Pesantren Mawaridussalam Medan Apresiasi Kegiatan LPMQ

 

Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam, Buya Syahid Marqum, merasa gembira dengan diselenggarakannya kegiatan diseminasi hasil kajian Al-Qur’an oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) di pesantren yang diasuhnya. Di hadapan Kepala LPMQ, Dr. Muchlis M Hanafi MA, beserta 120 orang undangan terdiri atas tokoh masyarakat, ulama dan santri pondok pesantren di sekitar Medan. Kiai dengan 1600 santri ini mengungkapkan, "Atas nama pimpinan pesantren saya sangat berbunga hati atas kehadiran antum semua. Para penjaga Al-Qur'an, yang mempunyai tanggung jawab berat, dunia-akhirat, mengawal kalamullah di ruang publik Indonesia,"  ujarnya di Medan, Selasa (30/10) pagi hari.

"Kami sangat terbantu dengan informasi yang disampaikan oleh LPMQ, khususnya terkait isu-isu kekinian seputar Al-Qur'an yang sempat viral di masyarakat," ungkapnya menambahkan.

Mengutip penyataan Kiai Maemun Zubair, "Hal pertama yang ingin dijauhkan dari umat ini adalah Al-Qur'an." Dari hal ini Buya Syahid menjadikan pemberantasan buta huruf Al-Qur'an di Mawaridussalam perioritas utama. "Rasannya kita ini seperti sedang perang. Makanya saya mewajibkan para santri untuk tahsin Al-Quran. Ustad-ustadnya wajib membaca Al-Quran minimal satu juz setiap hari. Saya absen," jelasnya bersemnagat diiringi tepukan peserta kegiatan.

Buya melanjutkan, "Kekhawatiran saya soal Al-Qur'an mereda. Hati saya menjadi yakin dengan adanya LPMQ. Di Indonesia Al-Quran akan terjaga. Makanya kalau nanti pimpinan LPMQ mengarahkan, semua harus mentaati. Beliau ini penaggung jawab Al-Qur'an di Indonesia," pintanya.

"Saya sudah bertanya kepada Pak Bagus, pegawai LPMQ, apakah LPMQ independen? Tidak ada intervensi dari pihak mana pun? Ketika dijawab tidak ada, saya acungi 4 jempol untuk LPMQ," jelas kiai kelahiran Kediri, Jawa Timur, ini.

Buya Syahid sering didatangi oleh masyarakat yang menanyakan perihal isu Al-Qur'an. Pertanyaan terbaru yang beliau terima adalah soal video viral Al-Qur'an riwayat Imam Warsy dengan sistem penulisan yang mengikuti kaidah Magribi (huruf fa' dengan satu titik di bawah, dan huruf qaf dengan satu titik di atas yang berbeda dengan kaidah penulisan Masyriqi seperti lazimnya mushaf Al-Quran yang beredar di kawasan Asia dan sekitarnya.

"Sebagai pimpinan pesantren, di sini saya dianggap sebagai tokoh masyarakat. Semua persoalan yang beredar di masyarakat ditanyakan kepada saya. Yang terbaru soal video dugaan beredarnya Al-Qur'an palsu. Fa' titiknya satu di bawah," ungkap kiai tamatan Pesantren Gontor ini.

Pertanyaan itu harus segera beliau jawab, agar masyarakat tidak resah, bingung atau bahkan terprovokasi hingga bertindak sendiri-sendiri. Beliau menyadari sesungguhnya tidak semua isu itu beliau kuasai dengan baik. Namun, sebagai tokoh masyarakat beliau harus memiliki jawaban yang menenangkan. Perinsipnya, agar masyarakat tetap kondusif. Tidak termakan isu-isu yang belum jelas kebenarannya.

Dengan adanya kegiatan desiminasi dari LPMQ beliau mengaku mendapatkan informasi dan klarifikasi dari sumber yang berwenang.  Beliau berharap esensi kegiatan ini terus berlanjut. Bila ada informasi terbaru terkait isu-isu seputar Al-Qur'an bisa disampaikan langsung kepada beliau, untuk dilanjutkan penjelasannya kepada masyarakat.

"Saya senang sekali dengan kegiatan seperti ini. Inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Penjelasan langsung dari pihak berwenang yang kompeten. Terkait isu Al-Qur'an, selama ini kami hanya menduga-duga. Saya berharap LPMQ terus menyampaikan informasinya kepada kami. Terima kasih." Ungkap kiai ini tulus. [bp]

Berita Terkait