Penyempurnaan Terjemah Sebuah Keharusan karena Bahasa Akan Selalu Berkembang

Bekasi (01/04/2019) - Sidang kajian dan pengembangan terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama sudah masuk pada tahap finalisasi, yakni pembahasan hasil review tim pakar terhadap terjemahan Al-Qur’an hasil revisi. Review ini diharapkan dapat lebih menyempurnakan terjemahan Al-Qur’an hasil revisi tersebut. Usaha ini merupakan salah satu ikhtiar Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an untuk menyediakan terjemahan Al-Qur’an yang mudah dipahami oleh masyarakat muslim Indonesia. Dalam sambutannya Kepala Lajnah Mushaf Al-Qur’an, Dr. Muchlis M Hanafi mengatakan,  tahap finishing merupakan tahap yang paling berat, sangat dibutuhkan ketelitian, kecermatan dan ketekunan baik tim pakar maupun tim sekretariat dalam membaca ulang dan mencermati terjemahan Al-Qur’an hasil revisi agar tidak ditemukan lagi kesalahan atau ketidaktepatan.  Pembacaan ulang tersebut mungkin tidak cukup sekali, namun harus berulangkali dilakukan.

Selain membahas hasil review tim, sidang ketiga ini juga menghadirkan narasumber dari pakar sains Prof. Dr. Thomas Djamaluddin. Beliau didapuk untuk membaca ulang terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait dengan sains seperti penciptaan alam semesta, laut, tumbuhan-tumbuhan dan lain-lain.  Menurut  kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ini, terjemahan Al-Qur’an hasil revisi lebih baik dan mudah dipahami bila dibandingkan dengan terjemahan edisi sebelumnya, khususnya dalam penerjemahan ayat-ayat sains. Salah satu contohnya adalah ketika mengartikan kalimat فسوىهن سبع سماوات dengan “Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit” (al-Baqarah/2: 29). Kata “menyempurnakan” bila dilihat dari perspektif sains sudah tepat.  Langit yang bermakna ruang di luar bumi dengan segala isinya (bulan, planet, komet, bintang, galaksi) yang jumlahnya tak berhingga (disimbolkan dengan ungkapan “tujuh langit” sesungguhnya terus berevolusi. Allah menyebutnya “menyempurnakannya”, karena prosesnya terus berlanjut. Banyak bintang yang mati, namun banyak juga bintang yang lahir.

Di akhir paparannya, Prof Thomas Djamaluddin menyampaikan bahwa revisi dan penyempurnakan terjemah Al-Qur’an merupakan sebuah keharusan karena bahasa akan selalu berkembang sama halnya dengan sains yang terus berkembang. Bisa jadi kata yang sekarang bisa dipahami 10 tahun ke depan sulit untuk dipahami. Kegiatan kajian dan pengembangan terjemah Al-Qur’an yang dilakukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an patut untuk diapresiasi. (ref)

Berita Terkait