Penulisan Kembali Muhaf Al-Qur'an Standar Indonesia

Menteri Agama Meresmikan Dimulainya Penulisan Mushaf Al-QUr'an Standar IndonesiaJakarta (07/05/2015) - Penulisan kembali Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia secara resmi dimulai pada tanggal 17 Rajab 1436 H/ 6 Mei 2015 M, bersamaan dengan perayaan Milad ke-18 Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal. Ayat pertama Bismillāh ar-Rahmān ar-Rahīm ditulis oleh Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin dan Direktur Pusat Studi Al-Qur’an Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, sebagai tanda dimulainya penulisan.

Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia ditulis sesuai dengan rasm usmani oleh H. Isep Misbah, seorang kaligrafer nasional berpengalaman, kelahiran Sukabumi, Jawa Barat. Mushaf ini ditulis dengan format “Al-Qur’an Pojok”, setiap halaman terdiri atas 15 baris yang diakhiri ujung ayat. Model ini dianggap sangat memudahkan para penghafal Al-Qur’an.

Jenis tulisan yang digunakan adalah Naskhi, suatu jenis khat yang sangat populer dan sudah akrab di mata umat Islam Indonesia dan mayoritas umat Islam dunia. Pemilihan jenis khat ini juga berdasarkan karakter tulisan Naskhi yang tampak formal, mudah dibaca, namun tidak kehilangan pesona estetis kaligrafi Islam. Sementara, tulisan pelengkap seperti nama surah, halaman sampul dan lainnya menggunakan khat Tsuluts. Pemilihan jenis khat ini dengan mempertimbangkan aspek estetis dan kelaziman dalam penulisan mushaf Al-Qur’an.

Kertas yang digunakan memiliki standar kualitas tinggi, yaitu merek “Renoir” 250 gram, buatan Korea Selatan. Kertas ini bertekstur halus dan tahan akan kelembaban cuaca, sehingga memudahkan proses penulisan. Ukuran kertas 60 x 90 cm, dengan ruang tulisan 35 x 59 cm. Adapun tintanya adalah merek “Liquitex Ink” buatan Amerika Serikat. Selain berwarna pekat, tinta ini tidak luntur (waterproof), dan tahan lama.

Alat tulis yang digunakan adalah “qalam Jawi” dari batang induk ijuk pohon aren, dan pena yang terbuat dari batang handam (sejenis tanaman pakis). Kedua jenis tanaman ini tumbuh subur di alam tropis Nusantara. Penggunaan alat tulis tradisional ini, di samping untuk mempertahankan tradisi penulisan kaligrafi klasik, juga dari sisi estetika dan kualitas goresan hasilnya jauh lebih baik daripada alat tulis modern semisal pena logam atau spidol.

Proses penulisan diperkirakan memakan waktu dua tahun. Sebelum ini, Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia Kementerian Agama RI telah ditulis oleh Muhammad Syadzali Sa’ad (1975), Muhammad Abdurrazaq Muhili (1988), serta Baiquni Yasin dan Tim (2001).[aa]

Berita Terkait