Menilai Artikel Untuk Jurnal Suhuf Volume 9 Nomor 1 Tahun 2016

Menjelang penerbitan Jurnal Suhuf edisi 9 No. 1, dewan redaksi Jurnal Suhuf Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an menyelenggarakan sidang pleno di Bekasi, 9 Mei 2016. Sidang ini merupakan tahapan akhir dari rangkaian kegiatan untuk menyeleksi, menilai dan menentukan tulisan-tulisan yang akan diterbitkan. Sebelumnya, dewan redaksi telah melakukan seleksi tahap awal untuk memilih tulisan-tulisan yang memenuhi syarat. Pada seleksi tahap awal ini, dewan redaksi mendapatkan 16 tulisan yang dianggap layak untuk dinilai pada tahap berikutnya. Selanjutnya, tulisan-tulisan tersebut dikirimkan kepada mitra bebestari untuk dinilai. Masing-masing dari mitra bebestari diamanahi untuk menilai 2 tulisan. Hasil penilaian disampaikan dihadapan peserta sidang. Berikutnya, diadakan sesi tanya jawab, masukan dan tanggapan untuk setiap tulisan yang dinilai oleh seluruh peserta sidang. Pada tahap akhir, berdasarkan hasil kesepakatan peserta sidang, dipilihlah tulisan-tulisan yang layak diterbitkan.

Hasil keputusan dari sidang pleno ini, dewan redaksi menetapkan 6 tulisan terpilih yang akan diterbitkan pada jurnal Suhuf yang edisi 9 No. 1 tahun 2016. Keputusan itu disampaikan langsung oleh pimpinan redaksi Dr. Ali Akbar, M. Hum. yang memimpin langsung sidang tersebut. “Kita tetapkan untuk memilih 6 tulisan yang akan diterbitkan pada tahun ini”, tutur Ali Akbar sebelum menutup sidang.

Diantara mitra bebestari yang berkesempatan hadir pada kegiatan ini antara lain: Prof. Dr. Sahiron Syamsudin dari Jogjakarta, Prof. Dr. Rosihon Anwar dari Bandung, Dr. Muchlis M. Hanafie, MA dari Jakarta dan lain-lain. Ada beragam catatan dari mitra bebestarasi terkait dengan  tulisan-tulisan yang belum layak diterbitkan. “Dari hasil penilaian saya, isi tulisan makalah ini terlalu umum. Hanya mendeskripsikan dan mengulang pemikiran ulama-ulama klasik. Tidak menampilkan temuan baru dalam objek pembahasan” ungkap Sahiron. Selain itu, lanjut Sahiron, “penulis kurang bisa meyakinkan kepada pembaca ‘seberapa penting’ tema ini layak dibahas”. Temuan lain dari mitra bebestari antara lain: banyak penulis yang tidak menggunkan sumber-sumber primer. Pendahuluan terlalu panjang dan melebar. Tidak ditemukan permasalahan yang signifikan dalam pembahasan dan lain sebagainya.bp     

Berita Terkait