Lautan dan Penyebaran Agama Islam di Nusantara

Jakarta (22/03/2015) - Kondisi geografis Nusantara yang terdiri dari lautan dan gugusan pulau-pulau menjadikan budaya maritim bagian dari budaya bangsa Indonesia. Bisa dikatakan, budaya maritim adalah salah satu faktor pendorong terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mushaf kuno yang disalin penulis Bugis

Tanda juz bergambar perahu pada sebuah Al-Qur’an yang disalin oleh penyalin Bugis.

Budaya maritim memegang peranan penting dalam proses masuk dan menyebarnya Islam di Nusantara. Dari tiga teori tentang masuknya Islam ke Nusantara (teori Gujarat, teori Mekah, dan teori Persia), semua menyebut bahwa pembawa ajaran Islam datang ke Nusantara dengan berlayar menempuh perjalanan laut yang jauh.

Sementara, di Nusantara sendiri, persebaran dan perkembangan Islam tidak terlepas dari kelautan. Penggunaan huruf Jawi (Arab-Melayu) selama empat abad lebih di seluruh kesultanan di wilayah Nusantara, sejak awal abad ke-16, merupakan bukti bahwa pelayaran antarpulau telah terjadi begitu ramai sejak dahulu kala. Hal ini juga tercermin dalam tradisi penyalinan Al-Qur’an kuno di Nusantara. Luasnya jelajahan orang-orang Bugis (suku yang dikenal sebagai pelaut ulung) sedikit-banyak terbukti pada gaya iluminasi (hiasan) dan kaligrafi Al-Qur’annya.

Surat Sultan Abu Hayat, Ternate, tahun 1521, berhuruf Jawi (Arab-Melayu).
Surat Sultan Abu Hayat, Ternate, tahun 1521, berhuruf Jawi (Arab-Melayu).

Iluminasi Al-Qur’an dari Bugis, serta corak diasporanya, ditemukan di berbagai tempat di Nusantara, sejauh pelayaran orang-orang Bugis itu sendiri yang mencapai Sumbawa, Flores, Maluku Utara, Bali, Aceh, Kedah (Malaysia utara), hingga Filipina Selatan. [Dimas, Ali]

* Berita pengantar persiapan pameran.

Berita Terkait