Merumuskan Tema Kelompok Ayat dalam Terjemahan Al-Qur'an Kemenag

Tim Kajian Revisi dan Pengembangan Terjemahan Al-Qur'an Kemenag melaksanakan sidang perdana tahun 2019 pada 12-14 Februari ini. Pada sidang tahun ini tim fokus menyelesaikan rumusan tema pada setiap kelompok ayat dan membaca ulang catatan kaki (footnote). Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ), Dr. Muchlis M. Hanafi, MA yang membuka secara langsung kegiatan ini menyampaikan, "Tugas tim dalam sidang tahun 2019 ini adalah finalisasi hasil kajian, merumuskan tema kelompok ayat, dan mencermati footnote." Terangnya di Bekasi, Selasa, (12/02).

Terkait hal itu, selaku salah satu anggota tim, Prof. Rosihon Anwar, MA, menyampaikan beberapa  usulan untuk disepakati tim sebelum menuliskan tema kelompok ayat. Pertama, pedoman apa yang akan dipakai?; bagaimana format disusun, apakah dalam bentuk frasa atau kalimat utuh?; apakah setiap ayat harus diberi tema? Bagaimana dengan suatu ayat yang mengandung banyak tema pembahasan? Menurut Muchlis, membuat tema untuk kelompok ayat Al-Qur'an itu gampang-gampang susah. Idealnya harus jami' dan mani'. Kepandaian kita dalam memberi tema yang tepat akan menjadikan hasil terjemahan ini memiliki nilai lebih. "Seperti pengebaban (tabwib) yang dilakukan oleh Imam Bukhari sehingga menjadi salah satu keunggulan kitab Shahih Bukhari". Muchlis menambahkan, tugas tim yang tidak kalah penting lainnya adalah mencermati ulang juz 21 hingga juz 30. Rencananya, 10 juz terakhir ini akan diujipublikkan pada Mukernas Ulama Al-Qur'an pada bulan September mendatang. Seperti diketahui, 20 juz awal hasil kerja tim telah diuji publik dalam Mukernas tahun 2018. Hasil penyempuranaan terjemahan Al-Qur'an Kemenag secara resmi insyaallah akan di-launching pada bulan Oktober 2019. (bp)

Berita Terkait