Lomba Kaligrafi Al-Qur'an Nasional Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal

Jakarta (07/12/2015) - Kaligrafi sering disebut sebagai “seninya seni Islam” (the art of Islamic art) karena kedudukannya yang sangat istimewa dalam seni budaya Islam. Keindahan kaligrafi Islam tumbuh seiring dengan penyalinan Al-Qur'an. Sejak sekitar dua dasawarsa terakhir, kaligrafi Islam di Indonesia berkembang cukup pesat, dan saat ini telah muncul banyak kaligrafer muda berbakat dan telah memenangkan berbagai lomba tingkat nasional dan ASEAN, bahkan sebagian telah meraih penghargaan internasional. Kemampuan para kaligrafer Indonesia perlu terus ditingkatkan, dan apresiasi masyarakat perlu terus dikembangkan, agar seni kaligrafi Islam semakin mendapat tempat di tengah masyarakat luas.

Dengan latar belakang di atas, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMA) pada tahun anggaran 2015 menyelenggarakan lomba kaligrafi nasional dengan tujuan untuk (1) meningkatkan keterampilan para seniman kaligrafi Indonesia; (2) mencari karya-karya terbaik dalam seni kaligrafi; serta (3) meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kaligrafi Al-Qur’an. Lomba ini terbuka untuk umum. Peserta dipersilakan memilih salah satu dari tujuh pilihan teks ayat Surah Yunus/10:37, Surah al-Isra’/17:9, Surah al-Isra’/17:82, Surah Taha/20:1-4, Surah al-Qamar/54:17, Surah al-Hasyr/59:21, atau Surah Al-‘Alaq/96:1-5. Karya ditulis dengan gaya Tsuluts Jali sesuai kaidah baku penulisan kaligrafi tradisional yang masyhur.

Penjurian dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2015 oleh dewan juri yang terdiri atas para kaligrafer berpengalaman internasional, yaitu Dr. H.D. Sirojuddin AR (Ketua), H Isep Misbah, Syahriansyah Sirojuddin, Lc., Muhammad Assiry Jasiri, S.Pd., dan Atha’illah, M.A. Dari 154 karya lomba, dewan juri memilih 6 juara dan 20 juara favorit. Juara I hingga VI berturut-turut diraih oleh Huda Purnawadi, Muhammad Hamzah, Teguh Prastyo, R Abdul Kadir, Haruni, dan Nasrudin. Sedangkan 20 juara favorit masing-masing diraih oleh Nukman, M Muallimin, Ahmad Syafi’i, H Zainuddin Rais, M Syamsuddin, Syaifuddin, Aziz Kurniawan, Husnul Khotimah, Ali Mili Tamar, Niam Masykuri, M Hendrik Saputra, M Lutfi, Lukman Hakim, S.Kom., Masrum Juweni Nurmansyah, Hasan Basri, Nur Arifin, Aan Hardinata, Rivqi Nasrullah, Rohimin, dan Suhendi. Hasil karya para pamenang menjadi koleksi dan dipamerkan di Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah.

Berita Terkait