Penutupan Seminar Internasional Al-Qur'an

Jakarta (01/09/2016) - Seminar Internasional Al-Qur`an ditutup oleh Dr. Muchlis M. Hanafi, ketua Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an hari Kamis tanggal 1 September 2016. Acara ini diselenggarakan selama tiga hari dari tanggal 30 Agustus sampai dengan 1 September 2016 di Hotel Aryaduta Jakarta oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMA), Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan tema “Peran Mushaf Al-Qur’an dalam Membangun Peradaban Islam dan Kemanusiaan”. Tema ini diangkat dalam rangka memperingati 1450 tahun turunnya Al-Qur`an ke muka bumi.

Seminar diikuti oleh 120 peserta dari delapan negara, yaitu Mesir, Yordania, Lebanon, Pakistan, Malaysia, Singapura, Iran dan Indonesia. Sebanyak 37 paper tentang permushafan disajikan dan dibahas dalam seminar, antara lain tentang rasm (tulisan), syakl dan dhabth (tanda baca), tanda-waqf, ilmu tajwid, ilmu qira’at, seni kaligrafi dan hiasan iluminasi mushaf,  seni bacaan Al-Qur`an, mushaf kuno, terjemahan Al-Qur`an, kebijakan pemerintah beberapa negara dalam hal pentashihan, percetakan, pengawasan dan sebagainya.

Para peserta seminar sepakat menetapkan beberapa butir penting dari pengarahan Bapak Menteri Agama sebagai pertimbangan utama. Butir-butir tersebut adalah:

  1. Pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang sangat besar terkait pelayanan kitab suci, bukan hanya dengan berupaya keras menjamin kesahihan teksnya, tetapi juga kesahihan maknanya.
  2. Dalam memberikan pelayanan kitab suci Al-Qur’an, terkait pentashihan dan pengawasan peredaran mushaf Al-Qur’an pemerintah menetapkan sejumlah regulasi. Sebagai pedoman dalam pentashihan, pada tahun 1984 pemerintah melalui Menteri Agama telah menetapkan Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia yang menjadi pedoman penerbitan Al-Qur’an di Indonesia.
  3. Mushaf Standar ini merupakan hasil kajian para ulama Indonesia dalam rentang waktu yang cukup lama dengan merujuk pada sejumlah literatur otoritatif (mu’tabar), dengan berbagai pertimbangan, dalam menetapkan rasm, dhabth dan waqaf-ibtida. Sebagai sebuah hasil kajian tentu terbuka peluang untuk didiskusikan. Menteri Agama berharap mushaf standar Indonesia mendapat masukan dari para ulama pakar Al-Qur`an yang datang dari berbagai berbagai negara Islam, sehingga mushaf Indonesia dapat menjadi salah satu rujukan penting dunia Islam dalam penulisan mushaf, yang memberi kemudahan dalam membacanya, terutama bagi Muslim non-Arab. Tentu, tanpa mengabaikan kaidah-kaidah ilmiah dalam penulisannya.

Berita Terkait