Dr. Ahmad Fathoni, MA: Belajar Al-Qur’an Tidak Cukup Dengan Talaqqi dan Musyafahah

Jakarta (20/4/2016) - Untuk menunjang kinerja sekaligus memperkuat basis pengetahuan dalam bidang Ulum Al-Qur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) secara rutin mengadakan kegiatan Pembinaan Internal khusus bagi para pegawainya. Kegiatan perdana pada tahun ini diselenggarakan di Ruang Pertemuan gedung Bayt Al-Qur’an Lt. 4. Hadir sebagai narasumber pada pada kegiatan ini Dr. KH. Ahmad fathoni, MA, seorang pakar dan peraktisi pengajaran Ulum Al-Qur’an dari Institut Ilmu Al-Quran Jakarta. Beliau menyampaikan materi tentang “Tahsin Tartil Al-Qur’an Metode Maisura”.

Mengawali pemaparan materinya Fathoni menjelaskan tentang tradisi pengajaran Al-Quran secara talaqqi dan musyafahah. Talaqqi dan musyafahah adalah metode pengajaran Al-Qur’an di mana antara murid dan guru saling berhadapan. Guru membacakan ayat dan murid menirukan bacaan gurunya. Atau sebaliknya, murid menyetorkan bacannya dihadapan guru secara langsung. Metode seperti ini adalah metode pengajaran Al-Qur’an yang mengikuti tradisi Rasulullah Saw, para sahabat, tabiin dan secara turun temurun ditradisikan oleh guru-guru Al-Qur’an di Pesantren. “Tradisi ini harus kita lestarikan”, tutur Fathoni.

Namun, bagi generasi setelah periode tabiut-tabiin (setelah berkembangnya ilmu tajwid) metode talaqqi dan musyafahah harus ditunjang dengan pengajaran terkait teori bacaan AL-Qur’an. Hal ini penting agar setiap murid juga mengerti lahir bathin dasar dan rujukannya mengapa dia harus membaca gunnah, mad, ikhfa’ dan hukum membaca Al-Qur’an lainnya. Beliau menyatakan,“belajar Al-Qur’an itu tidak cukup hanya dengan talaqqi dan musyafahah”. Berbeda dengan generasi sahabat, mereka adalah umat pilihan. Para kuttabul wahyi (penulis wahyu) yang dibimbing langsung oleh Rasulullah.

Memperkuat argumenya tersebut Fathoni juga menyampaikan bahwa dalam Al-Qur’an Allah SWT. Memerintahkan kepada umatn-Nya agar membaca Al-Quran dengan ‘tartil yang optimal atau tartil setartil-tartilnya’, bukan sekedar tartil biasa. Beliau mengutip ayat Al-Qur’an Surah al-Muzammil/73:4, yang artinya “bacalah Al-Qur’an dengan tartil yang optimal”. Menurut pendapat Ali bin Abi Thalib, pengertian tartil dalam ayat ini adalah ‘membaguskan bacaan huruf-huruf Al-Quran dan mengetahui hal ihwal waqaf’. Untuk itu sekali lagi Fathoni menegaskan pentingnya mengetahui teori membaca Al-Qur’an yang benar. “Orang yang tidak mengerti teori, bila ada yang bertanya tentang hukum bacaan Al-Qur’an dan dia menjawab dengan benar, jawabannya itu adalah kebetulan. Dan bila jawabanya salah, maka itulah nasib”, pungkas Fathoni yang disambut tawa para peserta. [bgs]

Berita Terkait