Seminar Nasional di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta

Yogyakarta (19/03/2016) - Dalam rangka memperingati haul pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir, KH. Muhammad Moenawwir yang ke-77 sekaligus Khatmil Qur’an yang ke-13, penyelenggara mengadakan acara seminar nasional dengan tema Studi Al-Qur’an. Pembicara dalam seminar tersebut adalah Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an (LPMQ), Dr. H. Muchlis M. Hanafi yang menyampaikan makalah berjudul “Dinamika Tashih dan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia, dan Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, selaku Sekretaris LPMQ, dengan membawakan makalah berjudul “Masa Depan Ilmu Qira’at di Indonesia”.

Dalam paparannya, Kepala LPMQ menyampaikan berbagai hal tentang LPMQ, mulai dari sejarah berdirinya hingga tugas-tugas penting LPMQ dalam mengawal kesahihan mushaf yang beredar di Indonesia. Menurutnya, LPMQ adalah satu-satunya institusi Kementerian Agama yang bertugas untuk mentashih dan mengoreksi semua naskah mushaf Al-Qur’an yang akan beredar di Indonesia. Legalitas mushaf Al-Qur’an dibuktikan dengan adanya tanda tashih yang dikeluarkan oleh LPMQ. Bahkan, beliau menjelaskan bahwa penerbitan mushaf Al-Qur’an sudah menjadi suatu industri yang menjanjikan, sehingga tidak hanya penerbit muslim yang menggelutinya, melainkan penerbit non muslim juga ikut meramaikannya. Belum lagi pada bidang percetakan, beberapa percetakan dimiliki non muslim, bahkan terkadang lebih bagus dan modern dibandingkan yang dimiliki orang muslim.

Maka peran LPMQ sebagai regulator yang mengatur segala hal berkaitan dengan penerbitan mushaf al-Qur’an dan menekankan bahwa dibalik sisi komersil dari mushaf Al-Qur’an, yang terpenting harus diperhatikan oleh setiap penerbit adalah sisi sakralitas dari Al-Qur’an, dengan kata lain perlakuan terhadap mushaf Al-Qur’an harus dilakukan semestinya sesuai dengan aturan, demikian ujar beliau. Tidak lupa, kepala LPMQ juga menyebutkan beberapa produk yang dihasilkan LPMQ selama ini.

Adapun materi kedua yang disampaikan oleh Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, membicarakan tentang perkembangan ilmu qira’at dari awal tumbuh dan proyeksinya ke depan. Paling tidak ada tiga fase perkembangan ilmu qira’at. Masa tumbuh pada abad ke-1 Hijriyah, kemudian masa kodifikasi pada abad ke-2 Hijriyah, dan terakhir masa keemasan pada abad ke-3 Hijriyah. Dalam konteks Indonesia, KH. Muhammad Moenawwir merupakan pionir dalam pembelajaran ilmu qira’at. Meskipun beliau tidak meninggalkan karya dalam bidang ini, namun salah satu muridnya KH. Arwani Amin dari Kudus berhasil mengarang kitab dalam bidang ilmu qira’at yang berjudul Faidlul Barakat dan secara pasti menjadi kitab pegangan standar dalam mempelajari ilmu qira’at hingga kini.

Beliau juga menegaskan, Keberadaan ilmu qira’at harus dilestarikan dengan cara mempelajarinya dengan baik, terutama qira’at sab’ah dan ‘asyrah. Salah satu ikhtiar nyata dalam hal ini adalah pendirian Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ). (Imtaq)

Berita Terkait