Mushaf Al-Qur’an sebagai Sumber Sejarah

Jakarta (05/04/2018) - Mushaf Al-Qur’an sebagai sumber sejarah merupakan hal baru. Selama ini kajian sejarah Islam banyak digali dari bukti batu nisan bertuliskan Arab atau catatan perjalanan yang ada. Selain itu, saat ini belum banyak yang mengkaji Al-Qur’an dari fisiknya yang disebut mushaf.

Dr. Ali Akbar, peneliti di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang an Diklat Kementerian Agama RI memaparkan tentang mushaf Al-Qur’an kuno yang belum banyak dikaji oleh umat Islam, terutama di Indonesia. Ia meraih gelar doktor setelah menyelesaikan penelitian terhadap mushaf Al-Qur’an kuno, meskipun sebelumnya banyak yang mencibir. “Ngapain meneliti Al-Qur’an? Al-Qur’an semua sama, teksnya sama. Apa yang diteliti?” kenangnya menirukan komentar dari seniornya di kantor.

Menurutnya, ada banyak aspek yang bisa diteliti dari mushaf Al-Qur’an. Meskipun teks Al-Qur’an dari Papua sama dengan yang ada di Aceh, Jawa, dan tempat lainnya di dunia Islam, tetapi dari aspek-aspek lain, baik fisik, tulisan, dekorasi dan lainnya itu menarik untuk diteliti. Ironisnya, banyak dosen dan mahasiswa yang apriori terhadap kajian mushaf Al-Qur’an.

Terdapat mata rantai yang hilang, dan banyak buku sejarah Al-Qur’an yang hanya menguraikan kodifikasi Al-Qur’an pada masa Sahabat. Tetapi bagaimana Mushaf Al-Qur’an ditulis dan menyebar sejak masa Sahabat sampai sekarang, apalagi perkembangannya di Nusantara, belum banyak yang mengkaji.

“Bahkan kalau saya lihat yang banyak meneliti adalah orang Barat. Ada beberapa buku tentang kajian Al-Qur’an yang ditulis oleh orang Barat. Ada sarjana yang sangat terkenal, yaitu Francois Deroche, menulis tentang Al-Qur’an pada masa awal dengan judul ‘Qurans of the Umayyads’,” ungkapnya.

Francois Deroche membandingkan sejumlah mushaf dari berbagai koleksi, seperti di Prancis, Inggris, Mesir, dan sebagainya, kemudia diidentifikasi huruf, tanda baca, gaya tulisan, dan seterusnya. Kemudian dia merekonstruksi sedemikian rupa sehingga sampai pada kesimpulan adanya gaya tertentu pada masa kekhalifahan Umayyah.

“Inilah saya kira pentingnya kajian ini. Kalau tanpa bantuan si orang Prancis ini mungkin kita tidak tahu apa-apa tentang Quran pada masa Umayyah. Kita hanya tahu bahwa ‘oh, ini kuno’. Tapi dari abad berapa, di mana ditulis, itu kita tidak tahu. Nah, bagaimana di Nusantara? Kurang lebih sama,” paparnya.

Lebih lanjut, peneliti senior di LPMQ ini menjelaskan bahwa di Indonesia, dewasa ini kajian terhadap naskah kuno telah tumbuh sekitar 10 hingga 15 tahun terakhir. Perguruan tinggi seperti UIN, IAIN, UI, Unpad, dan lainnya ramai-ramai mengkaji naskah. Tetapi kebanyakan yang mereka kaji adalah kajian teks, yaitu filologi. Di puhak lain, sejarah Al-Qur’an di Nusantara belum banyak dikaji. Lebih dari itu,  identitas Islam di Nusantara perlu dibangun, salah satunya melalui mushaf. Dalam kajian seni pun, seni Islam sejauh ini hanya mempelajari seni dari kawasan Timur Tengah, Persia atau India. Tetapi kajian seni Islam dari Asia Tenggara belum banyak dikaji.

“Nah kenapa kajian mushaf kok terkait dengan kajian seni? Itu karena naskah yang paling dihargai oleh umat Islam adalah Al-Qur’an. Itu terwujud di dalam keindahan iluminasi dan kaligrafinya,” jelasnya.

Mushaf Al-Qur’an sebagai sumber sejarah menurutnya merupakan hal baru. Hal ini berdasarkan hasil penelitian bahwa kerajan-kerajaan di Nusantara menjadi pusat penyalinan mushaf Al-Qur’an pada masanya (abad 17-19 M). Misalnya Bugis yang memiliki pengaruh besar di berbagai wilayah Nusantara, terlihat di dalam tradisi Qur'an Bugis yang menyebar di berbagai kawasan.

“Ada beberapa hal mengapa mushaf secara umum perlu dikaji. Pertama, aspek tekstual, yaitu menyangkut rasm, qira’at, dabt, waqf dan ibtida’, jumlah ayat, penomoran ayat dan sebagainya. Kedua, aspek kodikologinya, yaitu fisik mushaf Al-Qur’an, yaitu jilidan, kertas, tinta, tata letak, teknik dan proses penyalinan, iluminasi, kaligrafi, dan paleografi. Dan yang ketiga, aspek budaya mushaf, yaitu aspek di luar mushaf Al-Qur’annya, seperti penyalinan, iluminasi, tradisi baca tulis Al-Qur’an, tradisi belajar mengajar, khataman, persebaran dan perdagangan mushaf, sejarah mushaf atau sejarah koleksi mushaf, konteks sosial ekonomi mushaf, terjemahan dan tafsirnya,” pungkasnya. (Athoillah)

Berita Terkait