Kunjungan Ketua Mahkamah Konstitusi Azerbaijan

Jakarta (18/02/2013) - Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Azerbaijan, Farhad Abdulayev mengunjungi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal. Kunjungan ini dilakukan setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Mahkamah Konstitusi Indonesia yang diketuai oleh Mahfud MD dan Mahkamah Konstitusi Azerbaijan dalam rangka meningkatkan kerja sama antara kedua lembaga. Melalui kunjungannya ke Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, rombongan para pejabat MK Azerbaijan ini ingin mengetahui berbagai macam benda koleksi sejarah dan kebudayaan Islam yang pernah berkembang sejak berabad-abad silam dan perkembangannya hingga saat ini di Indonesia.

Abdul Hakim selaku pemandu menjelaskan kepada para tamu beberapa benda pamer yang menjadi icon BQMI, seperti Mushaf Istiqlal dengan ragam hias dan ornamen yang mencerminkan kekayaan ragam hias dan ornamen yang ada di Nusantara. Selain itu, pemandu juga menjelaskan secara kronologis bagaimana perkembangan mushaf Al-Qur’an mulai dari tradisi tulis tangan zaman dahulu sebelum era cetak, hingga mushaf-mushaf kontemporer. Para tamu terlihat apresiatif melihat berbagai benda koleksi BQMI. Farhad menilai, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan aneka ragam budaya yang mencerminkan akulturasi antara Islam dan masyarakat lokal seperti yang tercermin pada arsitektur bangunan masjid kuno di Indonesia. Terkait dengan koleksi Al-Qur’an kuno, Farhad mempertanyakan kenapa Al-Qur’an kuno yang ada di Bayt Al-Qur’an yang tertua hanya dari abad ke-19, padahal Islam telah berkembang di Nusantara setidaknya sejak abad ke 13 M. 

Kunjungan ini merupakan momen penting dalam rangka menciptakan hubungan kerja sama antar-kebudayaan Islam yang berkembang di wilayah masing-masing. Tidak dapat dipungkiri, Azerbaijan merupakan kota penting dalam sejarah Islam. Pada zaman pertengahan, sekitar awal abad ke-16 pada saat kota-kota Islam sedang dalam masa kemunduran, di wilayah ini justru berdiri Dinasti Safawiyah  yang pada awalnya berasal dari perkumpulan pengajian tasawuf, tarekat Safawiyah, yang berpusat di kota Ardabil, Azerbaijan. Banyak tokoh ilmuwan Muslim yang dilahirkan di negeri ini, antara lain Bahauddin al-Syairazi (pakar ilmu pengetahuan), Sadaruddin al-Syairazi (filosof), dan Muhammad Baqir Ibnu Muhammad Damad (filosof, ahli sejarah, teolog, yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah). Begitu juga dalam bidang fisik dan seni, para penguasa Safawi telah berhasil membangun Isfahan, ibukota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di Nusantara pada saat yang sama, abad ke-15 hingga 16, merupakan masa paling penting dalam kurun sejarah Islam di Indonesia. Islamisasi besar-besaran terjadi di berbagai belahan wilayah Nusantara, dengan berdirinya kesultanan-kesultanan Islam. Tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh, baik politik maupun kebudayaan pada masa itu, mengingat para juru dakwah yang pertama kali di Nusantara banyak di antaranya  adalah para sufi dari Persia.

Mengakhiri kunjungan, rombongan tamu menerima hadiah berupa beberapa produk Lajnah (Booklet BQMI dalam bahasa Arab dan Inggris, Katalog Koleksi BQMI, buku Panduan Wisata Religi dalam Bahasa Arab dan Inggris, serta buku Dokumentasi Masjid Kuno), masing-masing tiga set dan Mushaf Istiqlal Edisi Lux satu set.[]

Berita Terkait