Lajnah Pentashihan Siap Monitor Mushaf Digital

Bogor (Pinmas) —- Pgs. Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMA) Muchlis M Hanafi menegaskan bahwa pihaknya siap memonitor peredaran mushaf Al-Quran digital di Indonesia.  Kesiapan ini disampaikan Muchlis sehubungan dengan komitmen Menag Lukman Hakim Saifuddin untuk  mencermati penggunaan kutipan-kutipan ayat Al-Quran pada media online.

“Kita di Lajnah siap menindaklanjuti arahan dari Menag dan itu merupakan bagian dari tugas dan fungsi LPMA,” terang Muchlis M Hanafi usai melakukan pertemuan bersama Menag LHS di Lembaga Percetakan Al-Quran (LPQ), Ciawi, Bogor, Selasa (24/03). 

Menurutnya, di antara tugas dan fungsi LPMA adalah mengawasi peredaran dan percetakan mushaf Al-Quran, mulai dari versi cetak sampai digital. Namun demikian, Muchlis mengaku bahwa selama ini lembaganya masih terfokus pada  versi cetakan. “Versi digital sejauh ini kita menerima pengaduan masyarakat. Ketika ada pengaduan masyarakat kita tindaklanjuti,” jelasnya. 

Lebih dari itu, LPMA juga akan melakukan digitalisasi mushaf Al-Quran standard Indoensia. Upaya ini menurut Muchlis sudah dilakukan sejak tahun 2014. Hanya, Muchlis mengakui bahwa prosesnya memakan waktu cukup lama. Doktor bidang Ilmu Al-Quran ini berharap digitalisasi mushad Al-Quran standard ini sudah bisa diselesaikan  dua tahun mendatang.

“Dari tahun 2014, dilakukan digitalisasi mushaf Al-Quran standard, mudah-mudahan dua tahun ke depan selesai,” ujarnya.

Revisi Terjemah

LPMA Kemenag juga akan mengajukan usulan revisi terjemah Al-Quran dalam Bahasa Indonesia yang dicetak oleh Mujamma’ Malik Fahd Arab Saudi dan didistribsikan ke Indonesia. Menurut Muchlis, selama ini Mujamma’ Malik Fahd Arab Saudi  menggunakan versi terjemahan tahun 1990. “Kita akan usulkan hasil revisi yang baru. Sebab kita punya versi terakhir itu hasil revisi tahun 1998 – 2002. Yang beredar dicetak oleh Saudi itu versi tahun 1990,” jelas Muchlis.

LPMA juga akan menjalin  kerjasama pentashihan mushaf Al Quran dengan Mujamma’ Malik Fahd. Dikatakan Muchlis bahwa lembaga percetakan Al-Quran yang berkedudukan di Madinah ini mempunyai banyak ahli. “Karena ada beberapa perbedaan, kita akan membangun kesepahaman antara dua lembaga ini dalam pentashihan mushaf Al Quran, apa yang menjadi standard dalam  mengawal kesahihan al Quran,” ujarnya. (mkd/mkd) (sumber kemenag.go.id)

Berita Terkait