Menag: Usaha Menjaga Kesucian Al-Qur`an perlu Dilakukan Secara Komprehensif

Jakarta (23/6/2015) - Mentri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menekankan agar upaya menjaga kesucian Mushaf Al-Qur’an dilakukan secara komprehenshif. “Saya berharap, usaha menjaga kesucian Al-Qur`an perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari proses penyiapan naskah, sampai dengan pentashihan, percetakan dan distribusinya di tengah masyarakat, dengan melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat. Selain itu, saya meminta kepada Badan Litbang dan Diklat, dalam hal ini Lajnah pentashihan Mushaf Al-Qur`an, untuk memonitor dan mengawasi peredaran mushaf Al-Qur`an digital yang belakangan ini semakin diminati, seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.” Demikian disampaikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Milad Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal yang ke-18, di TMII Jakarta.

Harus diakui, bahwa keinginan masyarakat Indonesia, khususnya para penerbit, dalam menerbitkan dan mencetak mushaf Al-Qur’an dari tahun ke tahun menunjukan grafik yang terus meningkat. Hal ini setidaknya terlihat dari data yang disampaikan oleh H. Fakhrurrozi, Kasi Pentashihan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMA). Hal demikian terjadi, menurutnya, karena kebutuhan mushaf Al-Qur’an terbilang tinggi mengingat Indonesia tercatat sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, animo yang besar ini tidak selalu dibarengi dengan upaya-upaya yang komprehensif dalam menjaga kesucian mushaf Al-Qur’an. Di tingkat penerbit misalnya, masih banyak penerbit yang tidak memiliki tenaga pembaca atau pentashih internal yang bisa meminimalisir kesalahan pada mushaf yang akan diajukan ke LPMA. Di tingkat pencetakan, tidak sedikit juga percetakan yang melakukan cara-cara yang menodai mushaf Al-Qur’an itu sendiri.

Menteri Agama selanjutnya berharap, bahwa melalui pentashihan, diharapkan tidak ditemukan satu kesalahan pun dalam mushaf Al-Qur`an yang beredar di tengah masyarakat. Tugas ini, menurutnya, tentu tidak mudah, sebab penerbitan dan percetakan Al-Qur`an di Indonesia telah menjadi sebuah industri yang tumbuh dan berkembang dengan sangat dinamis, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat dan tingginya permintaan terhadap mushaf Al-Qur`an. Diantara kendalanya, lanjut Menag, karena berbagai varian mushaf beredar di tengah masyarakat, baik cetak maupun elektronik terus bermunculan dari waktu ke waktu. Artinya, vairiasi cetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia sangat banyak, tidak tunggal sebagaimana Arab Saudi. Namun kendala ini bisa diatasi jika aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh LPMA bisa dijalankan dengan baik oleh penerbit, dan masyarakat sebagai pembaca berperan aktif dalam upaya penjagaan tersebut. [Must]

Berita Terkait