Rekomendasi Mukernas Ulama Al-Qur'an 2015

Jakarta (28/08/2015) - Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al-Qur’an diselengga­rakan pada 18 - 21 Agustus 2015 di Gumilang Regency Bandung, Jawa Barat, sebagai upaya Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMA), Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI untuk berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mukernas Ulama Al-Qur’an adalah suatu forum silaturahmi dan diskusi antar-ulama, akademisi, dan cendekiawan untuk membahas dan mencari solusi berbagai problematika bangsa dengan pendekatan Al-Qur’an.

Mukernas Ulama Al-Qur’an diikuti oleh 100 peserta dari 21 provinsi yang terdiri dari para ulama, akademisi, dan peneliti Al-Qur’an dengan mengambil tema “Implementasi Revolusi Mental dengan Pendekatan Al-Qur’an”, dan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. Para peserta Mukernas sepakat menetapkan beberapa butir penting dari pengarahan Menteri Agama sebagai pertimbangan utama. Butir-butir tersebut adalah:

  1. Globalisasi tidak bisa dielakkan lagi, sehingga bangsa ini harus menerima arus globalisasi dengan segala sisinya, baik yang negatif maupun yang positif. Sadar atau tidak, pengaruh globalisasi melalui akses teknologi dan informasi ini, mempengaruhi cara pandang generasi muda kita. Islam melalui kitab sucinya diyakini mampu memberi solusi dalam menghadapi realitas ini.
  2. Pentashihan Mushaf Al-Qur’an diharapkan tidak dibatasi pada teks dalam bentuk cetak, tetapi juga yang berbentuk digital. Sudah seharusnya LPMA mengikuti perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat saat ini.
  3. Terkait terjemahan Al-Qur’an, sudah saatnya untuk mencermati kembali terjemahan Al-Qur’an yang diterbitkan oleh Kementerian Agama. Perlu dilihat kembali relevansinya dari segi konteks dengan dinamika perkem­bangan sosial masyarakat. Oleh karenanya, Badan Litbang dan Diklat agar segera membuat tim yang mencermati secara khusus terjemahan Al-Qur’an.
  4. Selain teks dan terjemahan, tafsir Al-Qur’an menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya, bahkan lebih penting dari dua hal tersebut. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, hendaknya selalu meng­gali dan mengembangkan kandungan Al-Qur’an secara kompre­hensif dan menyeluruh, dengan mempertimbangkan konteks ruang dan waktu, sejalan dengan karakter ajaran Islam yang shâlihun likulli zamân wa makân.

Pada sesi Qadhâyâ Qur’âniyyah Muâshirah, Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab sebagai pembicara kunci (keynote speech) menegaskan, revolusi mental dengan pendekatan Al-Qur’an menjadi urgen dan mendesak untuk segera dilaksanakan, mulai dari individu, keluarga, masyarakat hingga lingkungan yang lebih luas. Revolusi mental merupakan transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas, cara berpikir, cara merasa, dan cara memper­cayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku sehari-hari. Pendekatan Al-Qur’an dalam revolusi mental dimaksudkan agar bangsa Indonesia yang seba­gian besar penduduknya beragama Islam memiliki akhlak, perilaku, dan kebiasaan sehari-hari yang sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Nilai-nilai moral dan ajaran agama tidak untuk sekadar diketahui, namun harus pula ditanam­kan dan diterapkan dalam kehidupan berma­syarakat, berbangsa, dan ber­negara.

Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, dengan memperhatikan pengarahan dan sambutan Menteri Agama RI, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, para narasumber, dan pemikiran yang berkembang dari para peserta, Musyawarah Kerja Nasional Ulama Al-Qur’an mencatat dan mereko­mendasikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Seiring dengan semakin kompleksnya tantangan kehidupan yang begitu dinamis, masyarakat Muslim membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Semangat keberagamaan masyarakat yang semakin meningkat hendaknya juga diimbangi dengan pengetahuan dan tradisi ilmiah yang kuat. Oleh karenanya, Kementerian Agama agar menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan terjemah dan tafsir Al-Quran dengan meng­usahakan penyusunan dan penyesuaian terhadap terjemah dan tafsir Al-Quran.
  2. Sejak ditetapkannya Mushaf Standar dalam Muker Ulama Al-Qur’an pada tahun 1982 dan dikukuhkan melalui KMA. No. 25/1984 sebagai pedoman pentashihan dan penerbitan Al-Qur’an di Indonesia, mushaf ini belum pernah dikaji ulang secara komprehensif, dari segi rasm, dhabth dan waqf-ibtida. Oleh karena itu, LPMA perlu mengkaji kembali dan menyusun naskah akademik terkait berbagai aspek penulisan dalam Mushaf Standar.
  3. Dalam rangka merespons perkembangan bahasa dan dinamika masyarakat, Kementerian Agama perlu melakukan penyempurnaan terjemah Al-Qur`an.
  4. Seiring dengan pesatnya perkembangan penerbitan dan percetakan Al-Qur’an dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan terhadap ketersediaan master Al-Qur’an yang memadai sangat Oleh karena itu, LPMA perlu mela­kukan pengembangan master Mushaf Standar dalam berbagai format, baik cetak maupun aplikasi digital.
  5. Perkembangan teknologi informasi telah mendorong munculnya berbagai bentuk aplikasi Al-Qur’an dalam bentuk digital. Oleh karena itu, LPMA perlu membuat mekanisme pengawasan aplikasi Al-Qur’an unduhan dalam rangka menjaga kemungkinan terjadinya kesalahan.
  6. Terkait bacaan Al-Qur’an, peserta Mukernas mendukung penuh upaya pemerintah dalam mengembangkan tilawah dengan langgam-langgam yang sudah populer, dan menghormati perbedaan pandangan yang mendukung dan yang menolak bacaan langgan Nusantara, dengan segala argumentasinya. Sekiranya langgam Nu­santara dipandang perlu untuk dikembangkan, hendaknya memperhatikan;
    1. Kaidah-kaidah ilmu tajwid, seperti panjang pendek bacaan, makhârijul hurûf, waqaf-ibtidâ`, dan lain sebagainya. Jangan sampai karena terbawa dan terpengaruh langgam, panjang pendek bacaan dan makhârijul hurûf men­jadi tidak tepat, sehingga berpotensi mengubah lafal dan merusak arti.
    2. Adab tilawah, antara lain disertai niat ikhlas karena Allah, menghadirkan kekhusyukan, tadabbur (penuh penghayatan dan pemaknaan/meresapi makna), ta’atstsur dan tajâwub (responsif terhadap pesan ayat yang sedang dibaca).
    3. Tidak berlebihan (isrâf) dan tidak dibuat-buat (takalluf). Langgam bacaan yang berlebihan dan dibuat-buat akan berpotensi melanggar kaidah-kaidah bacaan (tajwid) dan mengalahkan bacaan untuk kepentingan lagu/ langgam.
    4. Langgam yang digunakan hendaknya tidak berasal dari lagu atau langgam yang biasa digunakan dalam hal kemaksiatan atau menjauhkan seseorang dari ingatan kepada Yang Mahakuasa.
    5. Tidak diringi dengan musik yang dapat mengganggu kekhusyukan pemba­ca dan atau pendengar, sehingga tujuan membaca Al-Qur’an, yaitu men-tadabburi nya, tidak tercapai. Sebab Al-Qur’an adalah kalamullâh yang harus diperlakukan berbeda dengan kalam lainnya.
  7. Mendorong Kementerian Agama RI untuk mensosialisasikan karya-karya Tafsir Tematik, Tafsir Ilmi, Tafsir Ringkas dan berbagai bacaan tafsir lainnya setelah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan berdasarkan masukan pada peserta Musyawarah Kerja Nasional Ulama Al-Qur’an. Perbaikan dan penyempurnaan dimaksud meliputi:
    1. Aspek redaksional dengan memaksimalkan proses editing serta mekanis­me kontrol kualitas.
    2. Aspek substansi terkait dengan tema yang dibahas.
    3. Konsistensi penulisan, baik dalam hal sistematika, metodologi, translite­rasi, penulisan istilah, dan sitasi.
  8. Membuat langkah-langkah strategis guna meningkatkan pemahaman yang moderat dan komprehensif terhadap Al-Qur’an dalam menjawab tantangan globalisasi dan meningkatkan peran serta dan kerja sama antara umara dengan ulama dalam memasyarakatkan pemahaman Al-Qur’an.
  9. Mengingat besarnya tugas yang diemban dalam mengawal dan mengawasi mushaf Al-Qur’an yang meliputi tulisan (teks), bacaan, kajian, pemahaman dan dokumentasi, perlu penguatan struktur organisasi LPMA.

Bandung, 21 Agustus 2015

Berita Terkait