Pentingnya Pemahaman Moderasi dalam Penafsiran Al-Qur’an

Dalam kegiatan diseminasi hasil kajian Al-Qur’an yang dilaksanakan di kampus Universitas Sebelas Maret pada hari Senin, 11 Maret 2019, Dr. Reflita seorang cendekiawan muda yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Pengkajian pada Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) terlihat begitu bersemangat dalam mempresentasikan makalahnya dalam kegiatan tersebut. Sehingga ruangan yang berisi tidak kurang dari 176 peserta seakan miliknya seorang. Para peserta kajian terlihat begitu terpesona pada penampilan sang doktor muda ini.

Diantara yang disampaikannya adalah pentingnya memahami Al-Qur’an dengan baik dan benar. Hal ini dianggap penting agar jangan ada lagi yang salah memahami perintah maupun larangan yang ada dalam Al-Qur’an. Beliau mencontohkan satu ayat dalam Al-Qur’an yang artinya: “dan bunuhlah oleh mu (orang kafir) dimanapun kamu menjumpainya”.

Menurutnya, pemahaman yang benar tergantung pada metode dan pendekatan yang benar. Tambahnya lagi, setidaknya ada empat metode dalam memahami nash (Al-Qur’an), yaitu: 1. Tekstual/harfiah, yaitu dengan memperhatikan makna zhahir; 2. Maknawiah, yaitu memahami melalui makna batin ayat; 3. Kontekstual, yaitu dengan menggabungkan makna batin dan zhahir, namun mengedepankan logika; 4. Tekstual dan Kontektual, yaitu dengan memperhatikan kaidah makna tekstual dan kontektual. Metode yang terakhir inilah yang menurutnya adalah metode yang benar dalam memahami suatu teks (Al-Qur’an). Selain metode ini adalah metode yang dipakai oleh jumhur, dengan menggunakan metode ini kita terhindar dari pemahaman yang berlebihan terhadap Al-Qur’an. dengan kata lain, memahami Al- Qur’an dengan menggunakan metode tekstual dan kontekstual dapat membawa kita kepada pemahaman yang moderat yang juga berakibat kepada kehidupan beragama yang toleran dan santun sesuai dengan tujuan diutusnya Sang Rasul yaitu terciptanya akhlaqul karimah yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga bagi seluruh alam. (AR)

Berita Terkait