Menjaga Kesucian Al-Qur’an Adalah Tugas Bersama

Binwatas di Kalimantan TengahPalangkaraya (06/04/2016) - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI mengadakan kegiatan Pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tema utama yang disampaikan dalam acara ini adalah “Pengawasan dan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an”.  Melalui kegiatan ini LPMQ  berharap agar setiap komponen masyarakat muslim, baik individu atau sosial, menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab bersama yaitu menjaga kesucian mushaf Al-Qur’an. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala LPMQ Dr. Muchlis Muhammad Hanafi, MA di hadapan 50 peserta undangan yang terdiri dari perwakilan berbagai elemen masyarakat Palangkaraya seperti dari NU, Muhammadiyah, pimpinan pesantren, akademisi dan lainnya.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Kanwil Kemenag Kalimantan Tengah H. Abdul Halim, Lc, MA.  Dalam sambutannya, Kepala Kanwil menyatakan bahwa acara ini sangat penting bagi umat Islam, khususnya masyarakat Kalimantan Tengah. Oleh sebab itu, beliau menghimbau agar warga muslim Kalimantan Tengah turut berperan serta aktif dalam menjaga kesucian mushaf Al-Qur’an. “Setiap membaca Al-Qur’an  perhatikan tulisannya dan bila menemukan kesalahan segera laporkan kepada LPMQ.”

Dalam kesempatan ini Kepala LPMQ juga menyampaikan bahwa ada berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam dalam menjaga kesucian mushafnya akhir-akhir ini. Tantangan tersebut antara lain: Kegiatan penerbitan Al-Qur’an di Indonesia tumbuh sangat dinamis seiring dengan tumbuhnya kebutuhan masyarakat muslim kepada Al-Qur’an dan produk-produk terkait dengannya yang semakin meningkat. Kondisi ini membutuhkan perhatian khusus sebab seluruh proses percetakan Al-Qur’an tidak berada dalam satu pintu seperti yang berlaku di Percetakan Al-Qur’an Mujamma’ Malik Fahd di Madinah. “Hal ini menjadi kendala tersendiri,” ungkapnya.

Tantangan lainnya adalah terkait peredaran mushaf Al-Qur’an digital di Internet yang tumbuh pesat. Selain itu, hal yang harus diwaspadai adalah penerbit Al-Qur’an yang kurang memperhatikan etika, mereka adalah “pelaku bisnis yang mengedepankan kepentingan bisnis di atas kesucian Al-Qur’an,” tutur Muchlis.

Berita Terkait