Pembinaan dan Pengawasan Pentashihan Al-Qur’an di Kepulauan Riau

Batam (26/09/2016) - Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat mengadakan Pembinaan dan Pengawasan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Bertempat di Provinsi Kepulauan Riau. Tepatnya Hotel Nagoya Plaza Batam. Acara dibuka oleh Kepala LPMQ, Dr. Muchlis Muhammad Hanafi dan sambutan oleh Kepala Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau yang diwakili kepala Bidang Bimas Islam Drs. H. Erman Izzuddin.

Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat pemerhati al-Qur’an baik dari Kementerian Agama maupun lembaga lainnya seperti LPTQ, MUI, Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM), dan ormas-ormas lainnya. Menggembirakan lagi, para peserta datang tidak hanya dari pulau batam tetapi juga dari pulau-pulau lainnya seperti Karimun, Lingga, Pulau Tanjung Pinang, Kepulauan Bintan dan lain-lainnya.

Pada kesempatan tersebut Kepala LPMQ mengungkapkan bahwa Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia (MQSI) sebagai sebuah hasil kajian sudah lama tidak pernah dikaji ulang. Sejak dikukuhkan tahun 1983 hingga kini hanya dilakukan perbaikan hal kecil terkait nama surah dan beberapa aspek rasm yang sifatnya revisi sporadis.

Meskipun MQSI dikaji dalam rentang kurang lebih 10 tahun, namun tidak ada naskah akademis yang mengiringi kehadirannya. Hal tersebut menjadikan MQSI belum bisa dipersandingkan setara dengan quran dunia Islam lainnya seperti mushaf Pakistan, Turki, Mesir, Libia, Maroko dan lainnya.

Salah satu tema yang banyak dikemukakan oleh masyarakat dalam acara tersebut  yaitu perlunya dibuka cabang LPMQ di daerah. Adanya LPMQ di daerah akan mempercepat negara merespon permasalah kequranan yang ada di daerah. Selama ini setiap muncul kasus selalu diarahkan ke Kementerian Agama pusat. Bahkan satu kasus baru bisa ditangani 3 bulan kemudian, disebabkan jalur birokrasi yang panjang.

Acara ini ditutup oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau , Drs. H. Marwin M.Pd.I. pada sore harinya. Pada kesempatan tersebut, Kakanwil mengungkapkan bahwa apresiasi Pemprov  Kepri terkait kequranan sangat positif. Di kantor-kantor, pengajian tidak lagi diisi dengan ‘ngaji kuping’, tapi diisi dengan tahsin. Program ini langsung ke sasaran. Mereka yang mengikutinya bisa langsung merasakan dampaknya.[ah]

Berita Terkait