Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia dan Pemasyarakatannya

Ponorogo (31/03/2017) - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) bekerjasama dengan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Kegiatan yang mengusung tema “Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia dan Pemasyarakatannya” tersebut berlangsung di Aula CIOS Universitas Islam Darussalam Ponorogo.

Bertindak selaku narasumber KH. Hasan Abdullah Sahal mengawali paparan materinya dengan penjelasan mendasar tentang Al-Qur’an. Menurutnya, Al-Qur’an harus dilihat sebagai sebuah kitab sumber pengetahuan yang harus dibaca, dikaji, diajarkan, ditafsirkan, difahami dan diamalkan. 

“Al-Quran itu tilawatan wa ilman wa takliman wa tafsiran wa fahman wa amalan” tegas pimpinan Pondok Gontor tersebut, Jumat (31/03).

Semua aspek dari Al-Qur’an tersebut tidak boleh dipisah-pisahkan. Termasuk juga dalam aspek tulisan (kitabah). Antara bacaan (tilawah) dan tulisan (kitabah) juga tidak boleh dipisahkan. Tulisan dan bacaaan Al-Qur’an tidak hanya indah dan baiknya saja. Begitu juga tempat-tempat berhenti dalam bacaan Al-Qur’an (wuqufat). Semuanya harus sesuai, dikaji dan difahami.

Khusus para pentashih Al-Quran di LPMQ beliau mengingatkan. Mentashih adalah tugas mulia. Karena termasuk menjaga kesucian Al-Qur’an dalam aspek kitabah (tulisan). Namun demikian bukan berarti pentashih hanya menguasai ilmu rasm saja. Para pentashih juga harus mengusai ilmu-ilmu lain terkait Al-Qur’an, seperti Bahasa Arab, tafsir juga hadis sebagai penjelas Al-Qur’an.   

“Para pentashih harus cakap Bahasa Arab, mengerti ilmu tafsir dan sebagainya. Idealnya harus tahu tafsir Al-Quran dan hadisnya, agar tidak salah dalam menetapkan wuqufat sehingga tidak menyulitkan orang yang membacanya”. Jelas kiyai yang juga memimpin Pondok Pesantren Tahfidz Muqaddasah tersebut.

Istilah pentashih, menurut Muchlis M. Hanafi, kepala LPMQ yang juga bertindak selaku narasumber pada kegiatan tersebut adalah istilah yang dipergunakan di Indonesia terkait orang-orang tugasnya memeriksa tulisan master mushaf Al-Qur’an agar tidak terjadi kesalahan sebelum ditebitkan dan diedarkan. “Istilah ini hanya dipergunakan di Indonesia. Di Syiria menggunakan istilah tadqiq. Sedangkan Saudi Arabia menggunakan istilah Murajaatu al-mashahif” tutur penyandang doktor lulusan al-Azhar Kairo itu.[bp]

Berita Terkait