Menteri Agama: Pemeliharaan Al-Qur’an Tidak Hanya Teks, tetapi juga Maknanya

Jakarta, Lajnah (12/5/2015). Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menjelaskan, agar pemeliharaan Al-Qur’an tidak hanya mengurusi teksnya saja, namun juga pemaknaannya. “Memelihara dan melestarikan Al-Qur`an tidak cukup hanya dengan menjaga kesahihan teksnya, tetapi juga mengawal pemaknaan teksnya agar tetap baik dan benar. Sejarah panjang umat Islam membuktikan, Al-Qur`an menjadi sandaran bagi seluruh aliran dan mazhab dalam Islam.” Demikian diungkapkan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Milad Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal ke-18, di TMII Jakarta.

Pernyataan Menteri Agama ini penting diperhatikan, mengingat belakangan banyak pihak dan kelompok yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber untuk membenarkan aksi dan tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama Islam. Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan, “Tidak sedikit pandangan keislaman yang menyimpang mencari pembenarannya dalam Al-Qur`an. Pandangan keagamaan ekstrem dan sikap barbarian yang ditunjukkan oleh ISIS, misalnya, selalu dicarikan pembenarannya dalam Al-Qur’an. Padahal secara logika dan akal sehat, pandangan dan sikap tersebut sungguh jauh dari ajaran Islam yang rahmatan lil `âlamîn.” Harus diakui, bahwa belakangan upaya-upaya mencari pembenaran dari kitab suci Al-Qur’an terus bermunculan seiring dengan munculnya paham dan gerakan baru yang muncul di tengah masyarakat, baik di tingkat lokal Indonesia, maupun di tingkat global-internasional.

“Saya meminta agar LPMA dapat menghadirkan pemahaman Al-Qur’an yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah yang ditetapkan al-salafu al-shâlih; moderat dan menghargai keragaman, sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang pluralistik.” Sebab keragaman budaya dan agama yang menjadi aset dan kekayaan bangsa ini harus dijaga dengan baik, salah satunya dengan mengedepankan pemahaman agama, pemahaman kitab suci yang moderat dan toleran. [Must]

Berita Terkait