Empat Kriteria Pengodifikasi Mushaf Al-Qur’an

 

Mengumpulkan dan membukukan ayat Al-Qur’an yang ditulis di kulit binatang, pelepah kurma, tulang onta, maupun batu tipis berwarna putih dan tercerai-berai dalam simpanan banyak orang adalah pekerjaan yang sangat berat bagi para sahabat sepeninggal Nabi Muhammad, terlebih kegiatan pengodifikasian Al-Qur’an adalah hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Hal inilah yang membuat Abu Bakar merasa bimbang dan enggan menerima usul ‘Umar bin al-Khattab untuk membukukan Al-Qur’an ke dalam bentuk mushaf.

 

Namun karena kegigihan ‘Umar bin al-Khattab meyakinkan Abu Bakar akan pentingnya membukukan lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf, hati Abu Bakar kian terbuka dan menerima usul ‘Umar bin al-Khattab. Abu Bakar kemudian meminta Zaid bin Tsabit untuk menjadi pengodifikasi Al-Qur’an.

 

Permohonan Abu Bakar kepada Zaid bin Tsabit untuk menjadi pengodifikasi Al-Qur’an tertulis jelas dalam kitab Al-Muqni‘ fī Ma’rifati Marsūm Maṣāḥif Ahl al-Amṣār karya Abū ‘Amr ‘Uṡmān bin Saʻīd ad-Dānī, “Innaka rajulun syābbun qad kunta taktub al-waḥya li rasūlillahi, fajmi’ al-qur’āna waktubhu”.

 

K.H. Ahsin Sakho Muhammad dalam sidang reguler pentashihan ke-10 tahun 2018 yang dilaksanakan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) di Bogor (21-23/11) menjelaskan bahwa ada empat kriteria yang harus dipenuhi oleh sahabat Nabi untuk dapat menjadi pengodifikasi Al-Qur’an. Empat hal tersebut adalah energik, cerdas, mempunyai pengalaman menulis wahyu, dan dapat dipercaya.

 

Semangat yang tinggi harus dimiliki seorang pengodifikasi Al-Qur’an karena standar yang diterapkan dalam proses pengodifikasian sangat ketat, yaitu ada catatan dan dihafal para sahabat. “Jadi secara umur, Zaid masih energik. Dalam riwayat lain dikatakan Innaka rajulun syābbun ‘āqilun qad kunta taktub al-wahya li rasūlillahi walā nattahimuka. Jadi ada empat kriteria, yaitu muda energik, cerdas, punya pengalaman, dan dapat dipercaya,” jelas Kiai Ahsin.

 

Terkait kriteria kedua, Kiai Ahsin menguraikan penjelasannya bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang cerdas. Ia hanya perlu waktu satu pekan untuk menguasai bahasa kaum Yahudi. Ia telah menjadi penerjemah Nabi di usianya yang masih muda.

 

“Zaid ini hebat banget. Ia belajar dan menguasai bahasa kaum Yahudi hanya dalam waktu satu minggu saja. Kata Nabi kepadanya, “Pelajarilah bahasa orang Yahudi! Sebab saya masih menaruh kecurigaan kepada mereka karena mereka sering bohong,” lanjut Kiai Ahsin.

 

Selain energik dan cerdas, Kiai Ahsin juga menerangkan bahwa pengalaman Zaid bin Tsabit dalam menuliskan wahyu serta sifat jujurnya menjadi dasar mengapa Abu Bakar memilihnya untuk menunaikan tugas berat ini. “Lā nattahimuka. Tidak mempunyai perasangka apa-apa. Artinya sangat jujur. Tidak ngumpetin huruf-huruf Al-Qur’an, satu huruf sekalipun,” terang Kiai Ahsin. (MZA)

Berita Terkait