Peran Kudus Dalam Pengembangan Al-Qur'an

Kudus (05/05/2018) – Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Al-Qur’an, yang bertepatan dengan Festival Al-Qur’an yang bertempat di Ponpes Qudsiyah, Kudus, 5 Mei 2018. Diseminasi menghadirkan pakar Al-Qur’an yang juga Sekretaris LPMQ, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad.

Dalam uraiannya, Kyai Ahsin menjelaskan peran kota Kudus dalam pengembangan Al-Qur’an, baik dari segi Tahfizul-Qur’an, Qiraatul-Qur’an, maupun permushafannya. Banyak sekali pondok pesantren yang mendidik santrinya untuk menghafal Al-Qur’an. “Salah satunya adalah Ponpes Qudsiyah ini”, jelas Kyai Ahsin.

Sedangkan dari sisi permushafan, berawal dari pemilik Penerbit Menara Kudus yaitu H. Zjainuri yang ingin menerbitkan mushaf Al-Qur’an untuk didistribusikan. Ketika bermaksud mentashihkan mushaf Al-Qur’an yang ia bawa dari Makkah kepada KH. Arwani Amin untuk diterbitkan, beliau menyarankan agar menerbitkan mushaf Al-Qur’an yang beliau sarankan yaitu Mushaf Al-Qur’an Pojok seperti yang beliau miliki, karena mushaf tersebut tidak sesuai dengan mushaf yang biasa digunakan oleh para hafiz al-Qur’an.

Ketidaksesuaian tersebut terutama berkenaan dengan tata letak tulisannya. Sedangkan mushaf Al-Qur’an milik KH. Arwani Amin dapat memudahkan seseorang yang ingin menghapalkan Al-Qur’an karena menggunakan ayat pojok. Menurutnya, di Indonesia belum banyak dijumpai mushaf Al-Qur’an dengan menggunakan sistem ayat pojok.

Mushaf Al-Qur’an yang dimiliki oleh KH. Arwani Amin tersebut biasa disebut sebagai Al-Qur’an Bahriyyah. Pada awalnya mushaf ini ditulis oleh orang Turki. Lalu mushafnya disebut dengan mushaf Bahriyyah, karena diterbitkan oleh Percetakan Bahriyyah, milik Angkatan Laut di Turki. Turki memang merupakan daerah yang telah maju dalam teknologi percetakan pada waktu itu. Namun mushaf Bahriyyah milik KH. Arwani Amin tersebut diterbitkan di Damsyik (Damaskus) Syiria. Sementara rasm yang digunakan dalam Mushaf Bahriyyah adalah menggunakan rasm campuran, yaitu terdapat rasm usmani dan rasm imla’i. Karena dalam mushaf tersebut terdapat lafaz-lafaz yang sesuai dengan kaidah rasm usmani.  Namun begitu juga banyak dijumpai lafaz dengan kaidah imla’i, yaitu sesuai dengan pengucapan bahasa arab. (fz)

Berita Terkait