Kemenag Launching Al Quran Braille dan Terjemahan 30 Juz

Jakarta (Pinmas) –  Kepala Badan Libang dan Diklat Kementerian Agama, Machasin mengatakan jumlah Al-Quran braille di Indonesia belum memadai bagi penyandang tuna netra di Indonesia. Selama ini ketersediaan Al-Quran braille masih sangat terbatas pada panti dan yayasan tuna netra. Sedangkan bagi penyandang tuna netra di luar yayasan masih belum tersedia.

Machasin mengungkapkan hal ini ketika launching Al-Quran braille dan terjemahan 30 juz bersamaan dengan ekspos produk Badan Litbang dan Diklat Kemenag di Jakarta, Kamis (5/12). “Yang dicetak masih terbatas,” ujar Machasin.

Hadir pada acara ini Sekjen Kemenag Bahrul Hayat dan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Abdul Djamil.

Pada acara ini,  Alquran braille 30 juz dan terjemahan hasil pengembangan Badan Litbang dan Diklat Kemenag diserahkan ke percetakan braille Yayasan Penyantun Wiyata Guna di Bandung. Yayasan ini menyediakan hasil percetakan dengan huruf braille bagi penyandang tuna netra di Indonesia.

Machasin mengatakan, saat ini pihaknya belum memproduksi Al-Quran braille untuk dipasarkan ke masyarakat secara umum. “Kalau ada perusahaan yang mau melakukan itu silahkan,” ujar Machasin.

Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil menambahkan, Kementerian Agama barus menyelesaikan pencetakan Al-Quran braille  30 juz dan terjemahannya pada pertengahan 2013  ini. Sebelumnya pada 2011 lalu, Kemenag melalui Badan Litbang dan Diklat sudah menyelesaikan Alquran braille juz amma.

Dan pada 2012 Badan Litbang dan Diklat sudah menyelesaikan 15 juz pertama dengan terjemahannya.

“Dengan selesainya 30 juz Al-Quran braille dan terjemahannya, Insya Allah pada 2014 akan diproduksi besar-besaran,” ujar Abdul Djamil.

Kepala Percetakan Braille Yayasan Penyantun Wiyata Guna Bandung, Ayi Ahmad Hidayat membenarkan masih belum memadai jumlah Al-Quran braille bagi penyandang tuna netra di Indonesia. Ayi mengungkapkan, selama ini total Al-Quran braille yang telah diproduksi lebih kurang hanya 10 ribu buku. Sedangkan jumlah penyandang tuna netra muslim sekitar dua juta orang. “Ini masih jauh dari kata memadai,” ungkap Ayi .

Karenanya, Ayi  berharap Kemenag dalam waktu dekat segera merealisasikan upaya mencetak Al – Quran braille hasil dari Badan Litbang dan Diklat Kemenag. Ini dikarenakan kualitas Al Quran braille dari pengembangan Kemenag dinilai jauh lebih baik bila dibandingkan Al-Quran braille swasta. (ks/dm).

Berita Terkait