Merumuskan Kekhasan Kajian Manuskrip di Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI)

Tahqiq Naskah Kuno Koleksi BQMIJakarta (11/01/2016) - Tim peneliti Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an mengadakan kegiatan ‘Penelitian Tahqiq Naskah Kuno Koleksi Museum Bayt Al-Quran’ 15 Januari 2016 di Gedung Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Hadir pada kegiatan ini Dr. H. Muchlis M Hanafi, MA. selaku Kepala LPMA dan pakar kajian filologi dari Universitas UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Oman Fathurahman, M. Hum, selaku narasumber. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan suntingan naskah-naskah kuno koleksi Museum Bayt Al-Quran yang selama ini terabaikan.

Mengawali materinya, Oman memaparkan, LPMA harus memikirkan apa outcome dari kegiatan Tahqiq ini? Tidak hanya output yang berupa hasil suntingan naskah. Outcome yang dimaksud adalah apa manfaat, tujuan, value dan sesuatu yang diberikan oleh LPMA dari kegiatan ini kepada masyarakat. Selanjutnya, LPMA selaku lembaga pemerintah yang mengelola Bayt Al-Qura’an juga harus menegaskan kekhasan kajiannya di bidang Al-Qur’an. Tak terkecuali dalam bidang kajian manuskirip Nusantara. Kedepan, diharapkan kekhasan ini akan menjadi brand tersendiri bagi LPMA.

Menanggapi usulam Oman, Muchlis menegaskan bahwa ihya’ at-Turas (menghidupkan kajian manuskrip) merupakan salah satu kegiatan unggulan LPMA. Pada tahun 2016 kegiatan tersebut menjadi perioritas kegiatan tim peneliti LPMA. Sebab itu, menurut Muchlis, kegiatan ini harus menjadi penyemangat bagi tim peneliti LPMA untuk lebih giat lagi mengkaji naskah-naskah koleksi BQMI.

Lebih lanjut, Oman mengusulkan agar LPMA merumuskan kembali visi dan misinya terkait kajian manuskrip. Peniliti LPMA dalam mengkaji manuskrip bisa lebih menitik beratkan pada kajian berbasis Al-Quran. Muchlis menambahkan, metodologi kajian tahqiq Timur tengah yang lebih menekankan pada subtansi naskah bisa dipadukan dengan tradisi tahqiq Nusantara yang selama ini lebih fokus pada aspek sosiokultural manuskrip. (Gus_Pur)

Berita Terkait