Menteri Agama : Terjemah Kemenag Perlu Disempurnakan

(Bandung, 18/08/2015) - Salah satu tugas Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama RI adalah menyelenggarakan pentashihan Al-Qur’an. Pentashihan dimaksud tidak hanya bertujuan untuk mengawal teks Al-Qur’an, baik cetak maupun digital, namun juga diiringi dengan mengawal pemahamannya, baik melalui terjemah maupun tafsir.

Terjemah Kementerian Agama sudah disebarluaskan kepada masyarakat, salah satunya melalui pencetakan Al-Qur’an dan terjemahnya oleh Mujamma’ Malik Fahd di Madinah. Al-Qur’an dan terjemahnya ini kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada para jamaah haji Indonesia. Terjemah yang dicetak oleh Mujamma’ ini terakhir kali mengalami revisi pada awal 90-an. Setelah hampir 25 tahun, tentu banyak sekali perkembangan, baik itu bahasa maupun konteks masyarakat, yang harus diikuti.

“Beberapa kosakata yang dulu dengan sangat cermat dipilih oleh anggota tim penerjemah Kementerian Agama perlu dilihat kembali apakah dari sisi konteks masih menemukan relevansinya; apakah masih memiliki kesesuaian dengan dinamika kehidupan yang sangat pesat ini. Saya minta kepada Lajnah untuk segera membentuk tim untuk mencermati kata demi kata, bukan saja kalimat demi kalimat, dalam terjemah Kemenag untuk disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan bahasa supaya lebih kontekstual,” demikian pesan Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin, dalam sambutan pembukaannya pada Musyawarah Kerja Nasional Ulama Al-Qur’an di Bandung, 18 Agustus 2015.

Tidak hanya menjaga teks dan terjemahan, yang tidak kalah penting, lanjut Menag, adalah menyajikan tafsir Al-Qur’an. “Pemahaman kita dalam menyerap lalu mengimplementasikan nilai-nilai Islam tentu bersumber dari Al-Qur’an. Adalah tugas kita untuk menjadikan umat Islam terbesar di dunia ini memiliki pemahaman yang bersumber dari tafsir Al-Qur’an yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” lanjut Menag.

Menurut Menag, Mukernas Ulama Al-Qur’an sangat penting karena bertepatan dengan momentum di mana umat Islam pada era globalisasi ini membutuhkan panduan yang kontekstual. Kitab Suci Al-Qur’an adalah kitab yang salih li kulli zaman wa makan, karenanya kontekstualisasi menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari dalam rangka menangkap esensi ayat-ayat suci dalam konteks realitas kehidupan kekinian umat. [fth]

Berita Terkait