kata imra’ah dalam Al-Qur’an disebutkan 26 kali, kata zauj dalam Al-Qur’an disebutkan 81 kali, dan kata shahibah dalam Al-Qur’an disebutkan 4 kali. Pertanyaannya, mengapa Allah SWT menggunakan tiga istilah tersebut untuk mengungkapkan kata istri? Mengapa tidak satu saja, misalnya zaujah saja? Apakah rahasia di balik penggunaan ketiga istilah itu?

Salah satu mushaf Kesultanan Sumbawa ini disimpan oleh keturunan keluarga Dea Bawa, Balla Rea, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Disalin oleh Abdurrahman bin Ayub bin Abdul Baqi as-Sumbawi pada 24 Muharam 1254 H (19 April 1838). Ukuran 32 x 20 cm, 15 baris tulisan per halaman. Kertas yang digunakan buatan Inggris bercap Concordia, ‘Robert Weir 1833’.